Minggu, 26 Mei 2013

Koes Plus dan “Kolam Susu(k)”




“Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai, tiada topan kau temui, ikan dan udang datang menghampirimu, orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Itulah syair lagu "Kolam Susu" yang pernah dipopulerkan grup musik legendaris Koes Plus pada era 1970-an. Koes Plus adalah grup musik yang sangat terkenal pada dasawarsa 1970-an yang berasal dari Tuban, Jawa Timur dan dianggap sebagai pelopor musik pop dan rock 'n roll di Indonesia. Personil band ini pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap membawa aliran semangat budaya kapitalisme, disaat pemerintah kala itu anti terhadap kapitalisme atau sesuatu yang berasal dari barat.

Lagu di atas mengambarkan Indonesia yang gemah ripah loh jinawi (tentram dan makmur serta sangat subur tanahnya) dengan judul lagu “Kolam Susu”, diambil dari album volume 8 Koes Plus yang dirilis tahun 1973, yang begitu merajai blantika musik pop saat itu, bahkan disebut-sebut sebagai masterpiece-nya Koes Plus. Kolam Susu sebagai kisah tentang negeri dengan sumber daya yang melimpah ruah yang membuat kemakmuran bagi masyarakatnya, negeri dengan keindahan alam yang elok dan corak iklim yang bersahabat.



Sampul album volume 8 “Diana” dan “Kolam Susu” dengan label Remaco tahun 1973 (http://sumartono.ucoz.com), lagu tersebut dapat dinikmati disini:



Kolam susu yang dimaksud dalam lagu tersebut bukanlah sesuatu yang imajiner, tetapi sesungguhnya sesuatu yang benar-benar ada dan menjadi inspirasi dari terciptanya lirik lagu tersebut. Tempat yang dimaksud kolam susu itu berada di Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pesona keindahan alam kolam ini telah membuat terkesima Yon Koeswoyo, salah satu anggota Grup Koes Plus, ketika sedang singgah dalam perjalanan dari Kota Atambua menuju Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste) tahun 1972, sehingga menjadi inspirasi dengan mengabadikan dalam sebuah lagu. Nama kolam ini sebenarnya adalah “kolam susuk”, sedangkan dinamai menjadi “kolam susu” dalam syair lagu mungkin sebuah kebetulan kalau warna kolam ini pada terik siang hari akan terlihat berwarna putih, menyerupai warna susu. Lagu ini juga mengingatkan masa di mana Timor Portugis berintegrasi dengan Indonesia melalui Deklarasi Balibo pada tahun 1975, dan sempat menjadi provinsi yang ke-27, sebuah kenangan masa lalu yang menyejarah.

Kolam yang menyerupai dasar ceruk dari lembah dan dikelilingi pohon-pohon bakau ini, terletak sekitar 20 kilometer arah utara Kota Atambua dengan waktu tempuh sekitar setengah jam perjalanan dengan menggunakan mobil (rental) atau kendaranan roda dua (ojek). Sekaligus dapat menikmati Keindahan alam Kabupaten Belu sembari berkendara menuju ke Kolam Susuk, melalui jalur berkelok-kelok yang menyenangkan. Lokasi hampir berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratik Timor Leste. Sebagai kenang-kenangan kabarnya grup legendaris Koes Plus telah membangun sebuah fasilitas Sekolah Dasar (SD) di dekat kolam tersebut. 




Menurut legenda, kolam ini di masa dahulu kala pernah disinggahi oleh tujuh putri dari keluarga Raja Lifao dari Oecusse (Oekusi). Mereka berniat membersihkan diri dengan mandi di kolam, mengetahui hal itu raja mengirim banyak nyamuk untuk membuat mereka tetap terjaga ketika sedang beristirahat selepas mandi. Nyamuk akan mencegah para putri tertidur dengan gigitan dan bisingan nyamuk. Hal ini dilakukan raja untuk menghindari mereka tidak lengah dengan keadaan, jika ada orang yang berniat jahat terhadap putri-putri keluarga raja tersebut. Sehingga kemudian nyamuk-nyamuk tersebut tinggal dan berkembang biak hingga kini. Masyarakat setempat lalu menamai kolam tersebut dengan sebutan kolam “susuk” yang berarti kolam sarang nyamuk.


 
Karena dikenal sebagai kolam sarang nyamuk maka muncul ide untuk memelihara ikan bandeng yang terus berkembang di lokasi tersebut, sebagai penyeimbang pertumbuhan populasi nyamuk. Lokasi sekitar Kolam Susuk kini menjadi kolam alam tempat budidaya ikan bandeng, hingga kemudian terkenal pula sebagai tempat menikmati ikan bandeng bakar yang gurih dan siap untuk dinikmati. Sebagai tambak besar tempat mengembangbiakan ikan bandeng, maka bila musim panen tiba akan menjadi puncak rekreasi bagi masyarakat karena dapat menikmati harga bandeng yang murah meriah. Umumnya masyarakat di Timor akan melakukan semacam upacara adat atau ritual untuk menyambut panen. Kabarnya ketika ritual selesai dilakukan maka ikan bandeng akan berloncatan dari tambak. Mungkin inilah yang mendasari munculnya frase lirik lagu “ikan dan udang datang menghampiri dirimu” dan panorama alam yang tenang dengan semilir angin yang sejuk sebagai representasi isi lagu. Kolam Susuk ini menjadi salah satu destinasi pariwisata di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste.







Namun disayangkan bahwa pada hari-hari biasa kolam Susuk ini memang terlihat sepi, karena letaknya agak jauh dari Kota Atambua. Tidak ada pengujung bahkan tidak ada penjaga/petugas loket, terlihat juga beberapa hewan ternak yang berkeliaran begitu saja. Kolam ini biasa ramai dikunjungi pada hari minggu atau pada hari libur. Padahal jika pengelolaannya lebih serius Kolam Susuk akan menjadi tempat ekowisata favorit di Pulau Timor. Apalagi di dekat lokasi wisata Kolam Susuk juga terdapat destinasi lain yaitu Teluk Gurita, yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari Kolam Susuk. Konon di teluk tersebut pernah hidup seekor gurita raksasa penjaga teluk pantai, kabarnya gurita tersebut pernah menengelamkan sebuah kapal yang sedang bersandar. Kedua lokasi wisata ini potensial untuk dikembangkan dengan menarik wisatawan lokal, domestik dan wisatawan mancanegara baik dari negara tetangga Timor Leste maupun internasional, seperti melalui kegiatan sail yang rutin dilaksanakan dengan pintu masuk baik melalui Kota Kupang atau Pelabuhan Atapupu-Belu.






Sementara itu nama Kolam Susuk belum begitu diketahui baik secara lokal bahkan hingga luar negeri, masih ada juga penduduk lokal yang ketika diajak untuk mengantar menuju lokasi, belum mengetahui letak dari Kolam Susuk ini!. Ada semacam “opportunity cost” (biaya kesempatan yang hilang) bagi daerah ketika tidak mengelola objek wisata ini dengan baik, pasalnya nama Kolam Susuk ini telah populer bersama dengan tembang kenangan Kolam Susu Koes Plus sejak empat puluh tahun yang lalu!. Sehingga sebelum ‘kehilangan’ kesempatan lebih banyak, perlu ada semacam usaha bersama masyarakat, pemerintah dan dunia swasta untuk meningkat salah satu destinasi wisata ini melalui tata kelola kepariwisataan daerah yang lebih baik. Sehingga di kemudian hari objek wisata ini menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib disinggahi dalam setiap perjalanan di Pulau Timor. (*)


Kupang, 26 Mei 2013
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;