Selasa, 14 Oktober 2014

Donald P. Tick, Sejarawan Pemerhati Kerajaan-Kerajaan Nusa Tenggara Timur

Tokoh yang satu ini telah berkecimpung dalam penelitian tentang kerajaaan-kerajaan di Indonesia selama 30 tahun. Beliau telah membentuk Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia (PUSAKA) bermarkas di Vlaardingen (Belanda). Ia melakukan upaya besar untuk meneliti sejarah dan para pewaris dari kerajaan-kerajaan di Indonesia dengan kondisi kekiniannya. Dan saat ini Beliau sedang menekuni penyusunan ensiklopedia seluruh kerajaan di Nusantara. Harapannya adalah tetap menjaga ketersediaan informasi dari kurang lebih 300  kerajaan di tanah air dengan segala pendokumentasiannya. Dalam proses ini Beliau telah melakukan kunjungan ke berbagai kerajaan, serta mengunjungi para raja dan sultan di daerah-daerah tertentu di Indonesia untuk melakukan penelitian terkait sejarah mereka. Dengan demikian dapat terkumpulnya berbagai informasi lengkap tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Hal ini juga melibatkan keterkaitan dengan sumber-sumber dari banyak orang yang saling terhubung dengan sejarah kerajaan. Karena bagaimanapun sejarah sebuah kerajaan memilki kepentingan yang luas bagi lapisan masyarakat dalam mengukuhkan kearifan di masa lalu. Sumber-sumber yang ada seperti dokumentasi foto lama dan kini, serta sumber-sumber tertulis lainnya. Mengingat selama ini banyak sumber-sumber tentang sejarah sebuah kerajaan, hanya tersimpan rapi di negeri Belanda, dan hasrat dari sejarawan ini adalah membawa kembali sejarah kerajaan masa lalu ke tempat di mana sejarah itu berasal.

Pendapatnya adalah bahwa dengan kembalinya berbagai informasi yang hilang ini menjadi upaya untuk saling belajar lagi dalam mengembangkan sejarah ke depan. Karena akan selalu ada pertanyaan-pertanyaan dari sebuah sejarah linear, yang masih harus diselidiki lagi. Bersama rekannya Dr. Hans Hagerdal dari Swedia (Penulis Buku Lord Lords of the Land, Lords of the Sea: Conflict and Adaptation in Early Colonial Timor, 1600-1800; 2012), telah menulis sejumlah publikasi tentang kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Timur. Harapannya agar semakin banyak lagi buku-buku sejarah tentang raja-raja di Nusa Tenggara Timur. Kini salah satu konsentrasinya adalah bagaimana agar tokoh pejuang Sobe Sonbai III bisa menjadi salah satu Pahlawan Nasional dari Timor dan Nusa Tenggara Timur. Ia bahkan sangat berharap dan berusaha untuk benar-benar menjadikan Sobe Sonbai III sebagai raja di Timor yang merupakan tokoh perjuangan di garis depan yang frontal menghadapi kekuasaan kolonial. Karena Ia berkeyakinan bahwa Liurai Sobe Sonbai III adalah tokoh yang gigih melawan penjajah Belanda dan tidak pernah menyerah berjuang sepanjang hidupnya. 

Donald P. Tick di ruang kerjanya - Vlaardingen 

Usaha yang telah dilakukannya adalah mengunjungi pimpinan Kerajaan/Dinasti Liurai Sonbai Besar saat ini yaitu Willem Henrick Cornelis Sonbai di Kauniki - Timor, dan mendapatkan persetujuan untuk bisa mengajukan Sobe Sonbai III ke pemerintah pusat menjadi pahlawan nasional, bahkan yang pertama untuk NTT bagi pejuang sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Hal serupa juga didukung oleh berbagai raja-raja di daratan Timor yang sempat ditemuinya, dalam mewujudkan salah satu tokoh dari Timor menjadi pahlawan nasional. Upaya ini juga sudah didukung oleh Pemerintah Nusa Tenggara Timur, namun belum terlihat upaya apa yang benar-benar telah dilakukan pemerintah saat ini.

Walau mengaku memiliki darah campuran asal Jawa, Yahudi, Belanda dan Jerman. Namun sepertinya, sebagian jiwanya ada di Timor dan Nusa Tenggara Timur. Ini dilihat dari penampilan dan kostumnya yang etnik. Ia punya kecintaan dan ketertarikan yang besar untuk Timor. Salah satunya telah menjadi anggota dari Royal Court of Kupang oleh Usif Leopold Isu Nisnoni sejak tahun 2003 lalu. Sehingga tokoh ini sudah dikenal luas, terutama oleh para pewaris kerajaan-kerajaan di Timor, seperti Fettor Esthon Foenay dari Kupang hingga Raja Don Kusa Banunaek dari Amanatun di SoE. Dengan menjalin persahabatan dengan para raja-raja di Timor, maka dapat saling menukar dokumentasi dan informasi tentang kerajaan masing-masing. Saat ini beliau menetap di Kota Vlaardingen, South Holland – Belanda. Para pembaca yang memiliki informasi dan bisa melakukan kerjasama dalam hal publikasi sumber-sumber penulisan sejarah kerajaan-kerajaan lokal, terutama di Timor dan Nusa Tenggara Timur selalu bisa menghubunginya, untuk berbagai pertanyaan serta komentar melalui email miliknya: pusaka.tick@kpnmail.nl dan http://kerajaan-indonesia.blogspot.com/ atau http://www.royaltimor.com. (*)



Kupang, 14 Oktober 2014
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;