Jumat, 21 April 2017

Kota Labuan Bajo Hari ini

Pelabuhan Labuan Bajo tahun 2017
Untuk kedua kalinya saya tiba lagi di Kota Labuan Bajo, pertama kali berkunjung di bulan Oktober 2010, hampir 7 tahun kemudian baru kembali menapaki lantai Kota Labuan Bajo. Salah satu kota yang diprediksi akan berkembang signifikan dibandingkan dengan ibu kota kabupaten lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahkan tidak menutup kemungkinan dari adanya polemik penentuan ibu kota bagi calon Provinsi Flores Raya antara Kota Maumere, Kota Ende dan Kota Mbay, maka Kota Labuan Bajo menjadi alternatif terakhir menjadi ibu kota bagi calon Provinsi Flores Raya, dengan memperhatikan kondisi kekinian dan letaknya lebih dekat dengan ibu kota negara di sebelah baratnya. Walaupun untuk saat ini berdasarkan penetapan pemerintah pusat, Kabupaten Manggarai Barat masih merupakan daerah tertinggal, parameter daerah ditetapkan sebagai daerah tertinggal berdasarkan kriteria perekonomian masyarakat, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, kemampuan keuangan daerah, aksesibiltas, serta karakteristik daerah. Hanya empat daerah di NTT yang tidak dikategorikan tertinggal yaitu Kota Kupang, Kabupaten Ngada, Kabupaten Sikka dan Kabupaten Flores Timur.

Pelabuhan Labuan Bajo tahun 2010

Kenapa Labuan Bajo menjadi perhatian, beberapa hal dapat dilihat dari pertumbuhan akomodasi dan pembangunan fisik. Misalnya saat ini, Kota Kupang sebagai ibu kota Provinsi NTT baru memiliki dua hotel bintang berstandar internasional dengan label berbintang 4, sedangkan Kota Labuan Bajo sudah memiliki enam hotel berstandar internasional dan dua diantaranya berbintang 5. Saat ini juga Bandara Komodo sudah bisa didarati pesawat berbadan besar Boing 737, dan memiliki fasilitas bandara yang jauh lebih baik dibandingkan Bandara Eltari di Kupang. Demikian juga Kota Labuan Bajo juga sudah memiliki Rumah Sakit berakreditasi internasional yaitu Siloam.

 Hotel Labuan Bajo dilihat dari Hotel Pagi

Pesisir Labuan Bajo dilihat dari Hotel Pagi

Kota Labuan Bajo sebagai kota wisata adalah ibu kota dari Kabupaten Manggarai Barat yang merupakan kabupaten pemekaran dari kabupaten induk, Kabupaten Manggarai Provinsi NTT. Kabupaten Manggarai Barat diresmikan pada tanggal 17 Juli 2003, yang wilayahnya meliputi daratan Flores bagian paling barat dan beberapa pulau kecil disekitarnya, diantaranya Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Seraya Besar, Pulau Seraya Kecil, Pulau Bidadari, dan Pulau Longos. Secara administrasi Kabupaten Manggarai Barat memiliki 10 kecamatan, yaitu Kecamatan Komodo, Sano Nggoang, Mbeliling, Boleng, Kuwus, Lembor, Lembor Selatan, Welak, Ndoso dan Macang Pacar. Kota Labuan Bajo diperkirakan saat ini menampung sekitar 40 ribu jiwa, dengan terdiri dari sekitar 8.000 jumlah rumah tangga.

Bandara Komodo Labuan bajo

Kantor Bupati Manggarai Barat

Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo
Di tahun 2013 lalu, Pulau Komodo resmi ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban warisan alam yang ada di dunia oleh organisasi New7Wonders. Sedangkan enam keajaiban lainnya adalah Halong Bay (Vietnam), Amazon (Amerika Latin), Pulau Jeju (Korea Selatan), Table Mountain (Afrika Selatan), Air Terjun Iguazu (Amerika Latin), dan Puerto Princea Underground River (Filipina). Keistimewaan Pulau Komodo diantaranya adalah Pink Beach atau pantai berwarna pink yang merupakan pasir pink yang adalah campuran pasir putih dan merah, warna pasir merah berasal dari serpihan koral merah yang telah luruh. Selain itu ada juga keberadaan Taman Nasional Komodo (TNK), yang terdapat berbagai spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia serta spot snorkeling untuk melihat berbagai spesies ikan dan terumbu karang. Terakhir yang paling utama adalah hewan Purba Varanus Komodoensis alias Komodo. Kadal raksasa yang termasuk hewan purba ini pertama kali ditemukan tahun 1910 dan hanya ditemukan di Indonesia. Hal inilah yang membuat Kota Labuan Bajo menjadi kota wisata di Nusa Tenggara Timur.

