Selasa, 18 November 2014

Memesan buku dari luar negeri




Beberapa waktu lalu, saya melakukan pemesanan buku terbitan luar negeri via salah satu toko buku online nasional. Pemesanan buku ditujukan ke Amazon.com yang adalah salah satu perusahaan perdagangan buku online multinasional dan memiliki cabang di beberapa negara yaitu United State, United Kingdom, Canada, Japan, France, Germany, Italy, Spain dan China. Buku yang saya pesan adalah Lonely Planet Indonesia 10th Edition (Paperback), karena buku yang saya inginkan adalah terbitan Kanada, maka buku tersebut dikirim langsung dari Kanada oleh Amazon. Bila buku ready di gudang Amazon, maka pengiriman akan dilakukan dengan cepat. Seperti pengalaman kali ini, tak sampai seminggu buku yang dipesan telah tiba, menggunakan jasa pengiriman DHL International dengan Standard International Shipping (CA). Pengiriman buku dari Kanada hingga Kota Kupang hanya membutuhkan waktu 6 hari, tidak termasuk proses pemesanan.


Kemajuan teknologi informasi memungkinkan kita untuk melakukan pemesanan barang seperti buku dan barang lainnya dari luar negeri dengan mudah. Sayangnya membeli buku terbitan luar negeri atau buku impor harganya terbilang mahal. Misalnya, perhitungan buku yang saya beli tergantung dengan kurs mata uang asing sesuai dengan negara tempat buku yang dipesan, yaitu kisaran Rp 300 ribu-an sudah termasuk diskon yang diberikan, belum lagi ditambah dengan ongkos kirimnya, yang biasa hampir 70% dari buku yang dibeli. Sehingga perhitungannya bisa mencapai Rp. 500 ribu-an, sebuah. Jadi sungguh beruntung jika kita membeli buku terjemahannya di Indonesia bila tersedia, dengan harga yang begitu murah jika dibandingkan dengan buku terbitan dan cetakan dari Negara yang lebih maju. (*)

Kupang, 18 November 2014
©daonlontar.blogspot.com

 
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;