Rabu, 26 April 2017

15 Bulan atau 1 tahun 3 bulan usiaku...

Di usiaku saat ini aku sedang berusaha berkomunikasi verbal dengan mengeluarkan suara dan kosa kata baru, seperti kata pengulangan, ta.. ta.. ta.. dan ja.. ja.. ja… dan seringkali aku berbicara dengan ngelantur karena semakin banyak kosa kata yang aku miliki. Aku sering mengucapkan kata mana?, kata tanya untuk mencari benda yang aku inginkan atau juga kata ganti untuk susu ibu, bahkan suatu ketika aku sudah berucap mana air minum? Ketika aku sedang mencari gelas air minumku. Begitupun ketika aku mencari botol minyak tawon yang disembunyikan ayah dengan mengucap mana, mana, mana. Tentunya aku menjadi semakin cerewet, hal ini yang kemudian diklaim sebagai pelaksanaan ajaran omaku dari ayah, bahwa untuk mempercepat kemampuan bicaraku, maka perlu dilakukan hal sebagai berikut, yaitu mengambil sejumput nasi yang masih berbuih dari nasi yang ditanak dan lalu diberikan makan kepadaku yang dilakukan hanya pada hari jumat, konon ini yang membuat anak bayi semakin cerewet dan pintar berbicara, dan juga perlu disadari ini hanya mitos dari nenek moyang.

Saat ini aku senang nonton serial kartun Adit Sopo Jarwo, sebuah komedi kartun situasional anak negeri yang ceritanya menarik dan mengkisahkan kehidupan sehari-hari di lingkungan masyarakat. Apalagi ada tokoh Adel yang seusia denganku. Memang diusiaku, aku sudah gemar menonton lagu-lagu dan cerita di vidio berbagi Youtube. Di kesempatan yang sama aku membangun interaksi dari apa yang ada di televisi seperti berjoget dan tertawa karena melihat hal yang lucu dan atau bertepuk tangan jika ada yang bertepuk tangan di televisi, suatu saat aku sempat menjerit menangis ketika menonton tayangan film, dimana pemain filmnya sedang menjerit kesakitan dihisap tentakel monster dari dalam pasir pantai. Aku rupanya sudah sedari awal membenci kekerasan.

Di bulan ini aku sepertinya terkena gejala cacar, tidak disertai dengan panas tubuh. Bersama kedua orangtuaku menuju ke Bidan Any di dekat kediaman oma. Dari ibu bidan diberikan obat puyer 2 jenis beserta salep kulit. Sebelumnya muncul luka melepuh di sekitaran wajah, di mulai dari alis dan kening kanan, tulang pipi, hidung bagian kiri, leher hingga ketiak kanan. Berupa luka kulit yang terbakar dan terlihat melepuh. Dan tantangannya adalah saat minum obat, begitu susahnya, sama situasi seperti dahulu ketika aku menderita diare, aku sudah merasakan dan begitu mendapati gejala bahwa aku akan diminumkan obat, aku akan menangis menunjukkan penolakan. Karena sakit aku sudah merasakan berbagai obat mulai dari oralit, sirup dan kini puyer.

Suatu kali ayah dan ibu mengajak jalan-jalan ke Subasuka, sebuah tempat belanja fashion terbaru di Kota Kupang dengan andalannya harga yang murah meriah. Aku semula diajak ke bagian boneka-boneka, aku akhirnya tertarik dengan satu boneka yang coba diberikan ayah, sementara boneka lainnya aku tolak. Aku merasa senang melihat begitu banyak boneka. Dengan suasana toko yang diperdengarkan musik, ayahku memberi aku keleluasaan untuk berjalan dengan percaya diri, aku dengan semangat berjalan, tanpa rasa takut, berjalan ke sana kemari dengan boneka digengam erat, kadang aku bertemu dengan teman sebaya, aku memberi respon dengan memberikan daag.. daag.., dan sesekali aku berhenti melangkah dan sedikit menekukkan lutut lalu bergoyang mengikuti irama lagu toko, terlihat beberapa orang pengunjung tertawa melihat tingkahku. Ketika tiba di kasir boneka itu perlu di-scan, seketika itu aku menangis hebat seolah aku kehilangan bonekaku. Tak berapa lama aku kembali terdiam ketika boneka dikembalikan dengan lebel yang telah di beri tanda lunas. Sepulang dari toko aku masih saja memeluk bonekaku yang kemudian dinamakan Zisuka, boneka pink yang memakai rok melengkapi bonekaku yang sudah banyak mulai dari Pingky, Hello, Kitty, Jenny, Gama dan Pilo. Boneka Zisuka yang aku peluk sangat erat, mungkin jadi boneka yang merupakan pilihanku sendiri dibandingkan dengan bonekaku yang lain.

