Sabtu, 04 Juli 2015

Polisi Sampah


Latar belakang novel ini bercerita tentang petualangan Simonov Sinesky bersama Malaikat Jibrael mengunjungi sebuah institusi kepolisian di negeri tak bernama. Kisah novel ini menguak perbuatan polisi-polisi di negeri antah berantah yang tak lagi memiliki nilai-nilai kebenaran, kejujuran dan keadilan, dimana sudah banyak oknum kepolisian yang telah bersekutu dengan pelaku kejahatan. Simon Sinesky bersama tokoh imajiner yang diwakili sebagai Malaikat Jibril datang menginvestigasi dan melakukan penyelidikan terhadap polisi-polisi di suatu negeri antah berantah. Dimulai dari polisi berpangkat rendah brigadir hingga perwira tinggi jenderal. Investigasi ini dilakukan berdasarkan buku dosa yang telah dicatat, karena bagaimanapun sebagai mahluk beriman segala amal kebaikan beserta dosa-dosa sudah dicatat untuk dipertangungjawabkan di kemudian hari.

Dengan melihat substansi novel yang membongkar kejahatan dari sarang institusi yang seharusnya membasmi kejahatan, maka tak heran di halaman-halaman awal, penulis dengan nada satir, mendedikasikan novel ini untuk para pembela kejahatan yang telah mati berkalang tanah. Kasus-kasus seperti pemerasan, penyuapan, becking, mafia judi, dan lain sebagainya, menjadi sasaran kejahatan yang bisa dilakukan oleh aparat, sehingga muncul stigma polisi sampah, yang kemudian dijadikan sebagai judul novel ini. Kasus-kasus ini bukan hanya terjadi di masyarakat umum yang melibatkan polisi tetapi juga di internal kepolisian dari penerimaan, kenaikan pangkat hingga mutasi yang banyak menyalahi aturan. Kejahatan begitu terlembaga dengan memperlihatkan struktur kejahatan yang bertingkat-tingkat dari bawahan hingga atasan, dari unit di wilayah terpencil hingga kantor pusat di tengah kota, dari bentuk kejahatan pemerasan kecil-kecilan hingga besar-besaran. Jika di pengadilan ada idiom, “menang jadi arang, kalah jadi abu, maka dikisah ini pelayanan kepolisian dipersamakan dengan melaporkan kehilangan satu ekor ternak, maka sebenarnya akan mengalami lebih banyak kehilangan ternak lagi.

Investigasi yang dilakukan Malaikat Jibrael bersama Simonov Sinesky tergambar dalam bab-bab novel ini yang memperlihatkan intrik, fitnah dan manipulasi yang dilakukan oleh: 1) Brigadir David Lemonde (Bagian Direktorat Penyidikan Kriminal); 2) Komisaris Gortez Pikos (Kepala Biro Pemindahan Personil); 3) Komisaris Heindrich Murthony (Direktur Penyidikan Umum); 4) Komisaris Thimoty Troven (Direktur Penyidikan Khusus); 5) Ajun Komisaris Andrea Zogero (Wakil Direktur Penyidikan Umum); 6) Ajun Komisaris Antonio Lilipo (kepala Unit Pidana Umum); 7) Ajun Komisaris Bondero Compos (Wakil Direktur Polisi Penjaga Wilayah Perbatasan); dan 8) Ajun Komisaris Marco Tuvigor. Dalam investigasi ini juga dimunculkan tokoh Simone Derbone yang merupakan karakter protogonis sebagai polisi sesungguhnya, memberikan citra positif,  berhati mulia dan siap melawan kejahatan.

Novel yang berani membuka tabiat buruk para polisi, walau sedianya tidak semua polisi bermoral bejat, sehingga sepatutnya apa yang disebutkan adalah oknum. Walau terkesan terlembaga, tetapi masih ada polisi-polisi jujur yang berani melawan mainstream. Seperti yang dikatakan penulis bahwa jumlah perwira baik lebih sedikit dari jumlah perwira kotor. Bahkan disebutkan bahwa karakter sesungguhnya seorang polisi bisa dilihat setelah empat tahun masa berdinas. Begitu tamat pendidikan ia layaknya seperti sebuah kertas tabularasa yang akan mengarahkannya menjadi seorang polisi bersih atau polisi sampah. Dua tahun masa selepas pendidikan, adalah masa idealisme dengan membawa nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran. Namun bagaimana nilai-nilai itu dipertahankan, menjadi tanda tanya kemudian.

Dibutuhkan keberanian untuk mengangkat tabir, untuk kita lebih waspada, bukan dengan orang lain tetapi pada diri kita sendiri. Tidak menutup kemungkinan negeri antah berantah itu adalah negeri kita sendiri, karena bagaimanapun novel adalah ruang sastra yang bisa menyandingkan dunia fiksi dan fakta dalam dua sisi mata logam yang sama. Sebenarnya bukan hanya di lembaga pemberantasan kejahatan, hal ini juga bisa terjadi di instansi pemerintah sipil lainnya, yang berbeda hanya bungkusan artifisial sedangkan secara substansinya sama saja. Adapun nama orang dan tempat di negeri anta berantah dalam novel ini memakai nama-nama yang berbau Latin dan Eropa Timur.

Novel yang banyak mengurai tentang institusi kepolisian ini, memang lebih afdol ditulis oleh seorang polisi juga, karena lebih memahami seluk beluk kinerja kepolisian. Aiptu Simon Junion Buang Sine adalah dibalik lahirnya novel ini, sudah dikenal sebagai polisi yang penulis, penulis yang polisi. Anggota Dit Sabhara Polda Nusa Tenggara Timur ini sudah terlebih dahulu dikenal dengan rubriknya di harian lokal, seperti seri karikatur “Dialog santai To’o mahatahu deng Ama tukang batanya”, dan seri feature“Wawancara Detektif Otak Miring dengan Bung Pena” di dua harian berbeda. Sebelum hadirnya buku novel “Polisi Sampah” setebal 300 halaman, terbitan Smart WR Yogyakarta cetakan Pertama tahun 2015 ini, dari tangan dingin sudah terbit dua novel yaitu Dua Malam Bersama Lucifer (2012) dan Petualangan Bersama Malaikat Jibrael (2013), novel yang bukan saja merambah pasar nasional tetapi juga telah menembus pasar internasional dengan label bestseller. Sementara ini tengah menyelesaikan novel “Israel”, yang melengkapi tetralogi buku karyanya. Selain menulis, polisi penulis ini aktif juga di dunia sosmed dan sementara ini menekuni jasa detektif swasta spesialis kasus-kasus pembunuhan.

Dengan menggunakan judul dan sampul provokatif yang mengundang perdebatan berbagai kalangan. Penulis ini sejatinya telah menjalankan teknik pemasaran yang brilian, memilih tema novel yang sensitif hingga muncul di saat yang tepat dan bahkan pemesan buku khusus di Kota Kupang, bisa diantar sendiri oleh penulis ke alamat pemesan, jadi bisa bertemu secara langsung dengan penulis, di kesempatan itu kita bisa berdiskusi dengannya, meminta book signing dan bahkan bisa ber-selfie dengan sang penulis. (*)
         
         
Kupang, 04 Juli 2015
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;