Sabtu, 02 Juni 2018

Membuka Tirai Laut


Mural dan grafitti sudah bukan barang baru di dinding-dinding kota. Begitupun dengan Kota Kupang. Pada kali ini, sebanyak lima seniman mancanegara yang tergabung dalam Arts 4 Israel melakukan aksinya dalam lawatan untuk pertama kalinya di Kota Kupang – Timor Barat. Mereka berafiliasi dengan komunitas perupa lokal di Kota Kupang yang juga bersama-sama melukis dinding tembok bangunan pertokoan di Kota Lama Kupang atau tepatnya di Kelurahan Lai-Lai Besi Kopan (LLBK) pada 22-23 Februari 2018 lalu. Aksi mereka cukup menyita warga kota yang sedang beraktifitas di pusat perekonomian tertua di Pulau Timor ini, ada yang heran dan menampilkan wajah kebingungan kala melihat aksi mereka, ada juga yang kagum dan juga yang sedang menarik kesimpulan di dalam kepalanya.

Memang ada tema yang diusung dalam gerakan ini, bukan semata mencorat-coret dan melukis dinding tembok yang kusam. Tapi ada nilai yang ingin diperlihatkan tentang realitas sosial dan budaya dari masyarakat lokal yang universal, seperti toleransi, keberagaman dan kritik sosial. Selain itu ada agenda yang dibawa dalam tour ini yaitu end anti semitism, yang rupanya selaras dengan atmosphere Kupang yang memang mendukung hal tersebut. Apalagi penduduk Kota Kupang yang dalam berbagai kesan menunjukkan legitimasi yang pro Israel dan terlihat begitu sangat kental, berbeda dengan wilayah lainnya yang justru sangat anti Israel. Terlepas dari itu ada nuansa dari sisi kehidupan bersama (koeksistensi) yang ingin dibangun.


Ada mural yang menarik dari karya seorang seniman Prancis bernama Zaboo, ia mengambarkan sebuah lukisan tentang keindahan pantai Kupang yang intip. Sebagai semua kritik terhadap pembangunan kota yang konon sejak zaman Belanda membelakangi laut. Menurutnya seharusnya pantai bisa dilihat semua orang tanpa terhalang oleh bangunan toko-toko tersebut. Sebagaimana tanggapannya yang dikutip media, “Saya membuat lukisan sesuai dengan lingkungan menggambarnya, baik itu tema mengenai cinta, alam, manusia, maupun keadaan disekitar. Namun saat ini lukisan yang ingin dituangkan ialah gambaran tentang orang yang ingin melihat keindahan pantai, yang terhalang oleh tembok yang menjulang melalui lukisan mural yang nanti saya buat.”  Lukisan yang dibuat dalam tempo enam jam ini menjadi sebuah lokasi baru tempat berfoto bagi warga masyarakat Kota Kupang. Aksinya dapat dilihat pada video berikut ini:


Zaboo yang bisa difollow melalui akun twitternya @zabouartist, mewakili ekspresi warga kota yang merasa ruang publiknya diokupasi oleh kepentingan bisnis. Melalui urban art ia menggambar dinding toko emas Nusa Jaya di disekitar Jalan Siliwangi dekat dengan pasar senggol. Sisi cerdas Zaboo adalah mengambar dengan konteks lokal figur seorang perempuan Timor memakai selendang tenun sambil membuka tirai, sebagai wujud kepeduliannya terhadap bangunan-bangunan yang membelakanagi pantai, yang sejak dulu sudah dikenal sebagai “housing on the rock”. Karya ini akan terus membekas, yang mungkin hingga suatu saat lukisan mural ini hilang atau dihapus. (*)

Kupang, 02 Juni 2018
@daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;