Dermaga Kampung Ujung tahun 2010
 Dermaga Kampung Ujung tahun 2017

Jalan Soekarno Hatta Labuan Bajo

 Kondisi Jalan


Kondisi Pedestrian Jalan Soekarno Hatta Labuan Bajo 

scenic look out Pelabuhan Labuan Bajo yang tidak terawat

Pada tahun 2015, Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi pariwisata yang dijadikan sebagai prioritas kunjungan wisatawan. Dengan asumsi bahwa pariwisata akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut, dan terutama adalah memaksimalkan pengelolaan objek wisata di Labuan Bajo dan sekitarnya yang merupakan pintu gerbang untuk bisa masuk ke objek wisata utama yaitu Taman Nasional Komodo (TNK), Pulau Rinca, Pink Beach dan Batu Cermin. Kenapa sektor pariwisata sedang digenjot, karena pariiwasata merupakan salah satu dari lima komoditas yang memberikan kontribusi besar bagi pendapatan daerah dan negara. Peluang ini untuk meningkatkan semakin banyaknya wisatawan mancanegara yang berkunjung, karena sejak tahun 2015 pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) dari semula 15 negara menjadi 90 negara, yang tentu saja berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan asing. Dengan demikian Kota Labuan Bajo menjadi destinasi wisata yang akan terus berkembang di Kabupaten Manggarai Barat, tempat pulau Komodo berada. Dengan asumsi kedatangan 100.000 wisatawan mancanegara dan domestik, dengan pengeluaran minimal masing-masing seperti jasa akomodasi, transportasi, makan-minum dan lain-lain sebesar Rp. 1,5 juta perhari, serta lama menginap minimal 5 hari, maka akan meningkatkan jumlah peredaran uang di Kota Labuan Bajo sebanyak Rp. 750 miliar pertahunnya.

 Pantai Pede

Pusat Kuliner Kampung Ujung

Sebagai kota yang mulai tampak aktivitas kepariwisataan seperti yang terlihat di Bali, Kota Labuan Bajo masih memiliki berbagai permasalahaan yang perlu segera dibenahi, apalagi dengan adanya sumbangan pendapatan dari sektor kepariwisataan, seharusnya daerah telah siap untuk memperbaiki segala persoalannya.  Pertumbuhan Kota Labuan Bajo saat ini terutama dari sector kepariwisataan masih lebih banyak digerakkan oleh sektor swasta dari dalam dan luar negeri, terlihat dari pembangunan hotel-hotel baru, peningkatan jumlah agen perjalanan wisata dan berdirinya sarana rumah sakit berakreditasi internasional Siloam, belum lagi oleh masyarakat lokal dengan pertumbuhan rumah makan dan unit usaha lainnya penunjang kepariwisataan. Sementara itu dari pemerintah pusat terlihat dari pembangunan dan perbaikan fasilitas bandara dan rencana perbaikan pelabuhan Labuan Bajo. Sedangkan dari sisi pemerintah daerah sendiri belum terlihat hal yang mencolok. Salah satu hal yang masih perlu  dan sangat segera untuk dibenahi dalam menunjang pertumbuhan kepariwisataan di Kota Labuan Bajo adalah infrastruktur jalan yang sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki, demikian juga dengan jalur pedestrian yang tidak baik. Sepanjang jalan Soekarno-Hatta banyak terdapat jalan berlubang, dengan sarana pejalan kaki yang minim karena jalan satu arah itu bisa membahayakan para pejalan kaki. Padahal jalan tersebut merupakan jalan dengan aktivitas terpadat di Kota Labuan Bajo. Ada destinasi wisata di situ, di mulai dari Pantai Pede, Pelabuhan Labuan Bajo, Kampung Ujung hingga Puncak Waringin. Di jalan tersebut juga terdapat banyak pertokoan, restoran, hotel dan penginapan, kantor agen perjalanan dan layanan wisata lainnya. Sehingga beberapa hal perlu segera dilakukan. Misalnya penyelesaian Pantai Pede yang masih dalam polemik antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten terkait dengan ruang publik pantai bagi masyarakat Labuan Bajo, pusat kuliner di dermaga Kampung Ujung yang perlu direvitalisasi, serta scenic look out di Puncak Waringin yang perlu ditata dan dijaga kebersihannya karena menjadi tempat untuk melihat keindahan Pelabuhan Labuan Bajo dari ketinggian.
Kedepannya diharapkan Labuan Bajo menjadi satu destinasi unggulan di kawasan Asia Tenggara dan setidaknya akan mengakibatkan multiplayer effect bagi perkembangan ekonomi regional di Nusa Tenggara Timur, melalui peningkatan perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat sebagai pelaku dunia usaha di sektor kepariwistaaan. Sehingga perlu dilakukan pembenahan Kota Labuan Bajo menuju kota wisata yang layak. (*)

Labuan Bajo, 21 April 2016
daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;