Jumat, 16 Agustus 2013

Badut Ikan Paus di Antara Tiga SPG



Dalam menyelenggarakan event semacam pameran atau expo pembangunan di Kota Kupang, sudah mulai tampak menggunakan cara modern dalam menarik perhatian pengunjung, berbagai cara telah dilakukan seperti informasi kegiatan yang diumumkan dalam berbagai media atau juga dengan melibatkan peran serta peserta sendiri baik itu dari kalangan pemerintahan atau swasta. Di Arena Pameran dan Promosi Fatululi yang menjadi salah satu ikon Kota Kupang merupakan tempat penyelenggaraan event tahunan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penyelenggaran pameran berlangsung rutin dalam waktu dua pekan.

Dalam setiap penyelenggaran terdapat ratusan stand pameran yang terdiri dari instansi pemerintah provinsi dan vertikal, pemkab/pemkot, BUMN, BUMD, swasta hingga stand pelaku ekonomi masyarakat lainnya. Acara juga dimeriahkan dengan berbagai lomba diantaranya lomba tarian adat antar etnis. Sementara itu terlihat tiga orang sales promotion girl atau lebih populer dengan sebutan SPG, yang menawarkan dan mempresentasekan sample product rokok merek Djarum Clavo. Sebagai bagian sales promotion yang mempromosikan produk dan menjual produk ke konsumen atau khalayak ramai, para SPG selalu menarik perhatian dalam perhelatan sebuah event, dapat dilihat dari penampilan fisik (outlook), desain pakaian (dress code), kemampuan atau gaya komunikasi (skill) dan bahasa tubuh (body language) yang secara keseluruhan membentuk performance keseluruhan dari seorang SPG. Sehingga mereka harus terlihat cantik, memikat dan menggoda, karena dibutuhkan biaya besar untuk untuk melakukan promo produk, apa lagi yang masih baru dan belum terlalu dikenal, maka wajar jika perusahaan yang menggunakan tenaga penjualan akan mencari calon SPG yang berwajah cantik dan berpenampilan menarik. Hal ini karena terkait dengan peran SPG yang dapat diibaratkan menjadi duta bagi perusahaan dalam memperkenalkan produk dengan menemui dan berinteraksi dengan calon pelanggan potensial. Peran SPG ini dianggap strategis karena merupakan jajaran frontliner yang langsung berhubungan dengan konsumen yang diharapkan dapat membantu meningkatkan image produk/jasa perusahaan dan sekaligus angka penjualannya.



Sedangkan hadirnya badut ikan paus sebagai ikon atau maskot konservasi Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu adalah untuk menarik perhatian pengunjung. Dengan mengambil karakter hewan laut mamalia ini yang terlihat lucu dan memikat orang-orang untuk datang mendekat dan berfoto bersama badut sebagai kenangan atau sekedar mendokumentasikannya, terlebih kepada anak-anak, ada yang senang atau sebaliknya sangat takut dengan kehadiran boneka badut besar ini. Badut dengan kostum yang menarik dan atraktif kadang menggoda atau digoda pengujung atau juga dengan berjoget genit mengikuti musik yang terdengar untuk membuat pengunjung terlihat senang. Dahulu badut lebih sering muncul di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan Taman Impian Jaya Ancol (Dufan) yang rupanya mengikuti konsep Disneyland, sekarang kehadiran badut lucu ini mulai dimanfaatkan untuk tujuan promosi dan lain-lain. Tak berbeda dengan peran SPG dalam memperkenalkan produk, badut lucu juga dapat menarik perhatian pengunjung untuk singgah ke stand dan memperlihatkan informasi yang dapat diberikan.

SPG dan badut menjadi sebuah cara membangkitkan kemeriahan sebagai sarana promosi, bahkan kadang pengunjung lebih tertarik melihat-lihat SPG dan badut ketimbang acara utamanya sendiri. Dalam sistem pemasaran dua cara ini sebagai pendukung suatu produk atau jasa untuk diketahui publik, maka diperlukan tenaga promosi yang mempunyai daya tarik untuk menarik perhatian. (*)

    Kupang, 16 Agustus 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;