Rabu, 10 September 2014

Menempatkan Belis pada tempat seharusnya


Pagi ini dalam penerbangan, saya membaca tulisan opini di harian Victory News Kupang, oleh Isidorus Lilijawa S. Fil, MM, sebagai pemerhati permasalahaan sosial. Tema tulisan yang diangkat adalah tentang belis, dengan judul “Belis dan Martabat Manusia”, walau singkat tulisan ini sangat mencerdaskan dengan menempatkan belis pada tempat seharusnya. Hal yang dipaparkan adalah relevansi belis dalam nilai budaya dan dampak belis terhadap kekerasan terhadap kaum perempuan atau kekerasan dalam rumah tangga. Memang kajian tentang belis masih menjadi hal yang menarik. Sebagai catatan di Nusa Tenggara Timur, mahar atau mas kawin jamak disebut dengan belis.

Sedari dulu “belis” telah menjadi pembendaharaan kata yang membekas buat saya, yang secara sederhana diartikan sebagai mahar (mas kawin) berupa sejumlah harta yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan sebagai prasyarat berlangsungnya perkawinan. Setahu saya sudah banyak peneliti asing, nasional dan lokal yang mengangkat tema ini dalam penelitiannya, seperti yang saya temukan ketika mereka mendatangi pusat koleksi deposit perpustakaan daerah untuk studi literatur selain melakukan studi di lapangan. Begitu juga istilah “belis” kadang menjadi bahan gurauan bagi teman-teman, bila dalam satu kondisi seseorang belum melunasi utang belis, sekedar candaan tetapi memiliki implikasi yang miris. Namun juga tak dapat dipungkiri bahwa soal belis akan menjadi sesuatu yang saya akan hadapi kelak.

Belis telah menjadi fenomena sosial budaya bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, belis merupakan bagian yang tidak terlepas dari adat perkawinan dan memiliki konsekuensi bila tidak dilaksanakan. Karena menjadi hal yang mengikat maka pembayaran belis perkawinan ini bisa dilakukan dengan tunai saat akan berlangsungnya upacara perkawinan atau dengan cara diangsur dalam atau tanpa batas waktu. Karena belis yang telah ditetapkan menjadi utang maka wajib untuk dibayarkan. Bilamana pihak laki-laki belum melunasi belis-nya dan atau telah meninggal dunia, maka pelunasannya akan menjadi tanggung jawab keturunannya. Bila belis masih belum juga dilunasi maka akan menerima sanksi moral, sosial maupun psikologis di dalam lingkungan masyarakat.

Selain uang, ragam belis di Nusa Tenggara Timur adalah periasan emas atau perak, gading gajah (Flores Timur), moko/nekara perunggu (Alor), ternak seperti kuda, kerbau, sapi dan babi (Sumba), sofren/lempengan emas (Belu). Sedangkan besarnya belis ditentukan oleh keadaan status sosial pihak perempuan, semakin tinggi status sosialnya, maka semakin tinggi belisnya. Namun nilai besaran belis bisa juga bisa ditentukan oleh hasil perundingan antara keluarga pihak laki-laki dan perempuan. Adalah kebanggan jika pihak laki-laki telah berhasil melunasi belisnya baik saat perkawinan atau setelahnya, maka belis bisa dikatakan sebagai simbol pemersatu laki-laki dan perempuan sebagai ikatan suami-istri, dan juga menjadi bagian pengesahan perpindahan marga/suku istri ke marga/suku suami, serta sebagai kompensasi terhadap jasa orang tua mempelai perempuan yang telah membesarkan anak gadisnya. 

photo: suaranews.com

Secara dikotomis, belis bisa dipahami sebagai hal yang positif atau negatif. Determinasi ini bermula dari cara berpikir dan bertindak. Namun di sini penulis opini seperti yang telah saya sebutkan di awal tulisan, memiliki pisau analisis yang baik menterjemahkan bahwa belis merupakan hal esensial karena menyentuh martabat manusia. Belis tidak diartikan sebagai “membeli gadis” baik secara kontan atau cicil, dan juga suatu bagian skenario ekonomi untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya bagi pihak keluarga perempuan terhadap pihak keluarga laki-laki. Maupun beserta dengan dampak ikutannya bila belis belum atau sudah terlunasi baik untuk pihak laki-laki maupun untuk pihak perempuan. Yang mana bila belis belum terlunasi pihak lelaki akan menjadi “perahan” keluarga perempuan dan bila telah terlunasi, maka pihak perempuan akan menjadi “harta milik” yang menjadi sepenuhnya milik pihak laki-laki. Sehingga dapat menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga. 

Namun ketika membaca tulisan beliau dengan menghadirkan prespektif berbeda. bahwasahnya dampak belis terhadap kekerasan di nilai sebagai kematian belis sebagai simbol budaya, karena belis diarahkan pada wilayah ekonomis semata. Sedangkan belis sebenarnya adalah sebuah simbol kebudayaan yang menjaga kehormatan seorang perempuan yang memiliki nilai-nilai luhur sejak dahulu kala, di lain sisi belis juga merupakan bentuk penghargaan terhadap perempuan melalui pertalian kekeluargaan. Manusia hidup dibentuk dari simbol budaya, sehingga manusia menjadi subjek sesungguhnya untuk menjadikannnya dirinya  lebih beradab dan bermartabat. 

Sebagaimana peribahasa Flores berbunyi: “dua naha nora ling, nora weling, loning dua utang ling labu weling, dadi ata lai naha letto wotter”, (setiap perempuan mempunyai nilai, mempunyai harga, sedangkan sarung dan bajunya juga mempunyai nilai dan harga, sehingga setiap lelaki harus membayarnya). (*)

Tambolaka, 10 September 2014
©daonlontar.blogspot.com
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;