Minggu, 14 September 2014

Menulis di taman



Momen menulis adalah waktu terbaik ketika kita mampu mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran dan menuangkan ke dalam tulisan. Apa yang keluar dari pikiran juga sangat tergantung dengan suasana hati di mana kita menulis. Kesempatan kali ini saya manfaatkan menulis di sebuah taman hotel saat hari baru menjelang, dengan matahari pagi yang hangat dan cerah. Taman hotel ini di disain sederhana dengan pepohonan seperti cemara, palem, puring, asoka dan kamboja, beserta beberapa patung hewan seperti kerbau, kuda, rusa, anjing, burung camar hingga ular piton. Ada juga patung-patung taman etnik khas daerah, dan tak lupa taman ini juga dilengkapi dengan kolam ikan. Suasana yang ada seakan membuat segar apa yang ada di pikiran dan tubuh.

Di taman inilah mengawali hari dengan sebuah semangat pagi yang begitu indah sambil menghirup udara segar aroma rerumputan yang basah karena embun dan air kolam dingin dengan ikan-ikan yang masih dalam ketenangan. Udara yang ada menyatu merasuk hingga sum-sum tulang dan menembus otak, hingga bisa memandu jemari untuk menulis kata-kata ini. Terdengar juga suara kicau burung dan ayam, yang memang tak bosan-bosannya bersuara lantang di pagi begini. Sepertinya mereka juga menemukan waktu terbaik untuk menunjukkan eksistensinya diantara mahluk sejenis, bahkan sesekali terdengar ringkih kuda dari kejauhan. Walaupun kadang suara natural hewan itu dikacaukan dengan suara mesin kendaraan yang lalu lalang tak jauh dari sini.

Pagi ini juga tampak beberapa kupu-kupu melintas, dan yang menjadi perhatian ditaman ini adalah sekumpulan ayam kotek atau ayam kerdil dengan ciri tubuh kecil mungil dan memiliki kaki yang pendek. Pergerakan mereka seolah memberi lahirnya beberapa ide-ide dalam menulis. Di kesempatan inilah, apa yang menjadi inspirasi untuk menulis begitu mudah untuk didapatkan. Kadang di waktu sedang menulis, saya masih lebih banyak melihat-lihat sekeliling dan menikmatinya. Melemparkan pandangan terdekat di kolam dengan melihat pergerakan ikan, lalu ke ayam-ayam yang sedang mengais diatas rerumputan, burung-burung dalam sangkar dan juga di pucuk-pucuk dahan dan kemudian juga bisa melemparkan pandangan jauh dibelakang taman yaitu hamparan luas padang sabana Sumba.

patung serupa persis dengan anjing

Taman tidak lengkap jika tidak dilengkapi dengan saung, yang adalah bangunan atau rumah kecil. Dahulunya saung di sebut sebagai gubuk kecil yang terletak di luar rumah seperti di persawahan, ladang dan kebun. Saung kini lebih dikenal sebagai tempat berteduh atau beristirahat di tengah taman, peristilahan modern menyebutnya dengan gazebo. Sehingga kebanyakan hotel telah memberikan fasilitas ini kepada tamu baik itu di taman hingga kolam renang. Bahkan rumah makan atau restoran sudah memakai konsep saung ini. Saung yang menciptakan suasana tradisional dengan kesan perdesaan yang natural. Saya juga masih terhibur dengan hembusan angin dingin yang membunyikan hiasan gantung di saung, terbuat dari bambu yang bunyinya seperti alunan angklung.

Kecuali ornamen taman berupa patung-patung hewan yang dibuat senatural mungkin, beserta patung-patung etnik Sumba. Semua yang ada benar-benar alami seperti saung yang terbuat dari kayu dan alang-alang, pohon, suara hewan, udara yang sejuk dan lain-lain. Berbeda jika konsep saung taman ini diaplikasikan ke dalam ruangan indoor, seperti terlihat di bangunan pusat atau tengah kota yang modern, karena keterbatasan lahan. Hampir dipastikan gambar pemandangan hanya sekedar lukisan-lukisan, udara sejuknya tidak asli karena datang dari air conditioning, ikan-ikan di kolam digital atau mainan, bunga atau pohon imitasi, suara yang ada hanya suara rekaman kicau burung atau hanya musik dan lain sebagainya. Intinya hampir semua meniru alam sehingga yang tampak sesungguhnya adalah plastic material visual, dan tentu juga akan menghadirkan ide-ide yang plastik.

Hal inilah sekiranya bahwa sebuah rumah idaman adalah memiliki taman yang sejuk dan indah, memiliki sebuah saung tempat berkontemplasi, yang bisa membuat relaksasi pada tubuh, jiwa dan pikiran. (*)



Menghabiskan waktu minggu pagi dengan ngeblog di taman!
Lokasi: Taman Hotel Sinar Tambolaka Pukul: 06.30 – 08.30 am

Tambolaka, 14 September 2014
©daonlontar.blogspot.com

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;