Rabu, 07 Agustus 2013

Membuka Kembali Halaman yang Pernah Dibuka



Mengenang adalah kelebihan manusia yang tidak dimiliki makhluk manapun. Membuka kembali guratan halaman-halaman yang pernah dibuka memberi sentuhan ritmik sanubari akan halaman-halaman yang pernah dibaca, pernah dilalui, pernah diceritakan dan pernah didiskusikan. Kenangan itu membawa keteduhan bahwa masa lalu adalah keindahan yang pernah digapai. Mendekap lalu menciumi dan mengharumi rentetan halaman yang seperti berlari, menepuk punggung buku seakan tak ingin melepaskannya, mengengamnya ibarat peti emas dan menimangnya laksana merpati dan kemudian merapikannya kembali.

Buku menjadi sejarah dalam setiap langkah, bukulah yang memberikan arti, cerita, makna, Kesan bahkan kepolosan. Dalam setiap perjumpaan manusia dengan realitas, tak lengkap rasanya bila tak diabadikan dalam halaman lembar demi lembar yang kemudian dibaca dan terus dibawa pergi untuk dikenang. Buku telah dibingkai dalam sampul yang menjaganya agar terlindung dan kelak dibuka dan dibuka lagi agar apa yang pernah diceritakan, diceritakan kembali. Apa yang diawali dengan perasaan yang kemudian terwakilkan dalam kata dan kalimat toh akan berakhir juga ke perasaan yang membacanya dan memaknainya.

Tak ada yang lain boleh membelai halaman-halaman yang pernah dibuka karena kamilah pewarisnya, entah sampai kapan, hingga malam semakin larut atau hingga suatu fajar yang datang kemudian. Mungkin ada yang luput dan terlewatkan dalam sebuah kesempatan yang sekejap itu, namun itulah jebakan sisi romantisme tentang hidup, bahwa apa yang berkesan dalam waktu lampau nan pendek berbekas hingga masa mendatang nan panjang. Antara buku yang dikembalikan dan buku yang terberikan.

Dan biarlah halaman-halaman yang pernah dibuka menjadi sayap yang terus terbang hingga kelelahan dan berhenti dengan sendirinya. Halaman hari terus berganti, selepas ini waktupun terus berlalu meninggalkan kesan yang biasa saja ataupun yang sangat mendalam dalam setiap perpindahan halaman. Kemarin menjadi kenangan, hari ini adalah hadiah dan esok menjadi misteri!


Malam Takbiran Lebaran, 1 Syawal 1434 H
Kupang, 7 Juli 2013
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;