Rabu, 01 Agustus 2012

Selamat Ulang Tahun!


Entah berapa banyak orang yang mengucapkan selamat ulang tahun setiap harinya, kepada seseorang yang menurut penanggalan telah bertambah usia setahun. Orang-orang yang berulang tahun hari ini, mungkin ratusan di kota ini, mungkin puluhan juta di negeri ini dan mungkin juga beratusan juta orang di dunia ini. Mereka adalah orang-orang yang bersuka ria terhadap apa yang mereka telah capai dan mempersiapkan diri untuk hal yang ingin dicapai di masa depan. Ada yang merayakan dengan berpesta pora ataupun secara sederhana hanya dengan permenungan.

Apakah urgensi dari perayaan hari ulang tahun?. Di sisi lain ada pendapat yang mengatakan umur tidak akan pernah bertambah namun sebaliknya umur akan selalu mengalami pengurangan. Sehingga bagi yang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya sedang merayakan berkurangnya umur setahun! Entahlah. Saya tidak mau masuk lebih dalam prihal di atas, terlalu filosofis yang justru akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. 

Justru sisi yang menarik adalah seberapakah korelasi antara umur dan kedewasaan. Sewaktu masih berseragam Sekolah Dasar saya pernah mendengar pembicaraan seorang remaja dengan seseorang yang lebih dewasa. Sepertinya percakapan antara seorang Om dengan keponakannya. Sang keponakan bertanya kepada omnya, apa yang dimaksud dengan kedewasaan?”, lalu sang Om hanya menjawab singkat: setelah seseorang menemukan jati dirinya. Kemudian keponakannya membalas dengan dahi yang mengerut, “seperti apa itu jati diri”, sang om hanya tertawa kecil, sementara sang keponakan lalu tersenyum dan tertewa dari ketidaktahuannya. Merekapun akhirnya berlalu, namun tanya jawab singkat itu membekas dalam benak saya hingga hari ini. Apakah itu jati diri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jati diri diartikan sebagai ciri-ciri, gambaran atau keadaan khusus seseorang. Selain itu diartikan juga sebagai inti, jiwa, semangat dan daya gerak dari dalam. Sedangkan dalam bahasa Inggris dipersamakan dengan identity, sehingga secara khusus dapat diartikan sebagai suatu kualitas yang menentukan suatu individu atau entitas untuk dapat diakui sebagai suatu pribadi yang berbeda dengan individu atau entitas yang lain. Masing-masing individu memilliki perbedaan dalam hal kualitas sehingga seseorang atau setiap orang itu sangat unik dan khas dalam melalui perjalanan kehidupan ini. Perbedaan inilah sebagai modal dalam menghadapi setiap permasalahan, karena setiap kelemahan atau kekurangan dapat ditutupi dengan kelebihan, atau sebaliknya kekurangan dapat mengimbangi kelebihan yang ada. Jati diri dibentuk dari proses yang terbilang panjang, merupakan hasil pemikiran pribadi masa lalu dan merupakan awal dari proses pemikiran masa depan. Dengan demikian kata jati diri yang sejak saya dengar puluhan tahun silam, sedikit saya mulai memahaminya.

Kedewasaan adalah ketika seseorang telah menemukan jati dirinya, benarkah demikian. Jadi bisa saja ada pendapat bahwa seseorang sudah berumur dalam fisik namun tidak dewasa dalam pikiran. Jati diri adalah meletakkan gagasan siapa saya. Sehingga jati diri lebih pada kemampuan seseorang untuk menentukan iya atau tidak, baik atau buruk, bagus atau tidak bagus terhadap seluruh dualisme kehidupan. Begitupun dalam kenyataan bahwa manusia harus punya basis ideologi yang kuat dalam melakukan tindakan dan tidak gamang atau ambigu. Sehingga mustahil juga seseorang benar-benar dawasa, namun seseorang dapat terus menuju kedewasaan. Kedewasaan bukan hanya dalam sisi yang materil namun juga pada sisi yang lebih tinggi, spriritualisme. Penemuan kedewasaan ketika dapat memahami tiga hal yaitu, dari mana kita berasal, sedang apa yang kita perbuat dan kelak kemana kita akan pergi atau kembali. Sehingga disinilah ketersediaan jawaban yang mutlak bukan lagi menghadirkan argumentasi yang relatif.

Saya masih mengingat seorang teman yang selalu berujar dalam setiap kesempatan, tua itu pasti tapi kalo dewasa itu pilihan!. Sejatinya pertambahan usia selalu diikuti dengan kedewasaan, seseorang semakin bijaksana dalam memahami hidup, lalu menemukan makna yang hakiki dari berbagai rona kehidupan, Semoga! (*)


Kupang, 01 Agustus 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;