Kamis, 27 Maret 2014

Sebuah Hubungan Jarak Jauh



Entah sejak kapan kata ini dipakai, hubungan jarak jauh atau dalam bahasa Inggrisnya long-distance relationship (LDR) atau dengan tambahan kata romantis menjadi long-distance romantic relationship (LDRR). Mungkin sudah setua dengan peradaban umat manusia, konon kabarnya Adam dan Hawa, ketika diusir dari taman firdaus jatuh ke bumi secara terpisah dalam jarak yang sangat jauh, dengan kontak batin mereka saling mencari keberadaan masing-masing hingga kemudian waktu bisa kembali mempertemukan mereka. Demikian juga berbagai kisah yang mengikuti di segala zaman, di kala sang kekasih terpisah jauh oleh bentangan alam yang memupuk rasa rindu untuk saling bertemu. Seperti sang pelaut yang berlayar jauh meninggalkan kekasihnya, sang prajurit yang ditugaskan di medan tempur hingga sang pekerja yang mengadu nasib di negeri orang.

Hingga kini kisah ini masih terus berulang, takdir memisahkan sepasang kekasih bermil-mil jauhnya melintasi daratan hingga menyeberangi samudra luas. Mereka bisa saja dipisahkan oleh negera yang berbeda, budaya serta corak hidup yang berbeda dan mengharapkan dipertemukan dalam satu pertemuan yang bisa melebur segala perbedaan. Dari masa ketika belum ada sarana yang bisa mengkabari kekasih di tempat jauh, kemudian ditemukan metode pengkabaran pesan melalui surat dan pos, hingga masa di abad ke-19 diketemukannya sarana penghantar suara melalui telepon, membuat sepasang kekasih bisa melepas kerinduan walau hanya melalui suara-suara kesepian.

Di era modern saat ini, sepasang kekasih cenderung dipisahkan oleh domisili, tuntutan ilmu, pekerjaan, tugas dinas dan lain-lain. Namun jarak geografis bisa dilipat melalui kemajuan teknologi saat ini dari hanya SMS-an, saling menelpon, menggunakan media sosial seperti facebook, twitter atau saling bertatap muka melalui fasilitas skype misalnya. Kabarnya pasangan yang memiliki rutinitas untuk saling menghubungi melalui media sosial dapat membantu menjaga dan memelihara hubungan strategis jarak jauh. Untuk saling mengingatkan, memberi perhatian, memahami perasaan masing-masing dan membangun keyakinan untuk hubungan masa depan. Memang bukan hanya pasangan kekasih yang menjalani hubungan jarak jauh, karena masih ada hubungan lainnya seperti pertemanan, persahabatan hingga sanak keluarga.



Berbeda dengan pasangan yang tidak menjalani hubungan jarak jauh, pasangan yang menjalani hubungan jarak dekat tentu saja bisa saling melihat satu sama lain face to face hampir setiap harinya, karena tidak ada halangan geografis apapun. Sedangkan yang mengalami hubungan jarak jauh memiliki keterbatasan untuk saling memperhatikan satu sama lain. Ketika terjadi pertemuan dengan kekasih yang lama tak dijumpai tentu energi akan bertumbuh layaknya fusi yang bereaksi, sebagai bukti kerinduan yang terpenuhi. Kangen adalah rasa yang memang selayaknya dituntaskan dengan saling bertemu, dan menjadi obat mujarab untuk penyakit yang acap kali dinamakan malarindu (malaria karena rindu). Beruntung jika pasangan kekasih berada di garis lintang yang sama, karena berada di zona waktu yang sama sehingga bisa berada di waktu aktivitas yang sama seperti bangun tidur, makan siang hingga tidur malam, namun bagaimana dengan kekasih yang hidup di belahan bumi yang lain yang tidak hanya terpisah oleh jarak tetapi juga terpisah oleh waktu dan aktivitas yang berbeda.

Memang ada beberapa saran untuk mereka yang sedang menjalani hubungan jarak jauh, untuk menghindari hal-hal yang lazim bagi sebuah hubungan jarak jauh seperti kejenuhan. Hal yang perlu diperhatikan adalah intensitas komunikasi yang di jaga, sharing hal-hal yang menarik, menghadirkan romantisme, menghindari rasa cemburu, mendaulat kesetiaan, saling memahami, menghindari egoisme dan tentunya mencari momen untuk bertemu. Sehingga jarak bukanlah sesuatu yang harus ditakuti tetapi sesuatu yang bisa menumbuhkan rasa kasih sayang, saling meluangkan waktu satu sama lain, untuk melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh hubungan jarak dekat.

Hubungan jarak jauh memang telah menjadi perhatian, bahkan di Amerika Serikat ada Pusat Pengkajian Hubungan Jarak Jauh atau The Center for the Study of Long Distance Relationships, mengingat bahwa hubungan jarak jauh memang telah menjadi fenomena khusus, namun saat ini masih kurang kajian yang berhubungan dengan hubungan jarak jauh itu sendiri atau masih interesting to study. (*)

Kupang, 27 Maret 2014
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;