Sabtu, 27 Juli 2013

Mengabadikan Tulisan dalam Dunia Maya


Mungkin benar adanya bahwa peradaban manusia yang terus berkembang hingga saat ini adalah bentuk ketakutan dari kematian manusia. Manusia berusaha untuk selalu meninggalkan sesuatu sebagai jejaknya, entah untuk dikenang atau untuk menjadi amal jariahnya di bumi. Baik itu berupa khazanah pemikiran, ilmu, lukisan, puisi, buku, arsitektur dan lain sebagainya. Dan kiranya bila kematian datang maka nama mereka akan selalu disebut seolah mereka menjadi nan abadi. Sampai pada kekuatiran bahwa dunia mengingat kita atau dunia yang melupakan kita.

Salah satu bentuk usaha manusia sejak zaman prasejarah untuk meninggalkan jejaknya adalah dengan melukis di dinding karang, dinding gua atau langit-langit gua yang kemudian disebut dengan rock art, menggambarkan kehidupan di zaman prasejarah yang menyangkut kehidupan budaya, sosial dan ekonomi berserta kepercayaan masyarakat. Berbagai gambar memperlihatkan misteri yang kadang sulit dipecahkan oleh manusia modern saat ini. Memang saat itu masih terkesan sangat tradisional bertalian dengan upacara-upacara penghormatan nenek moyang, upacara penguburan, inisiasi, klenik dan membentuk semacam milestone untuk memperingati suatu kejadian yang penting. Peristiwa yang setidaknya telah terjadi 40.000 tahun lalu dapat dirasakan feel-nya oleh manusia modern saat ini. Lukisan gua menjadi perwakilan kata-kata sebagai pesan dari masa silam.

Bagaimana dengan kehidupan modern saat ini, karena masing-masing memiliki apresiasi tersendiri dari pilihan kehidupan ini, maka sebagai bentuk ketakutan itu dijewantahkan dalam sesuatu yang baik berupa materi dan non materi. Kita bisa melihatnya dari begitu banyaknya buku-buku yang telah ditulis oleh berbagai orang dari belahan dunia manapun, mereka merangkum hikmah hidup dan menyebarluaskannya. Banyak yang telah memiilih cara lain yaitu dengan menulis melalui dunia maya. Jika dikaitkan dengan prolog di atas kita tak ubahnya dengan manusia purba yang berusaha merekam gejala sosial dan mengabadikannnya di dinding zaman melalui kemajuan dunia maya saat ini.


ketika masa manusia prasejarah mereka belum mengenal tulisan atau aksara, mereka hanya bisa mengambar sebagai media komunikasi kepada manusia saat ini. Bandingkan dengan manusia modern yang saat ini telah mempu mengabadikan tulisan dan apapun kedalam layar digital. Manusia prasejarah meninggalkan lukisan pada gua-gua yang merupakan penggambaran ekspresi berupa harapan, pengalaman, perlindungan dan perjuangan yang masih sangat terikat dengan alam. Maka kini hal itu telah bertransformasi membentuk manusia yang selalu menggambarkan kehidupan saat ini yang serba modern dan begitu kompleks yang kemudian dilestarikan dalam berbagai bentuk yang salah satunya adalah dalam dunia digital, dunia maya. Sama halnya dengan manusia modern saat ini, bahwa kebutuhan mengabadikan sesuatu dikarenakan kebutuhan akan rasa aman telah terpenuhi, sebelumnya dimana manusia prasejarah masih nomaden keselamatan relatif belum terjamin, sehingga tak memiliki kesempatan untuk membuat sesuatu yang dapat merekam masa mereka untuk diketahui di masa depan. Setelah menempati tempat yang aman, maka mereka lalu mengekspresikan dengan melukis dinding.

Kesimpulannya bahwa manusia di zaman manapun ia berada akan selalu berusaha untuk mengabadikan sesuatu yang serasa perlu diketahui oleh masa depan. Oleh sebab itu mengapa mereka mengambar di dinding gua atau langit-langit gua, agar dapat bertahan hingga ribuan tahun, sedangkan kebudayaan saat ini berusaha mengabadikan dengan menyimpan dalam museum dan berbagai cara lainnya. Saat ini salah satu cara mengabadikannya adalah melalui dunia internet. Sehingga tak bedanya dengan manusia prasejarah, manusia modern saat ini telah mengabadikan jejaknya di dinding dunia maya agar kehidupan saat ini dapat terus tersimpan untuk masa yang kemudian. (*)


Kupang, 27 Juli 2013
©daonlontar.blogspot.com



comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;