Minggu, 30 September 2012

Firman Lubis dan Kenangannya


Pekan lalu (23/09/2012) saya membaca berita tentang wafatnya Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. dr. Firman Lubis, MPH, beliau berpulang dalam usia 68 tahun. Seorang yang pakar dalam pengembangan kedokteran komunitas di Indonesia dan juga sekaligus sebagai seorang sejarahwan yang saya kagumi. Latar belakang kekaguman saya adalah buku-buku tentang sejarah sosial Kota Jakarta yang ditulis beliau, dan menurut saya unik karena menjadi sebuah bentuk penulisan autobiografi dengan genre berbeda, melalui pendekatan kontekstual kehidupan Ibu Kota Jakarta dan pengaruh konstelasi terhadap perkembangan nasional kala itu.

Sayapun merasa cukup kehilangan seorang tokoh yang trilogi buku dekade Jakarta –an nya, sangat saya gemari. Bahkan ia sempat mengutarakan di dalam buku terakhirnya untuk menulis lagi!, seperti Jakarta 80-an, Jakarta 90-an dan seterusnya. Sungguh menarik konsep penulisannya yang memisahkan secara dasawarsa perkembangan Ibu Kota Jakarta sebagai kota kelahirannya, tempat ia sepanjang masa, menjadi kota kebanggaannya dan kemudian menjadi kota tempatnya dimakamkan. Buku trilogi karyanya yang menjadi koleksi saya adalah Jakarta 1950-an: Kenangan Semasa Remaja, Jakarta 1960-an Kenangan Semasa Mahasiswa, dan Jakarta 1970-an Kenangan Sebagai Dosen
 
To tell a story, begitulah pendapatnya untuk bercerita mengurai Jakarta dari the big village hingga kota metropolitan, dari prespektif pengalaman pribadi masa kanak-kanak, masa sekolah di SR Cikini, SMP Cikini dan SMA Setia Budi hingga berkuliah di Fakultas Kedokteran UI, dalam rentang kehidupan remaja, mahasiswa hingga menjadi dosen. Selain buku-buku bertemakan sejarah beliau telah menghasilkan buku lain diantaranya, “Family Planning in Rural West Java, Universitas Indonesia-Leiden University (1977)”, “Indonesian Assesment: Population and Human Resources, Australian National Universities & Institute of Southeast Asian Studies (1997)”, dan “Two is Enough, Family Planning in Indonesia Under the New Order 1968-1998 (2003)”.


Masih banyak pengalaman beliau yang tentunya ditunggu pembaca setianya, seperti bagaimana ia melepas bujang dengan berkeluarga hingga menjadi professor dalam dekade-dekade berikutnya. Hal yang biasa dalam perjalanan seseorang, namun ketika penulisan dengan bertutur yang ringan, penuh romantisme pembelajaran serta kesan nostalgia, sehingga penulisannya begitu berbeda dan menjadi menarik. Apalagi latar belakang beliau sebagai seorang dokter medis yang mempunyai minat besar terhadap sejarah, sehingga ia dapat mengungkapkan sejarah kehidupan Jakarta dengan metode medical history yang lugas lalu menjadi sebuah kesaksian personal sebagai pelaku sejarah di Jakarta dan tentunya mempengaruhi konteks sejarah nasional.
 
Satu hal yang saya selalu ingat dari beliau adalah bahwa ternyata kenangan yang telah dilalui akan kembali diingat sempurna justru di masa senja. Katanya, “secara neurologis, daya ingat atau kenangan kita tentang hal-hal yang terjadi di masa lampau akan terus menguat setelah kita melewati usia 50-an.” Saya yakin bahwa buku keempatnya tematik sejarah sementara beliau proses, mengingat buku terakhirnya Jakarta 1970-an Kenangan Sebagai Dosen telah diterbitkan Januari 2010, sayang Allah SWT bermaksud lain, beliau telah wafat dengan kenangan tersisanya.

Suatu kali saya sempat melihat sebuah tayangan di salah satu televisi nasional, ketika beliau mengunjungi bekas sekolah SMPnya di Cikini. Sambil berbincang dengan beberapa murid yang sedang bercengkerama, ia mengatakan dengan nada memories bahwa ia pernah bersekolah di tempat tersebut. Itulah sejenak sebuah pengakuan akan eksistensi masa lalu yang terekam dalam pengalaman empiris bersahaja, yang kemudian dibawanya menjadi kenangan hidup semasa di dunia. Selamat jalan Prof. Firman….!!!

photo: http://aliansiremajaindependen.org

Kupang, 30 September 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;