Kamis, 25 Juni 2015

Merayakan Ultah di Usia 33 Tahun



Waktu itu berjalan tanpa kaki, menunjuk tanpa jari, berputar tanpa pinggang dan berdetak tanpa denyut nadi. Waktu dapat membuat apapun di dunia ini menjadi uzur, rapuh dan luruh, demikian juga dengan manusia. Sebagai salah satu entitas penting di alam semesta ini, umat manusia memiliki relasi dengan waktu yang tak dapat dipisahkan. Sayangnya, waktu selalu bersama manusia, tetapi manusia tak selamanya bersama dengan waktu. Sedikit mengingat kembali apa yang telah saya lalui selama 33 tahun ini. Dimulai dari 5 tahun pertama yang dilalui sebagai anak kecil dengan berbagai permainannya, 12 tahun bersekolah dasar dan menengah dengan berbagai pelajarannya, 5 tahun di sekolah tinggi dengan berbagai kisahnya, 3 tahun istirahat sebagai freelancer dengan berbagai pencariannya dan 8 tahun bekerja sebagai pegawai negeri dengan berbagai pekerjaannya.

Mencapai usia 33 tahun ini sudah merupakan hadiah besar, karena banyak juga manusia yang tak pernah hidup sampai di umur 33 tahun. Sebelum mencapai usia tersebut, banyak yang telah meninggal karena berbagai sebab. Mencapai usia 33 tahun, ibaratnya telah menjalani setengah dari umur manusia dengan asumsi 66 tahun Usia Harapan Hidup (UHH) rata-rata manusia Indonesia. Atau juga telah menjalani sepertiga umur, jika asumsi umur 100 tahun adalah usia maksimal yang dimiliki manusia bila terus diberikan semangat dan kesehatan yang prima oleh Tuhan.

Konon menurut survey di usia 33 tahun lah, seseorang telah memasuki masa yang paling sibuk dalam hidupnya, ketika dituntut untuk menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, hobby dan aktivitas sosial lainnya, sehingga membutuhkan waktu yang lebih banyak dibandingan pada usia sebelumnya. Bahkan karena sibuknya, banyak orang di usia ini mengurangi jam tidurnya untuk lebih banyak digunakan beraktifitas. Sumber penelitian lainnya, menyebutkan bahwa di usia 33 tahun seseorang lebih merasakan kebahagiaan, telah terlepas dari romantisme masa kanak-kanak, teredamnya emosional masa remaja yang liar dan nakal, namun sebaliknya energi hidup semakin menemukan tracknya, sehingga usia 33 tahun dianggap sebagai umur dengan angka ajaib.

Namun yang menariknya di usia 33 tahun ini, adalah bahwa umur 33 tahun adalah usia abadi manusia di surga. Menurut sumber hadis disebutkan bahwa penghuni surga adalah mereka-mereka yang berusia 33 tahun. Di surga tak ada bayi, anak-anak, remaja atau orang yang sudah uzur tetapi mereka semua dibangkitkan dalam keadaan muda dan berumur 33 tahun. Berusia 33 tahun dianggap sebagai usia kesempurnaan, karena di masa usia tersebut, manusia berada di puncak kematangan, kesempurnaan hidup sehingga bisa menikmati keindahan surga yang dijanjikan. Kita akan bertemu dengan leluhur hingga turunan anak cucu kita dalam keadaan mudanya, sekali lagi di usia 33 tahun!

Di usia 33 tahun ini, terhitung 7 tahun lagi menuju usia 40 tahun, kiranya saya bisa memanfaatkan waktu terbaik sebelum mencapai umur 40 tahun. Karena menurut kata orang-orang di usia 40 tahun lah, hidup sesungguhnya baru di mulai (life is begins at forty), karena di saat itu, semua orang sudah di anggap mapan dalam hidup. (*)

Tak ada lilin, tak ada kue, tak ada tumpeng,
tetapi cukup merayakan ulang tahun dengan sebuah tulisan bersama isteri.

Kupang, 8 Ramadhan 1436 / 25 Juni 2015
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;