Rabu, 15 Mei 2013

Membaca Buku dalam Penerbangan



Jika menggunakan transportasi darat, saya sulit untuk mengisi waktu dengan membaca, gerak kendaraan membuat mata sulit fokus pada bacaan dan kadang membuat pusing apa lagi jika jalannya berkelok-kelok. Tidak demikian bila saya menggunakan jasa angkutan laut atau udara, kita bisa menemukan momen membaca yang mengasyikan. Membaca dalam pelayaran memberi kita waktu yang banyak, karena dapat menghabiskan waktu berhari-hari menempuh pulau demi pulau dengan suasana di tengah lautan luas. Sedangkan dalam penerbangan, membaca hanya untuk sekedar menghabiskan waktu beberapa jam saja.

Dengan menggunakan jasa penerbangan low-cost carrier kita biasanya disediakan koran terbitan ibukota atau majalah periodik maskapai untuk mengisi waktu di atas pesawat, selain itu kalau duduk di samping lorong pesawat, yah dapat menghabiskan waktu dengan melihat lenggak-lenggok pramugari dan orang-orang yang pergi pulang toilet pesawat, atau bila kebetulan duduk di samping jendela, maka kita bisa menghabiskan waktu melihat kumpulan awan, daratan, lautan, barisan pegunungan, barisan pulau-pulau kecil atau juga melihat beberapa panorama kota dari atas. Kalau jenuh dengan hal-hal diatas kita bisa memainkan gadget pribadi dengan beragam media yang menghibur. Begitupun kita juga bisa menghabiskan waktu ngobrol bersama teman atau penumpang lain yang sepadan dalam bercerita. Jika menggunakan jasa penerbangan sejenis Garuda, maka kita masih bisa dihibur lagi dengan layar touch screen di depan kursi penumpang, bisa meononton filem, dokumenter, musik video, membaca majalah digital, mendengarkan musik atau lainnya. Terakhir masih ada pilihan lain yaitu memejamkan mata dan tidur!.

Nah bagaimana jika hal-hal itu membosankan, apalagi untuk menghabiskan waktu yang lama dalam penerbangan. Untuk menjawab itu, biasanya saya membawa sebuah buku untuk dibaca selama penerbangan. Dalam salah satu penerbangan Kupang – Jakarta yang memakan waktu normal 3½ jam, belum termasuk waktu transit, saya menghabiskan waktu membaca buku “Indonesia Jungkir Balik” hingga selesai. 

Buku terbitan Noura Books (anak perusahaan Mizan) yang baru dirilis Desember 2012 lalu, seolah mengikuti tren model buku yang bolak balik (dua bagian dalam satu buku), mungkin agar sesuai dengan namanya. Jika kita membaca di depan orang, mereka melihat salah satu sisi sampul buku akan mengira kalau kita sedang ‘gila’ karena membaca buku secara terbalik, buku terbagi dalam dua bagian yang masing-masing bagian berakhir di tengah halaman buku. Kalau tidak salah buku ini sempat akan diberi judul “Indonesia Menghajar”, sedikit mengikuti judul buku populer lainnya yaitu “Indonesia Mengajar”, bukan bermaksud sebagai buku sempalan dari Indonesia Mengajar tetapi mencoba memperlihatkan sisi lain dari ke-Indonesia kita. Mungkin dengan pertimbangan lainnya, akhirnya buku ini diberi judul “Indonesia Jungkir Balik”. Buku yang merupakan kumpulan tulisan esai ini, ditulis oleh beberapa penulis yang telah dipilih dan diseleksi oleh editor penerbit, salah satunya adalah senior saya di kampus yang baru saja menyelesaikan pendidikan lanjutannya di Ohio University.

Isi besar dari buku ini bertema “mempertanyakan ke-indonesiaan kita”, mengikuti catatan dalam pengantar buku ini, bahwa kita secara sosiologis-antropologis adalah manusia Indonesia yang tumbuh di berbagai daerah di nusantara dari desa hingga kota, dari pedalamanan hingga pesisir daerah, dengan memegang atribut identitas yang menempel dan mengikuti hidup kita. Namun secara kultural-intelektual, kita menjadi besar di banyak tempat: rumah, sekolah, pesantren, kampus, ruang publik, kantor, masjid, pasar, jalan raya, sawah, laut, dan udara. Semua tempat itulah yang kini membuat kita meng-Indonesia. Buku yang sangat menarik! (*)



Kupang, 15 Mei 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;