Rabu, 19 September 2012

Sejumput Kenangan



Adalah kata-kata yang abadi kala penulisnya sudah berakhir!. Kiranya dalam sebuah perjalanan hidup ada momentum yang membuat seseorang lebih dewasa dalam berpikir atau sebaliknya, jauh lebih naif dalam jiwa yang kekanak-kanakan. Semua hanya dapat terdokumentasi jika tertulis dengan baik sebagai catatan. Dengan melihat kembali, mungkin serasa nelangsa dan terharu dari guratan jejak yang telah ditinggalkan. Kita akan lebih menghargai masa depan, jika dapat menyimpan catatan masa lalu. Memang catatan akan lebih berarti ketika telah melintasi waktu yang panjang.

Menjadi catatan kenangan!. Adalah meramu rasa dalam sebuah cawan imajiner yang mungkin diendapkan tanpa harus dituangkan. Atau menjahit keping-keping makna yang mungkin akan dilipat tanpa harus dibentangkan. Manusia ibarat kertas dan tinta, dan bila saatnya fana, maka tinta dan kertas itu akan selalu menjadi jiwa walau harus ikut terurai!


Sebuah narasi empiris!. Manusia memiliki kemampuan mengabadikan sesuatu dalam pikiran, mungkin itu yang dinamakan ingatan. Sesuatu bisa datang dengan silih berganti, berbekas atau raib sama sekali. Hanya yang sengaja ditanamkan yang kelak akan tumbuh, walau tak pernah selamanya dapat dipanen. Dari catatan impian hingga catatan pantai. Kata-kata memang bisa setajam pisau, namun kata-kata juga bisa lembut dan ringan, yang membuatnya bersayap hingga terbang!. Orang-orang yang telah menemukan titik perhentiannya, hampir selalu menyisahkan suara dibekukan dalam kata dan kalimat yang merupakan hasil goresan. Adalah lebih baik menyimpannya sekarang, karena dimasa yang akan datang, segalanya dapat dikatakan kembali walau harus terwakilkan….!

"Segala sesuatu yang perlu dikatakan telah dikatakan. Tapi karena tidak ada yang mendengarkan, segala sesuatu harus dikatakan lagi." (André Gide 1869-1951).

three years ago…!!!
Jakarta, 19 September 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;