Minggu, 23 November 2014

Akhirnya Menikah!


A’uzubillahiminasyaitonnirojim
Bismillaahirrohmaanirroohiim
Astaghfirullaahhal a’dziim x 3
Alazila illahaillahu wal hayul qaayum waatubuilaik
Asyhadu Allah illaaha illallaah
Wa’asyhadu anna Muhamad darrosuullulaah
Allah huma shali ala syaidina muhammad wa’ala ali syaidina Muhammad

Saya terima nikahnya Intan Binti Mansyur Djelil
dengan mas kawin sebentuk cicin emas
seberat 2,9 gram di bayar tunai!

Demikianlah lafald dan ucapan ketika saya mengakhiri masa lajang dengan menikahi seorang gadis. Terhitung di umur 32 Tahun ini akhirnya impian saya untuk duduk di pelaminan tercapai. Ada rasa gundah ketika mengakhiri masa lajang, tetapi ada juga rasa bangga ketika sudah bisa membangun rumah tangga sendiri sebagaimana yang telah dialami teman-teman seperjuangan sebelumnya. Kalau menurut standar yang sudah saya ketahui sejak berseragam putih merah, bahwa usia ideal perkawinanan atau disebut dengan Pasangan usia Subur (PUS) adalah 20 tahun bagi perempuan dan 25 bagi laki-laki, maka saya telah tertunda selama tujuh tahun lamanya. Namun bisa dibilang usia bukan sekedar faktor utama, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan yaitu jodoh, persiapan materi dan kesiapan mental. Dan alhamdulillah ketiga hal tersebut telah terpenuhi bagi saya.


Tak menyangka juga bahwa semua tahapan telah dilalui dalam proses panjang pernikahan ini, di mulai dari perkenalan (pacaran) yang termasuk dalam kategori long distance relationship (LDR) selama setahun lebih, melamar, mengurus semua surat-surat persiapan menikah, bimbingan menikah di Kantor Urusan Agama (KUA), malam pacar hingga menikah, dan kemudian dilanjutkan dengan silahturahmi dengan keluarga sebagaimana aturan adat setempat.

Walau terbilang hanya peristiwa sehari, bahkan kurang dari sehari atau hanya beberapa menit saja proses akad nikah berlangsung. Tetapi peristiwa sakral bagi saya ini akan membekas sepanjang hidup saya, bahwa saya telah mengikrarkan diri dengan menanggung seorang isteri untuk menemaninya sepanjang masa. Bagaimanapun berumah tangga adalah perjalanan panjang di sisa hidup yang tersisa. Tak ada lagi kebebasan di masa lajang ketika hampir semua keputusan dapat di ambil sendiri. Kini segala keputusan harus didiskusikan dengan isteri tercinta. Namun sesungguhnya melalui perkawinan dapat memberikan jaminan ketentraman bagi hidup. Kini hidup tidak lagi sendirian, sudah seatap dengan seseorang yang menjadi tempat berbagi terbaik dalam duka dan suka. Mempertemukan kedua latar belakang yang berbeda tentu bukanlah hal yang mudah butuh cinta, juga butuh komitmen dalam mengarugi bahtera perkawinan ini.

Menikah adalah mengisi substansi hidup yang sebelumnya kosong, karena eksistensi manusia yang belum menikah adalah belum sempurna. Hal inilah yang kemudian dianalogikan dengan laki-laki yang kehilangan tulang rusuknya dan perempuan datang untuk melengkapi kekurangan tulang rusuk yang dimiliki oleh laki-laki. Kekosongan eksistensi inilah yang dapat dijadikan alasan rasional kenapa manusia harus melewati tahapan yang namanya perkawinan. Saling melengkapi dengan memberi dan menerima, yang seiring waktu hal ini akan menjadi dasar dalam pengembangan diri masing-masing untuk menuju pendewasaan dan kematangan dalam menjalani kehidupan bersama yang bahagia.



Selain calon pengantin perempuan yang menggunakan henna pada malam pengantin atau disebut juga dengan malam pacar. Dalam tradisi Muslim Ende, juga menggunakan henna atau pacar di kedua kuku jempol pada pengantin laki-laki di malam yang sama, (yang juga disebut dengan malam debaah) sebagai simbol bahwa yang bersangkutan telah melangsungkan pernikanan, yang akan hilang dengan sendirinya sekitar 4 atau 5 bulan lamanya. (*)


Ende, 23 November 2014
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;