Selasa, 12 Februari 2013

Maléna, kisah perempuan dengan kecantikannya!




Sejenak film ini terasa hanya mengedepankan sisi sensualitas, namun jika kita mengikuti alur ceritanya maka kita akan menemukan sebuah gambaran kehidupan yang menyentuh sisi terdalam dari manusia, hasrat, harga diri dan pilihan hidup. Film Eropa garapan Giussepe Tornatore ini menampilkan setting romansa yang diangkat dari sebuah kisah nyata di negerinya Mussolini, Italia. Kisah yang dinarasikan oleh Renato tentang masa lalunya, ketika mengalami masa pubertas. Alangkah baiknya jika film ini hanya ditonton bagi yang telah dewasa. 

Bermula di Kota Sisilia pada tahun 1940, sebelum terjadinya Perang Dunia II. Suami Malena, Nino Scordia, pergi bergabung dengan militer dan ikut berperang, ia kemudian dikabarkan tewas. Malena yang diperankan oleh Monica Bellucci, merasa sedih dan mencoba mengatasi kehilangan akan suaminya. Namun masalah muncul, karena kecantikan dan keanggunannya sebagai seorang janda. Seisi kota membicarakan dirinya dan perhatian selalu ditujukan kepadanya. Seorang diantaranya adalah anak berusia 12 tahun bernama Renato yang diperankan oleh Giuseppe Sulfaro. Sejak pertama kali melihatnya, Malena menjadi obsesi terdalam dari diri Renato walaupun ia menyadari adanya perbedaan usia. Ia merasakan Malena begitu dekat dengannya walau hanya dalam alam khayalan. Semua tingkah laku Renato, seolah merupakan bagian dari imajinasi dan hasil fantasi bersama dunianya Malena. 


Malena menjadi perempuan yang seolah terperangkap oleh kecantikannya sendiri, hingga tidak merasa bebas karena banyak yang selalu memantaunya. Dan semuanya berubah ketika kemiskinan akhirnya memaksa Malena menjadi pelacur, ia melayani tentara Jerman yang telah menduduki Italia dan menguasai kota. Namun setelah perang berakhir, masyarakat terkhususnya para perempuan dilingkungannya mempermalukannya di depan umum dari apa yang telah diperbuatnya. Banyak nilai masyarakat Eropa yang tergambarkan dalam film ini, tidak hanya melihat sebuah kehidupan dalam tataran bebas, namun ada kondisi dimana masyarakat menilainya itu tidak baik! 

Antiklimaks film ini dimulai ketika Nico Scordia, suami Malena yang telah dinyatakan tewas di medan perang, ternyata datang ke kota tersebut. Dia kerumahnya dan mencari Malena, namun tidak ditemukannya, tak seorangpun yang bersuara tentang apa yang terjadi dengan Malena. Justru Renato yang memberitahukannya apa yang terjadi melalui surat kaleng dan bahwa Melena tengah berada di Messina. Setahun kemudian Nino Scordia berhasil menemukan Malena dan membawanya kembali ke Kota Sisilia. Butuh keberanian untuk Malena kembali ke kotanya, tempat dimana ia pernah direndahkan, namun justru hal itu yang membuat masyarakat kembali menghargainya, sebagai seseorang telah memperbaiki diri dan melupakan kondisi sosial yang pernah menghakiminya. Malena masih dengan keanggunannya yakin meninggalkan masa lalu. Adapun wujud empati masyarakat yaitu menyapanya dengan sebutan "Nyonya Scordia".

Bagaimana dengan Renato, ia hanya punya sekali kesempatan untuk akhirnya bisa bertatapan dan berkomunikasi dengan pujaannya, di saat jeruk dari kantong belanjaan Malena terjatuh dan ia membantu mengumpulkanhya. Itulah akhir kisah dari Renato hingga bisa mengucapkan "Good Luck, Signora Malena", Malena pun mengangguk dan beranjak pergi. Film yang menusuk sisi humanisme tetapi kemudian dapat diakhiri dengan sebuah penghargaan terhadap manusia itu sendiri. Kecantikanlah yang membuat semua itu terjadi. Sehingga kita sepertinya perlu mendefenisikan ulang arti cinta, seks dan kesetiaan. 

Film ini membawa emosi penonton untuk memahami realitas dalam masyarakat, dengan konsekuensi tematik yang memiliki relevansi dengan kondisi kontemporer. Kisah ini ditutup dengan narasi Renato di masa dewasanya yang menyentuh "dari semua gadis yang pernah bertanya kepadaku, apakah aku akan mengingat mereka, satu-satunya yang kuingat adalah orang yang tidak pernah bertanya, Malena." (*)

Kupang, 12 Februari 2013
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;