Minggu, 19 Oktober 2014

Sepuluh Tahun Bersama Telkomsel



Saya masih ingat di siang itu tanggal 19 Oktober 2004, ketika saya singgah membeli kartu perdana AS Telkomsel di kios mini yang berada di Pintu II Universitas Hasanuddin Makassar (kini sudah dipugar!). Tanpa basa-basi dan tanpa memilih nomer cantik, akhirnya nomer yang diberikan penjual itu menjadi nomer yang telah saya gunakan sepuluh tahun terakhir ini. Mungkin karena begitu masifnya iklan kartu As kala itu, jika dibandingkan dengan operator lainnya, apalagi iklan kartu As waktu itu menawarkan yang paling murah. Sehingga akhirnya saya memilih Kartu As. Dan hari itu menjadi awal saya menggunakan media ponsel untuk pertama kalinya.

Untuk tahun tersebut saya masih dikategorikan terlambat untuk memiliki ponsel, di saat teman-teman di kampus sudah ramai menggunakannya. Semua tentu punya alasan untuk mulai menggunakan ponsel, seperti untuk komunikasi yang lebih baik dengan keluarga, teman dan pacar. Sebagai mahasiswa dengan uang saku terbatas saat itu, memiliki ponsel merupakan hal istimewa. Kalau bukan alasan pekerjaan mengajar sebagai tentor pada salah satu lembaga bimbel di Makassar, maka saya mungkin belum memutuskan menggunakan ponsel. Karena bagaimanapun dalam melaksanakan tugas membutuhkan komunikasi yang lancar, dengan hanya mengandalkan telepon rumah kosan tentu tidak praktis. Akhirnya saya mengawali dengan menggunakan ponsel second. Dalam menggunakan ganget ponsel, saya belum terpengaruh dengan berbagai penawaran ponsel, mungkin masih disesuaikan dengan kocek!. 

Saya menggunakan ponsel pertama dan kedua adalah ponsel bekas atau ponsel second, yang saat ini sudah sangat jadul. Namun anehnya harga ponsel second saat itu masih mahal, sedangkan dengan harga yang sama saat ini dapat membeli ponsel yang sudah canggih. Saya hanya memanfatkan fungsional minim dari sebuah ponsel yaitu bisa memanggil dan menerima suara dan pesan, selebihnya belum merupakan sesuatu yang bermanfaat. Apalagi dengan munculnya smartphone, yang bagi saya belum menjadi kebutuhan, karena fungsi multitasking ponsel pintar masih lebih baik jika dilakukan dengan gadget lain yaitu laptop.



Sementara itu untuk operator yang saya gunakan sedari awal adalah Telkomsel. Sebagai sebuah perusahaan besar di bidang telekomunikasi, Telkomsel hampir tak bermasalah dengan kompetitornya secara frontal. Karena begitu menguasai seluruh kepulauan Indonesia dan merajai pasar telekomunikasi nasional. Namun sayangnya dalam sepuluh tahun ini, saya hanya sekali saja menerima ucapan terima kasih telah menjadi pelanggan setia Telkomsel melalui SMS, dan selebihnya tak ada. Memang pada beberapa aspek Telkomsel memanjakan penggunanya dengan bonus-bonus, tetapi pelanggan tidak hanya membutuhkan hal itu saja, masih ada aspek emosional yang perlu diperhatikan seperti peningkatan kualitas dan kepedulian. Di saat perusahaan-perusahaan global begitu care dengan semua pelanggannya yang setia secara individu, rupanya Telkomsel belum memaksimalkan aset pelanggan ini, apa mungkin karena pelanggan sudah menembus angka maksimal, sehingga seorang pelanggan seperti tak diperhatikan di antara jutaan pelanggan yang telah dilayani. Bandingkan dengan beberapa perusahaan global yang begitu menunjukan perhatian yang besar terhadap pelanggan setianya dari mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, memberikan sertifikat kepada pelanggan setia, melakukan survey untuk menghasilkan fitur yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan hingga mengidentifikasi keluhan pelannggan dalam peningkatan kualitas dan performance produk. 

Sejak membeli kartu perdana pertama sepuluh tahun lalu, saya hanya menggunakan 4 ponsel yaitu Nokia 8210 dari 19 Oktober 2004 hingga 02 Desember 2004 ( 0 Tahun, 1 Bulan, 13 Hari), Nokia 5210 dari 03 Desember 2004 hingga 08 April 2007 (2 Tahun, 4 Bulan, 5 hari), Sony Ericsson K320i dari 09 April 2007 hingga 09 Januari 2012 (4 tahun, 9 Bulan, 0 Hari) dan Nokia E63 dari 10 Januari 2012 hingga saat ini 19 Oktober 2014 (2 Tahun, 9 Bulan, 9 Hari). Jadi saya hanyalah orang yang lebih memikirkan fungsionalnya saja tanpa perlu gadget yang begitu banyak menawarkan berbagai fungsi tetapi dalam realitasnya jarang digunakan. Dari 4 ponsel di atas, saya mungkin sudah mengirim dan menerima ratusan ribu pesan teks, serta ratusan jam memanggil dan menerima panggilan suara, demikian juga dengan beberapa gigabyte data transfer untuk internet.

Hingga kini saya sudah empat kali mengganti ponsel, dan sejak awal belum pernah mengganti nomer. Walau memang pernah ada juga keinginan untuk mengganti nomer, namun sebagai sebuah pilihan sejak awal susah untuk mengantikannya dengan nomer yang lain!. (*)

Kupang, 19 Oktober 2014
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;