Selasa, 18 September 2012

Chairul Tanjung, Si Anak Singkong


Akhir bulan kemarin saya berkunjung ke Gramedia Kota Kupang, tidak seperti biasanya di lantai dua tempat penjualan buku, begitu baru masuk telah tampak tumpukan buku yang sengaja ditampilkan paling depan. Buku itu tak lain dari Biografi Chairul Tanjung, Si Anak Singkong, buku yang memang lagi promo besar-besaran. Sambil lalu melihat sebentar, sayapun beranjak kedalam melihat beberapa buku lainnya. Di sela melihat-lihat buku, terdengar musik yang kemudian diisi dengan advertisement buku Si Anak Singkong, disuarakan oleh operator yang bertugas saat itu. Tak selang beberapa waktu diputar lagi iklan buku yang sama, namun kali ini adalah iklan yang sudah direcord sebelumnya dan tampaknya diperdengarkan di seluruh toko buku Gramedia se-Indonesia.

Hadirnya buku ini terkesan unik, terutama dalam hal pemasarannya. Sepengetahuan saya belum ada buku biografi yang dipasarkan dengan iklan yang berjibun. Seperti kontan beberapa kali iklan di layar televisi, yang ditayangkan di Trans Tv dan Trans 7. Kemudian lagi bahwa buku ini juga tersedia di Carrefour yang notabene adalah swalayan yang bukan spesialis dalam penjualan buku. Tak hanya itu di toko-toko buku online, buku ini tampil di baranda dengan predikat sebagai buku terlaris. Namun demikian masih ditambah lagi dengan bumbu pemasaran yaitu tentang kontroversial sang penulis buku antara sang penyusun dengan ghost writer-nya, menarik bukan!. Mungkin dengan strategi tersebut, membuat saya akhirnya membeli juga.

Dari rangkaian promosi besar-besaran dan kontroversial sang penulis, banyak yang mengkritik kehadiran buku ini. Simak saja beberapa tulisan di dunia maya berupa tanggapan terhadap buku ini dengan berbagai penilaian. Prespektif miringpun hadir dan seolah menjadi antipati. Soal bahwa buku ini lebih pada pencitraan ketimbang pada berbagi pengalaman, atau sesuatu yang lebih tergesa-gesa dibandingkan sesuatu yang dipersiapkan secara paripurna. Fenomena inilah yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk membeli atau membaca buku ini, atau tidak!


Namun ada baiknya bahwa buku ini harus dibaca terlebih dahulu. Dan setelah membacanya maka kita akan selalu mengambil kesimpulannya. Bahwa doa dan kerja keras akan bersinergi dan menghasilkan kegemilangan dalam hidup, bahkan bisa dibilang karya ini semacam oase terhadap pencapaian prestasi yang perlu dipelajari oleh generasi yang menginginkan perubahan. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita tidak perlu membuang ongkos terlalu banyak untuk mengikuti jejak orang lain yang telah sukses, dengan berbagai rintangan, semangat dan hasil. Sehingga bukan hanya hiruk-pikuk terbitnya buku yang lebih artifisial, namun seharusnya urgensi substansi yang perlu didalami. Walau di awal saya sempat dibinggungkan dengan maksud “anak singkong” yang nihil penjelasannya atau hanya prespektif saya pribadi saja. Namun akhirnya saya mengerti juga mengapa peran berbagai media dalam mempromosikan buku tersebut, yang adalah konsep terpadu dalam sebuah corporate resource, baik yang dimiliki sendiri olehnya atau berpatner dengan pihak lain.

Buku ini memang kotroversial, tetapi tidak selamanya kontoversial dalam hikmah….!

Jakarta, 18 September 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;