Jumat, 17 Juli 2015

Khotbah Sastrawi



Sebagai muslim kita sudah terbiasa mendengar khotbah di hampir setiap jumatan, tarawih atau hari raya. Namun pertanyaannya, apakah semua khotbah itu memberikan pengaruh pada sanubari kita sebagai pendengar. Sebagai jamaah sholat, kita punya ribuan kali pengalaman mendengarkan ceramah khotbah dari para khatib, dan ribuan kali juga kita mempunyai kesempatan untuk menilai apakah ceramah itu berkesan atau tidak. Tak jarang sebagai jamaah kita tak menangkap sepatah katapun yang diucapkan khatib. Begitu banyak hal yang masuk dalam pikiran kita dan menganggu, sehingga tubuh kita berada di mesjid namun jiwa kita seolah terbang ke permasalahan hidup yang belum terselesaikan di luar sana. Ibarat masuk telinga kiri keluar lagi telinga kanan. Kadang banyak jamaah yang tertidur karena ceramah khatib yang dingin, sehingga muncul penilaian bahwa sesi ceramah hanya membuang waktu para jamaah yang telah rela meninggalkan kesibukannya. Padahal sesungguhnya khotbah adalah syarat sahnya solat jumatan dan pelengkap ibadah solat lainnya, bahkan ada yang menilai jika jamaah tidak mendengarkan khotbah dengan baik akan dianggap kelalaian dan bisa diganjar dosa.

Justru seharusnya khotbah dapat menenangkan jiwa dan pikiran sejenak yang terusik dari berbagai urusan keduniaan. Maka sebagai jamaah, ceramah adalah salah satu wahana yang bisa menentramkan jiwa kita, ibarat gelas kosong yang diisi dengan air yang sejuk. Khotbah sebagai siraman ruhani terhadap jasmani kita yang lemah dan selalu membawa kita pada pencerahan. Namun tak semua khatib, memiliki kepandaian menerjemahkan retorika dalam khotbah atau dapat membawakan khotbah secara retoris, sehingga secara persuasif dapat mengajak jemaah menuju jalan kebaikan. Hakikat dan substansi khotbah seharusnya bisa diresapi oleh setiap jemaah. Banyak khatib yang membawakan khotbah dengan datar dan seadanya, hingga patut menjadi catatan bagi para khatib untuk bisa meningkatkan kualitas ceramah yang akan dibawakan. Ceramah khotbah tidak dimaksudkan untuk mengisi waktu tetapi menggenapi rukun dalam rangka meningkatkan kualitas iman.

Berbeda dengan talkshow berisikan ceramah keagamaan di banyak televisi nasional yang memungkinkan komunikasi dua arah, maka khotbah hanyalah komunikasi satu arah antara satu orang pembicara dengan jamaah yang banyak. Khotbah bukanlah laporan sidang yang dapat diinterupsi, tetapi khotbah dalam tradisi Islam adalah sebagaimana yang kita lihat hingga hari ini merupakan komunikasi satu arah. Layaknya sebuah arahan yang diikuti, didengar dan diresapi dan tentunya bukan sebuah taklid buta semata. Khotbah harusnya berisi substansi yang universal memperlihatkan hamblun minallah hamblun minnaas, hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Karena pakem satu arah itu, khotbah menjadi sarana menesehati, bukan dialog untuk menghasilkan perdebatan. Begitu spesifiknya khotbah, sehingga para khatib, isi khotbah dan cara penyampaian dapat menjadi perhatian untuk terus di telaah.

Kali ini di sholat idul fitri saya menemukan sosok khatib yang pandai membawakan ceramah, sehingga saya sebagai jamaah tak pernah membuang pikiran ke tempat lain dan hanya tertuju ke isi pidato yang dibawakannya. Terlepas dari khatib yang berlatar belakang militer dengan pangkat mayor, suaranya tegas, padat dengan substansi khotbah yang dikemas dalam bahasa sastrawi. Menggunakan analogi dengan berbagai kiasannya, membuat jiwa pendengar terasa tergerak untuk melakukan perubahan dengan berusaha berbuat baik dan meninggalkan yang jahat atau buruk. Bahasanya begitu membekas, sarat dengan nilai-nila yang ditinjau dari berbagai aspek seperti antropologi, sosialogi hingga aspek ekonomi. Khotbah yang memaparkan struktur permaslahaan umat kekinian hingga solusi kehidupan umat yang lebih baik. Isi khotbah yang dipersiapkan, ditulis dengan kedalaman intelektual dan pilihan bahasa yang agung. Seolah kita berada di antara massa yang besar sedang mendengarkan arahan dari orang yang disegani dan dipatuhi.

Khotbah memiliki peran penting dalam ibadah, dengan khotbah keimanan dan ukuwah dapat terwujud, dan bahkan saya berpikir, khotbah dapat dijadikan sebagai bahan kajian ilmiah. Karena menurut saya belum ada kajian empiris yang menghubungkan khotbah dengan pembentukan keimanan umat dalam tataran ritus hingga sosialogis. Terutama untuk khotbah-khotbah yang menyejukkan jiwa, khotbah yang sastrawi!. (*)


Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir dan bathin
Kupang, 1 Syahwal 1436 H / 17 Juli 2015 M
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;