Kamis, 28 Februari 2013

Pisang Epe di Pantai Losari




Jika ke Pantai Losari Kota Makassar serasa wajib untuk menikmati pisang epe, penganan khas di negeri anging mammiri ini. Pasalnya pisang epe adalah jajanan enak, manis dan gurih yang mudah ditemukan di Pantai Losari dan menjadi bagian dari wisata kuliner. Memang pisang epe adalah jajanan khas Makassar berbahan dasar pisang, selain es pallu butung dan es pisang ijo. Dalam bahasa lokal Makassar, kata epe memiliki arti jepit, dinamakan demikian karena prosesnya pembuatannya pisang di epek atau dijepit dengan alat pres yang terbuat dari dua papan kayu.
Keberadaan pisang epe tak bisa dilepaskan dari sejarah Pantai Losari itu sendiri. Penjual pisang epe di Losari telah ada sejak tahun 70-an, bersamaan dengan meningkatnya keramaian di Pantai Losari, padahal sebelumnya para pedagang dilarang berjualan di pantai. Bermula dari lima gerobak dorong, kini sudah ratusan gerobak dorong pisang epe yang bisa ditemui di pinggiran Pantai Losari. Bahkan dahulu Pantai Losari pernah dijuluki restoran pisang epe terpanjang di dunia.




Untuk membuat pisang epe tidaklah rumit. Bahan dasar dari jajanan pisang epe adalah pisang kepok yang sudah tua, dikupas dan dipanggang di atas bara api, sambil dibolak-balik sampai harum dan matang kecoklatan yang kemudian dipipihkan dengan dua papan kayu hingga gepeng dan lalu di bakar kembali. Timbul pertanyaan kenapa pisang ini harus dipipihkan, mungkin agar pisang lebih padat sehingga berasa lebih renyah dan legit. Sedangkan saus atau kuah untuk toppingnya terdiri dari campuran air, santan, gula merah dan daun pandan yang direbus ditambahkan garam dan sagu, lalu diaduk hingga merata, kental dan matang. Setelah itu dituangkan di atas pisang yang telah diletakkan di atas piring. 

Selain rasa original, dalam perkembanganya rasa pisang epe bertambah dengan tambahan coklat, susu kental, nangka, stroberi, irisan keju, taburan meisjes, kacang panggang atau kelapa sangrai diatasnya tergantung selera. Jika pada musim durian, maka pisang epe biasa ditambahkan juga campuran pasta durian sehingga pisang epe terasa lebih harum dan menarik bagi yang telah mencium aromanya. Dengan demikian perpaduan antara rasa pisang dan sausnya yang beragam, membuat penganan ini nikmat!




Satu kesan juga adalah bisa menikmati pisang epe hangat, sambil duduk dipinggiran Jalan Pengibur Pantai Losari menyaksikan matahari terbenam di sore hari. Di antara keramaian pantai, apalagi ditemani dengan nyanyian pengamen cilik, yang kadang lirik lagunya menyayat-nyayat hati. Sehingga kini Pantai Losari selain terkenal dengan keindahan panorama pantai juga dikenal sebagai ikon pusat pisang epe di Kota Makassar. Bahkan kisah pisang epe Pantai Losari ini menjadi kesan nostalgia yang telah didendangkan dalam lagu Anci Laricci yang femilier di telinga masyarakat Kota Makassar sejak tahun 90-an. Liriknya berbunyi, Jalang-jalangki di pantai losari / jangki lupa makan pisang epe / gula manisna pake duriang / enakna mamo bikin lupa utanga. Yah memang aroma dan lesatnya membuat yang menikmati bisa melupakan beban hidup seperti utang. Berikut tayangannya dengan panorama Pantai Losari sebelum reklamasi:




Pisang epe sudah menusantara, bahkan di beberapa daerah juga telah mengenal penganan jenis ini, seperti di Padang menyebutnya dengan pisang gepeng, Samarinda menyebutnya dengan pisang gapit, di Ambon dan Kupang menyebutnya dengan pisang gepe, bahkan di Jawa dan Bali lebih populer dengan istilah banana press. Demikian juga bahwa pisang epe sebagai traditional cake juga telah menjadi peganan modern yang disajikan dibeberapa restoran di Kota Makassar. Bukan hanya dinikmati oleh kalangan dari masyarakat SulSel saja, tetapi juga masyarakat luar daerah hingga banyak juga wisatawan manca negara yang mencoba dan mengemari  makanan khas ini.
Karena kuliner rakyat, harga pisang epe sangat terjangkau, yaitu bervariasi tergantung rasanya antara Rp. 5.000 hingga Rp. 8.000 rupiah per porsi yang berisi tiga buah pisang epe dan sudah dapat mengenyangkan perut. (*)

Catatan dari Makassar!
Kupang, 28 Februari 2013 
©daonlontar.blogspot.com

 
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;