Di saat ini aku sudah menunjukkan ketidaksukaan terhadap sesuatu. Aku sudah mulai takut dengan orang yang berkulit gelap dan pernah sekali menangis melihat kakek dekil berkulit gelap. Di waktu lain, karena sering memakan makanan orang tuaku yang pedas, aku agak terbawa sifat pemarah, bahkan dalam tidur lelapku aku masih terlihat marah-marah, seperti ada sesuatu dalam mimpi yang membuat aku tempak emosional. Sebaliknya di waktu lain dan sudah sejak berumur 1-2 bulan, aku sudah pernah terlihat tertawa dalam tidur, karena mungkin ada yang lucu dalam mimpiku.

Karena sering melihat aktivitas kedua orang tuaku, maka aku sering menirunya dalam prilaku, seperti ketika sedang memakan gorengan, aku mengikuti makan sambil mencelupkan dalam sambal tetapi nyatanya ke dalam piring yang kosong. Kini aku lebih sering mencoba untuk makan sendirian, kalau sebelumnya makan dengan menggunakan jemari dari sebiji demi sebiji nasi, kini ada kemajuan dengan makan seemprit demi seimprit. Atau kadang juga sudah menggunakan sendok namun dengan cara memegang yang belum benar. Dan juga dari semula makan bubur secara sendirian, maka kini sudah diganti dengan pingin makan bersama kedua ortangtuaku dengan menu orang dewasa.

 tertawa bahagia

Aku memang sudah sering diajak berpergian menggunakan kendaraan roda dua, namun baru kali ini di bulan ini, aku mulai cerewet di dalam perjalanan, tidak demikian dibulan-bulan yang lalu aku hanya terdiam. Kini aku seolah bertanya apa-apa yang aku lihat di dan selama perjalanan. Dan juga sudah pandai membentangkan tangan untuk merasakan deburan angin di telapak tanganku. Aku juga sudah semakin ahli untuk memainkan gadget ponsel dengan jemari yang cekatan mengganti-ganti frame jika sudah bosan dan beranjak ke frame berikutnya seperti untuk foto dan vidio, bahkan bisa membuka password masuk ke ponsel ayah atau ibu. Aku juga sudah mengerti perintah untuk melakukan salim (cium tangan orang yang lebih tua), daag (melambai tangan perpisahan), kiss bye (memberi cium jarak jauh) dan tos (menepuk tangan dengan orang lain). Herannya untuk bertepuk tangan akulah yang paling semangat hingga bertepuk tangan ke atas kepala, padahal hal tersebut tidak pernah diajarkan oleh kedua orangtuaku.


menikmati wafer biscuit

kedapatan lagi mencuci

Di bulan ini juga aku sudah mengerti apa kesalahan yang diperbuat. Aku akan tersenyum lebar ketika akan atau sedang melakukan kesalahan, seperti beberapa kali aku lakukan, contohnya ingin pergi atau keluar ke teras rumah padahal dilarang, atau ketika kedapatan sedang memainkan lipstik ibu atau benda-benda yang dilarang oleh orang tuaku. Di sisi lain aku sering tertawa jika ada hal yang lucu, seperti ketika mengenakan kacamata atau kain jilbab sambil bercermin.

Di bulan ini gigi geraham bawahku mulai tumbuh untuk pertama kalinya mendahului gigi taring, dan juga untuk pertama kalinya orangtuaku mulai memotong rambut poniku, karena sudah menghalangi pandangan serta mengangu penglihatanku. Rambutku semakin memanjang dan sudah mulai bisa dikepang dan sudah menunjukan bahwa rambut jenis berombak mengikuti rambut ibu, dan ayah dari ayahku. Mungkin karena telah memiliki rambut yang mulai memanjang, aku sekarang sudah gemar menarik rambut ayah ibu sekuat tenaga, malang bagi ibuku rambutnya banyak yang rontok! aku juga sering melukai kutil di punggung ayah, dengan kuku yang memanjang sering juga aku menyakiti kulit ayah.

Untuk soal berjalan, aku memang sudah bisa berjalan sendirian dengan tetap menjaga keseimbangan agar stabil dalam usahaku berjalan, dan sudah terbiasa memakai sepatu, aku juga sudah mahir untuk berjalan dengan menggunakan sendal. Aku memang sudah diajari sejak awal untuk selalu menggunakan tangan kanan, dan kini aku sering berceloteh sendirian sambil menunjukan jari ke arah tertentu, entah apa maksudku saat itu. Cerita lain, satu kali aku kedapatan sedang mencoret-coret buku-buku jualan ayah, yang sudah beberapa tahun ini gemar jualan buku online.

Saat liburan di rumah oma di Alak, dan kebetulan oma adalah pedagang, aku seperti punya naluri untuk berdagang yakni dengan mengatur menyusun barang-barang jualan seperti rokok, sabun, mie instan dan lain-lain. Ini sudah lama aku lakukan saat bermain di kala sendirian, dengan mulai merombak dan menyusunnya kembali mainan-mainanku. Selain mengatur barang jualan juga sudah mengerti untuk mnenerima uang dari para pembeli dan juga berusaha mengembalikan uang kembalian pembelian. Jiwa dagang seperti ada dalam diriku karena oma adalah pedagang. (*)


Kupang, 26 April 2017
@daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;