Kamis, 22 Maret 2012

Mencari Mushola di Even Regional

Seminggu yang lalu, ada yang berbeda dari di kantor saya. Saat itu datang beberapa pekerja membangun dua buah tower tank (tandon) dibagian halaman belakang kantor. Dari masing-masing tandon tersebut dibangun pipa pancuran dengan lima mata leding. Salah satu bagian dari pipa pancuran diberikan bilik sedangkan yang satunya dibiarkan terbuka. Tidak hanya di luar gedung yang mengalami sedikit perubahan. Begitupun di dalam gedung. Meja, kursi dan perangkat lainnya yang semula berada di ruang rapat pimpinan dikeluarkan. Tak lama kemudian datang beberapa petugas yang membawa sejumlah karpet gulung.

Bukan hanya itu beberapa pamplet penunjuk arah di pasang di dinding luar dan dalam gedung, puluhan pasang sendal jepit disediakan. Selanjutnya di atas karpet tersebut dipasang penunjuk arah yang bertulis kiblat dan ruangan seolah dipisah dengan pembatas papan penghalang. Rupanya kantor tempat saya bekerja, telah tersedia sebuah mushola darurat.




Keberadaan mushola darurat ini berkaitan dengan pelaksanaan forum Rapat Konsultasi Regional (Konreg) Kementerian Pekerjaan Umum wilayah Timur Indonesia Tahun 2012, yang kebetulan digelar di Aula Eltari Kupang, 14 – 15 Maret yang lalu, dalam Kompleks Gubernuran atau tepat di samping gedung tempat saya bekerja. Sehingga berdasarkan kesepakatan panitia, maka kantor kami menyiapkan sebuah ruangan mushola untuk menunjang pelaksanaan agenda dimaksud.

Kegiatan Konreg sendiri dibuka oleh Menteri PU, Ir. Djoko Kirmanto dan dihadiri lebih dari 1.000 peserta, yang berasal dari pejabat lingkungan Dinas PU dari 13 provinsi di wilayah timur Indonesia dan dari Kementerian Pekerjaan Umum RI. Konreg tersebut bertujuan menyinergikan sumber daya pemerintah dan pemda dalam penyelengaraan pembangunan di bidang PU, permukiman dan penataan ruang.

Konreg Kementrian PU ini merupakan pertama kali diselenggarakan di Kota Kupang. Hal ini berangkat dari kesuksesan Kupang menggelar Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2011 lalu. Kupang memang belum banyak menggelar event tingkat regional dan nasional. Namun setelah berhasil menggelar HPN dan Konreg, maka Kupang sedikit demi sedikit akan memiliki pengalaman berharga untuk menjadi tuan rumah pada even-even berikutnya. Event seperti ini tentunya didukung oleh ketersediaan pehotelan, transportasi, restoran, souvenir dan lain-lain, sehingga akan membawa multiplayer effect bagi sektor lainnya, untuk meningkatkan kesiapan dalam penyediaan akomodasi yang lebih memadai di Kupang.



Kembali pada judul diatas, bahwa Kupang dengan penduduk muslim sekitar 12 persen, maka tentunya tidak dapat disamakan dengan kota-kota di Jawa, Sumatra dan Sulawesi misalnya. Karena setahu saya dari kantor-kantor pemerintahan, sekolah, swasta, fasum, hotel, mall hingga kantor unit terkecil hampir selalu memiliki prasarana musholla. Tidak demikian di Kupang, di kantor-kantor tidak tersedia musholla, mungkin karena di kantor saya, muslim dapat di hitung dengan jumlah jari sebelah tangan. Sehingga pada pergelaran kegiatan Konreg tersebut dicari prasarana alternatif atau mushola darurat. Namun sebenarnya terdapat dua buah mesjid terdekat dengan Kantor Gubernur yaitu Mesjid Nurul Iman Oebobo yang terletak di belakang Hotel Cendana (1,2 kilometer) dan Mesjid At Taqwa Naikoten di depan Kantor AJB Bumiputra (1,6 kilometer). 

Dua hari setelah kegiatan digelar perangkat wudhu di bongkar, karpet sholat kembali digulung dan pamlet penunjuk tempat wudhu dicopot. Ternyata mushola ini hanya dadakan dan tidak dipermanenkan. Namun telah menjadi sejarah di kantor saya bahwa ruang rapat pimpinan pernah dijadikan mushola. (*)



Kupang, 22 Maret 2012
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;