Minggu, 11 Agustus 2013

Mengisi dengan Membaca di Bulan Ramadhan



Ramadhan memang telah berlalu, begitupun dengan amalan-amalan yang dilakukan di bulan penuh berkah. Namun selalu ada yang berbekas dari setiap kepergian ramadhan, yang adalah manejemen waktu atau tepatnya mengelola waktu. Ramadhan adalah bulan tersibuk bagi umat muslim yaitu ketika umat berlomba-lomba melipatgandakan amal ibadahnya, menjalankan berbagai aktivitas dari sahur hingga berbuka dan dari berbuka hingga sahur, bahkan hingga harus menjalankan pekerjaan reguler kantor yang tidak mudah ditinggalkan begitu saja. Salah satu amalan ibadah adalah dengan banyak membaca mulai dari Al-Qurannul Karim, terjemahannya dan dzikir hingga bacaan-bacaan tema islami lainnya. Dalam Bulan Ramadhan memang sebaiknya melakukan hal positif dengan banyak membaca selain mengisi waktu juga menambah nilai keislaman dan keilmuan.

Kebetulan saya mempunyai beberapa buku dengan tema islami yang belum saya baca sama sekali dan tepat pada momentumnya, saya memanfaatkan waktu selama Bulan Ramadhan lalu dengan menghabiskan membaca enam buku bertema islam yaitu: Isa dalam Al-Quran, Mengenal Sang Kalimatullah & Rohullah Lebih Dekat; Perempuan, ….dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut'ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru…; Psikologi Kematian, Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme; Karena Saya Akan Hidup Selamanya; dan Kumpulan Lengkap Doa dan Wirid Mustajab sesuai Al-Quran dan As-Sunnah. Disamping itu saya juga masih sempat membaca tiga judul buku tema umum lainnya. Inilah nikmatnya jika memiliki perpustakaan pribadi, disaat kita mendapatkan waktu senggang maka kita dapat memilih buku sesuai tema yang diinginkan.

Apa yang kemudian menjadi kesimpulan, mungkin benar apa yang diutarakan oleh Northcote Parkinson bahwa, “orang yang paling sibuk, adalah orang yang paling punya banyak waktu”. ketika berusaha mengelola waktu maka di saat itulah kita mendapatkan efektivitas kerja, ibadah dan santai. Jika dibandingkan dengan orang yang tidak terlalu sibuk, maka mereka justru tidak memiliki banyak waktu untuk dimanfaatkan. Dengan demikian waktu itu relatif dari prespektif kita menilainya.

Akhirnya dalam keimanan kita tidak dapat mengabaikan tiga hal penting yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih. Ketiga hal inilah yang menjadi penyambung keabadian, manakala kematian telah tiba dan amalan-amalan telah terputus. Satu diantaranya adalah ilmu yang bermanfaat dan tentunya ilmu itu hanya didapat dengan banyak membaca, dan sebagaimana uraian singkat diatas, kiranya ilmu itu terus mengalir daripada hanya membeku dalam lembaran-lembaran buku. (*)

Kupang, 11 Agustus 2013
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;