Kamis, 12 April 2012

Seminar tentang Seni dan Budaya


Suatu kesempatan langkah, khususnya di Kota Kupang. Bisa datang mengikuti seminar dan berdiskusi secara langsung dengan para budayawan. Di antara yang hadir adalah Gerson Poyk, Putu Wijaya, Fellysianus Sanga dan Radhar Panca Dahana. Dari empat nama pembicara yang disebutkan, maka seminar ini menjadi lebih menarik karena disajikan oleh budayawan kenamaan dan mumpuni dibidangnya.

Satu alasan juga yang membuat saya datang mengikuti seminar karena hadirnya Opa Gerson Poyk, kebetulan saya pernah membaca karya beliau dan sedang mencari beberapa informasi tentang beliau di internet. Sempat berbincang bersama beliau sebelum seminar di mulai, yang mana Ia menceritakan kisah-kisah masa kecilnya, yang juga telah saya ketahui dari membaca novelnya berjudul “Nostalgia Flobamora”. Gerson Poyk yang kini telah berusia 81 tahun, mengawali karir sebagai guru, kemudian wartawan lalu menjadi penulis lepas, hingga kini telah menciptakan ratusan  karya novel, cerpen, dan puisi. 

Sastrawan asal Rote ini telah dikenal di mana-mana, diundang di berbagai kesempatan bahkan hingga ke luar negeri. Tidak demikian di daerah asalnya, menurutnya ini kali pertama Ia diundang ke Kupang sebagai pembicara seni dan budaya. Sungguh ironis bagi budayawan yang telah banyak mengangkat kisah Flobamora ke dalam novel-novelnya. Dalam seminar Ia memaparkan pentingnya intuisi dalam kehidupan, bahkan ia menceritakan pengalamannya terhadap intuisi. Ia juga mengurai tentang absurditas yang seharusnya di pahami manusia. Kata sakti yang sempat diutarakan adalah bahwa "Kita berdiri di bumi subur, dan laut kaya, tapi otak kita berada di padang pasir”, sebagai sebuah pencerminan terhadap pengelolaan negeri ini yang masih jauh dari harapan.

Ada juga seorang sastrawan, seniman dan budayawan nasional Putu Wijaya (68), yang telah menulis ratusan esei, novel, naskah drama, hingga sekitar seribu cerpen, artikel lepas, dan kritik drama. Selain itu juga menulis skenario film dan sinetron. Saya sempat mengajukan pertanyaan kepada Putu Wijaya perihal perdebatan antara seni tradisional yang saat ini telah dipenetrasi dalam konteks kebudayaan komersil. Ia memberikan jawaban yang cukup memuaskan, manakala bahwa kebudayaan memang perlu dikemas secara menarik untuk membuat orang ingin melihatnya, disamping itu bahwa ada pengaruh yang akan membuat budaya tradisional menjauh dari esensinya, maka diperlukan kritikus seni yang bekedudukan sebagai pengarah yang bijak terhadap pertumbuhan kebudayaan tradisional. Masih menurutnya bahwa budaya merupakan kekuatan pembangunan, setidaknya mengisi ruang kosong dari pembangunan itu sendiri, sehingga terajut pembangunan fisik dan non fisik yang seimbang. Kurangnya dalam membawakan seminar, ketika Putu Wijaya sampai empat kali lupa nama Kota Kupang, hal ini menandakan bahwa beliau memang belum punya pengalaman sebelumnya berada di Kota Kupang!.

Budayawan lain dalam seminar tersebut adalah Radhar Panca Dahana (47), yang merupakan sastrawan nasional yang juga berprofesi sebagai pengajar di Universitas Indonesia. Beliau menyampaikan gagasan tentang kearifan lokal yang sewajarnya harus dimiliki setiap bangsa, namun tidak semua kearifan lokal itu baik, kadang hanya digunakan oleh penguasa untuk mempertahankan eksistensinya. Beliau memang sering diundang berbicara pada beberapa kesempatan dalam kapasitasnya sebagai budayawan. Ia seringkali terlihat dalam acara dialog di Metro Tv. Sedangkan bagi Prof. Fellysianus Sanga yang merupakan pakar anthropologi dan linguistik dari Undana Kupang. Dalam seminar tersebut ia mengangkat tema tentang karakteristik budaya etnis di wilayah Nusa Tenggara Timur. Ia memaparkan karakteristik suku-suku di NTT dalam watak, sifat dan peran sebagai subjek dalam wadah menuju harmonisasi bukan hegemoni.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Lembaga Seni Budaya Rumah Poetika pada 11 April 2012, dan merupakan rangkaian awal kegiatan selama tiga hari, yang juga di isi dengan workshop penciptaan karya seni dan pementasan teater Ratu Balonitapada tanggal 12 dan 13 April 2012. Pergelaran seluruh kegiatan berlangsung di Gedung Pementasan UPTD Taman Budaya Provinsi NTT, Jalan Kejora No. 1 Kupang.

Kupang, 12 April 2012
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;