Kamis, 26 Desember 2013

Kukila, sebuah kumpulan cerita


Sudah menjadi tradisi bila sebuah kumpulan tulisan yang dibukukan berupa feature, cerpen atau puisi, akan memilih salah satu judul tulisan untuk dijadikan judul buku. Hal ini tampak juga pada buku kumpulan cerpen karya M. Aan Mansyur, terbitan Gramedia Pustaka Utama tahun 2012, namun judul buku ini seperti tersamarkan oleh judul sedianya “Rahasia Pohon Rahasia”. Buku yang berjudul “Kukila” ini melengkapi beberapa buku sastra yang telah ditulis oleh penulis sebelumnya. Siapakah Kukila sesungguhnya sehingga menjadi hal khusus, karena dijadikan sebuah pembuka di sampul buku ini yang menyegera menjadi ikon.

Dari 16 cerpen dalam buku ini, tokoh Kukila muncul dalam empat cerpen, yaitu pertama Kukila sebagai seorang janda beranak tiga dalam cerpen Rahasia Pohon Rahasia, kedua Kukila sebagai seorang mantan pacar dalam cerpen Setengah Lusin Ciuman Pertama, ketiga Kukila sebagai sebagai seorang isteri dari suami mandul dalam cerpen Tiba-Tiba Aku Florentino Ariza dan keempat, Kukila sebagai seorang ibu dari dua anak dalam cerpen Tiga Surat Cinta yang Belum Terkirim, sebagai kukila yang sesungguhnya, perempuan yang tersimpan dalam memori dan menjadi jantung dari buku ini, seseorang yang menjadi berarti bagi penulis. 

Sebenarnya tokoh berpasangan yang tampak ingin ditonjolkan dalam karya ini adalah tokoh “Kukila” yang berarti burung dengan tokoh “Pilang” yang berarti pohon, asosiasi ini hingga tiga kali dimunculkan dalam tiga cerpen dengan penjelasananya. Begitupun dengan tambahan kesan alam seperti hutan, hijau dan hujan sebagai adverb atau keterangan. Demikian juga diwakili dengan sampul buku yang berwarna hijau tosca bergambar perempuan bersama pohon. Seolah buku ini bagian kamuflase dari sebuah surat yang tidak terkirim, yang sengaja diselipkan dalam buku kumpulan cerpen ini yang tersamarkan sedemikian juga judul buku yang tersamarkan.

Bagaimana sesunguhnya kedudukan perempuan dalam kehidupan seseorang yang tak bisa menyimpan segalanya secara beku dan cenderung mengekspresikannya secara cair. Menarik jika membandingkan dengan pendapat kaum bijak bahwa perempuanlah yang membuat lelaki menjadi pencipta yang produktif, dapat membuat lelaki menjadi seniman, penyair dan sastrawan. Sehingga bila seandainya perempuan dihapus dari segala yang berkaitan dengan dunia sastra, kita akan kehilangan begitu banyak apa yang selama ini kita nilai sebagai kekayaan sastra dunia. Karena para pencipta sastralah yang pandai menarasikan kesan dan keindahaan aktual perempuan yang semula disimpan dalam pikiran dan memori menjadi milestone yang dilihat oleh orang banyak.

Di sampul belakang buku ini seperti apa yang diungkapkan oleh Penyair Senior Joko Pinorbo, bahwa penulis memliki ciri khas yaitu menghadirkan misteri yang tidak diperkirakan pembaca diakhir cerpen-cerpennya. Memainkan emosi pembaca dengan tenang hingga menemukan makna dari cerita-ceritanya. Juga menariknya dalam kumpulan cerpen ini ketika penulis mengikuti mainstream sastra yang mengangkat hal-hal tabu dalam perbincangan sosial masyarakat yang masih menjunjung norma kesusilaan ke dalam sastra, seperti hubungan sesama jenis, perkara kemandulan, perselingkuhan hingga ciuman dewasa di masa belia, dan tentu menjadi genre sastra dengan cita rasa tersendiri.

Dalam buku ini juga sang penulis pandai menampilkan karakteristik lokal dalam penamaan orang dan tempat, menjadi sebuah era baru sastra tanah timur yang masuk dalam konteslasi sastra nasional. Sehingga tak jarang kita menemukan nama-nama dengan nuansa etnik dan lokus Sulawesi Selatan seperti nama-nama orang: Baso, Mare, Male, Sikki, Puang Satimang, Puang Mana dan lain-lain, serta nama tempat seperti Mabela (jauh), Macawe (dekat), Maccobo, Makassar, Bone hingga Unhas. Setelah membaca keseluruhan, tiga cerpen terbaik diantaranya “Lebaran Kali Ini Aku Pulang, “Hujan Deras Sekali” dan “Membunuh Mini”. 

Setiap perempuan punya kesempatan untuk berhubungan dengan lelaki pencipta, mereka meninggalkan kesan di hati. Namun ketika mereka pergi dan menyakitkan hati para seniman, penyair dan sastrawan maka mereka akan dikekalkan dalam karya. Demikianlah kurang lebih membedah sebuah kumpulan cerpen dalam buku ini dari prespektif, kepada siapa karya ini dipersembahkan. (*)

Kupang, 26 Desember 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;