Minggu, 18 Mei 2014

Road to SoE



Kesempatan kali ini, kita akan beranjak keluar kota Kupang melintasi jalan trans Pulau Timor. Tujuan kita adalah Kota SoE yang berjarak 110 km dari Kota Kupang. SoE sebagai salah satu kota di pedalaman pulau Timor ini adalah ibu kota dari Kabupaten Timor Tengah Selatan. Untuk sampai ke Kota SoE dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan, baik menggunakan mobil pribadi, travel, bus ataupun dengan sepeda motor. Jalan trans Timor yang kita akan lewati relatif baik, namun sejenak kita berpikir bagaimana keadaan jalan ini satu abad atau seratus tahun yang lalu. Tentu tidak seperti yang kita lihat dan nikmati hari ini! 

 Keadaan infrastruktur Jalan ke Kota SoE tahun 1927 (Sources: kitlv.nl)

  Sebuah mobil sedang dalam perjalanan menuju Kota Soe 1927 (Sources: kitlv.nl)

 Transportasi umum trans Timor masa lalu tahun 1950-an (sources: kupangklubhouse.com)

Sejak zaman kolonial, Kota SoE telah menjadi tempat pesanggrahan atau rumah peristirahatan dan juga penginapan bagi pejabat-pejabat Belanda di Timor. Berada diketinggian sekitar 1000 mdpl membuat Iklim Kota SoE dingin dan sejuk sehingga bersahabat dengan orang Eropa, tak jarang Kota SoE dijadikan tempat pertemuan penting di zaman kolonial. Dahulu tidak ada perlintasan jalan sebaik aspal seperti sekarang ini, apalagi jalan yang telah mengalami pengerasan. Yang ada hanyalah celah-celah sempit track untuk rute perjalanan kuda. Perjalanan dengan kuda menuju SoE bisa berhari-hari dan juga sangat tergantung keadaan iklim. Perjalanan bisa saja terhenti di musim penghujan, karena tak ada jembatan yang dibangun untuk menyeberangi sebuah sungai yang dinamakan Sungai Noelmina. Sungai Noelmina kala itu banyak memakan korban bagi yang nekad menyeberang dan kemudian terbawa arus deras. 

 Infrastruktur jalan & jembatan ke Kota SoE tahun 1927 (Sources: kitlv.nl)

 Infrastruktur jalan & jembatan ke Kota SoE tahun 2014

  Infrastruktur Jembatan Noelmina tahun 2014

Perintisan jalan menuju Kota SoE dimulai sejak zaman Residen Jacobus Arnoldus Hazaart dari Keresidenan Timor dan daerah taklukannya  (residentie Timor en Onder Hoorig Heden) yang berpusat di Kupang. Pada tahun 1816, beliau mengagas pembangunan jalan raya yang menghubungkan Kupang dengan Babau. Kemudian pada tahun 1917, setelah Pemerintah Belanda berhasil menaklukkan Sobe Sonbai III, pembangunan jalan ini dilanjutkan oleh Ir. Asmusen hingga ke Camplong. Pembangunan jalan terus dilanjutkan hingga ke Atapupu yang melewati Kota SoE, Kefamenanu dan Atambua. Pengerjaan pembangunan jalan trans Timor di Timor Barat (Dutch Timor) ini baru selesai pada tahun 1923, yang jelas begitu banyak mengunakan tenaga kerja rodi kaum pribumi Timor. Jalan yang dibangun saat itu tentu bukan jalan beraspal mulus tetapi serupa jalan makadam, jalan yang tersusun oleh batu-batuan kasar dan halus. Baru pada tahun 1960-an, atas Program Colombo (Colombo Plan), yang merupakan organisasi kolektif regional dalam memperkuat pembangunan sosial dan ekonomi negara anggota di Asia Pasifik, memberikan bantuan perbaikan jalan dengan memberikan pengerasan aspal. Hingga saat ini kualitas jalan raya trans Timor terus ditingkatkan kualitasnya, status jalan sebagai jalan negara atau jalan nasional yang merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibukota kabupaten dalam provinsi dan juga sebagai jalan strategis nasional.


 
 Keadaan infrastruktur jalan Kupang-SoE kini, tahun 2014

Tugu peringatan dilarang meminum miras untuk para pengemudi, sudah ada sejak tahun 1990-an sebagai rambu jalan Kupang-soE

Setelah selesai dibangunnya jalan dari Kupang ke Atapupu tahun 1923. Kota-kota baru seperti SoE, Kefamenanu dan Atambua mengalami perkembangan menganti kota-kota sebelumnya yaitu Noeltoko, Kapan dan Atapupu. Para pedagang Cina, Eropa dan Arab mulai menetap di kota. Namun jalan-jalan yang dibangun belum sebaik sekarang, sehingga memiliki kendaraan tentu akan berdampak pada biaya perawatan yang sangat tinggi. Sampai tahun 1930, hanya terdapat 80 kendaraan bermotor yang beroperasi di Timor Barat dan setengahnya adalah truk milik para pedagang Cina. Perkembangan pada tahun 1940-an sudah mulai muncul beberapa kendaraan transportasi umum yang menghubungkan Kupang-Atambua (Atapupu), diantaranya adalah kendaraan bis seperti pada gambar, yang bernama Timor Tiger, yang sempat beroperasi antara tahun 1950-an hingga tahun 1960-an dan setelah itu di tahun 1970-an, sudah banyak bermunculan kendaraan sejenis Cold diesel dan Toyota.


Lanskap daratan Timor

Terdapat kurang lebih lima puluhan jembatan baik kecil, sedang maupun besar yang menghubungkan Kota Kupang dengan Kota SoE. Salah satu Jembatan yang terkenal adalah Jembatan Noelmina, jembatan yang terletak di kilometer 77 ini adalah jembatan terpanjang di daratan Timor Barat yang memisahkan dua wilayah yaitu Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Dahulu jembatan ini dibangun pertama kali oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1910-an dan selesai sekitar tahun 1920-an. Pada masa pendudukan Jepang, jembatan ini pernah di hancurkan oleh serangan Angkatan Udara Australia  (RAAF) pada Februari 1944 dengan maksud memutuskan distribusi logistik militer Jepang di pedalaman Timor. Kondisi jembatan saat ini adalah yang ketiga kalinya dibangun kembali, yang terakhir adalah di tahun 1987 dibangunnya Jembatan Noelmina yang baru dengan menggunakan konstruksi baja (steel truss bridge), hingga selesai di bangun pada tahun 1989 dan kemudian diresmikan tepat pada tanggal 14 Maret 1990, oleh Wakil Presiden Republik Indonesia Sudarmono, SH kala itu. 

 Gapura selamat datang di kota SoE

 Welcome to SoE

Kota SoE yang terletak dipengunungan, membuat perjalanan yang ditempuh mendaki dan berkelok-kelok. Namun itu semua terbalaskan dengan kesempatan menikmati lanskap pemandangan Pulau Timor. Namun sayang kurang tersedianya scenic look out  atau spot yang disediakan untuk mengamati pemandangan. Padahal pemandangan pengunungan, padang stepa dan sabana dapat dinikmati dalam perjalanan. Sesampainya di Kota SoE kita masih bisa melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi wisata di dalam kota dan sedikit keluar kota, enjoy your trip! (*)

Kupang, 18 Mei 2014
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;