Kamis, 11 Juli 2013

Buku yang sudah dibeli dapat dikembalikan


Beberapa malam yang lalu saya membeli empat buah buku di Toko Buku Gramedia Kupang, dan seperti sebuah kebiasaan sekembalinya dirumah adalah melihat-lihat sejenak buku yang baru dibeli, mulai dengan membuka bungkusan plastik buku, mengharumi lembaran-lembaran buku baru yang ibaratnya mencium aroma yang selalu dikenali. Memperhatikan kembali daftar isi dan melihat sekilas isi bab buku. Sebenarnya hal ini telah dilakukan di toko buku sebelum membeli, tetapi mengulang kembali di rumah menjadi keharusan. Karena sulit menyiapkan waktu untuk segera membaca, terkadang buku tersebut kemudian terdiam hingga bertahun-tahun baru dibaca.

Namun kemudian saya menemukan kecacatan sebuah buku yang saya beli berjudul “Antropologi & Pembangunan Indonesia”, terdapat 16 halaman buku yang blank atau kosong di dua sisi. Jika hanya terlipat atau tulisan sedikit buram tanpa mengganggu proses membaca tentu tidak masalah buat saya, tetapi dengan hilangnya beberapa halaman tanpa tulisan inilah yang membuat saya berpikir untuk segera kembali ke Gramedia dan menukarnya. Namun hal itu saya tahan hingga esok malamnya. Di masa masih kuliah saya sekali pernah mendapatkan sebuah buku dengan masalah yang sama, dampaknya adalah saya malas untuk membaca ketika substansi bacaan banyak yang hilang, mau menukarnya namun hal tersebut tidak dimungkinkan karena hanya dibeli dilapak pedagang dan kesalahan saya juga tidak memperhatian isinya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan membeli, akhirnya buku itu saya hibahkan saja kepada teman, mungkin teman juga akan kecewa jika mengetahui kecacatan buku tersebut!

Berbekal buku dengan halaman cacat dan struk pembelian saya ke counter Gramedia, tanpa banyak hambatan, customer service melayani dengan baik dan menyerahkan kepada petugas lainnya untuk segera mencari buku yang sama dan kemudian mengantinya, saya dipersilahkan untuk mencek kembali buku yang telah diganti dan kemudian petugas meminta maaf atas ketidaknyamanan yang saya alami. Akhirnya saya pulang dengan membawa judul buku yang sama tanpa cacat. 

Gramedia yang dikenal sebagai toko buku dengan jaringan terbesar ditanah air telah menunjukkan tanggung jawabnya dengan bersedia mengganti buku yang sudah terlanjur dibeli apabila ditemukan kecacatan yang merugikan konsumen. Buku yang dimaksud adalah buku yang seharusnya tidak lolos quality control, dan pihak Gramedia telah melaksanakan kewajibannya. Kadang bukan hanya tanggung jawab toko buku saja, tetapi ada juga yang berasal dari distributor dan atau dari penerbit sendiri dengan mencantumkan kalimat dalam buku, “apabila anda menemukan cacat produksi berupa halaman terbalik, tidak berurut, tidak lengkap, terlepas-lepas, tulisan tidak terbaca atau kombinasi dari hal-hal di atas, silahkan kirim kembali buku tersebut dan pihak penerbit akan mengantikan buku baru dengan judul yang sama”.

Menukar kembali buku atau suatu barang yang sudah dibeli dengan alasan rasional sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, diantaranya menjelaskan bahwa hak konsumen untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya dan lain sebagainya. Bila lebih mendalam memahami aturan tersebut dapat simpulan bahwa semuanya berawal dari itikad baik antara pelaku usaha dan konsumen dalam asas manfaat dan keadilan.

Padahal disisi lain masih kita ketemukan berbagai barang di toko retail atau supermarket dengan peringatan pada display product atau dalam struk pembelian yang masih bertulis, barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan”. Nah, bagaimana jika sesampainya dirumah, barulah kita menyadari bahwa ada diantara barang yang kita beli mengalami cacat produk yang bukan disebabkan oleh kita, jika dikaitkan dengan Undang-Undang Perlindungan Konsumen maka pencantuman klausula baku tersebut dapat dikenai unsur pidana. Pepatah yang sering didengar bahwa pembeli adalah raja, benar juga adanya. (*)
 

Kupang, 11 Juli 2013
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;