Rabu, 07 Desember 2011

Masakan Padang di Ranah Timor

photo: http://mursid.web.id/wp-content/

Sedari kecil lidah ini memang telah dimanjakan dengan masakan Padang, bagaimana tidak jika almarhum ayahanda sepulang kerja hampir selalu membelikan ayam bumbu Padang. Konon katanya saya dapat melahap hingga tulang. Semasa kecil juga hampir di setiap kesempatan perjalanan antar kota di Pulau Timor, bus akan singgah di rumah makan Padang. Rupanya hingga kini tidak ada yang berubah, bahwa bus akan selalu singgah di rumah makan Padang, dan tampaknya hal ini berlaku di seluruh pulau di Indonesia.

Masakan Padang bercita rasa tinggi dengan menujukkan karakter rasa gurih dan pedas. Kedua rasa tersebut diperoleh dari santan dan cabai merah, yang memang sangat digemari oleh orang Padang. Konon semakin jauh dari Padang, rasa pedas masakan Padang akan semakin berkurang. Jika demikian maka masakan Padang di Timor tidak sepedas dengan masakan Padang yang ada Sumatra atau Jawa. Kemudian yang membedakan dengan masakan Jawa, adalah bahwa masakan Padang tidak pernah memakai pemanis gula baik gula putih maupun gula merah.

Rumah makan Padang kini menjamur di mana-mana, dari penjuru dan pelosok negeri bahkan hingga ke mancanegara. Dengan demikian tidak salah bila masakan Padang atau lebih tepatnya hidangan masakan orang Minang (karena berasal dari ranah Minang) telah menjadi selera nusantara, dipastikan bahwa siapapun telah dan pernah merasakan masakan Padang. Biasanya seseorang yang baru datang disebuah kota yang masih asing akan lebih memilih mencari rumah makan Padang di bandingkan dengan rumah makan lainnya. Begitu mudah menemukan rumah makan Padang karena sudah dapat dikenali dari fasade rumah makan yang vulgar memperlihatkan makanan dengan tatakan piring yang khas. Di ranah Timor rumah makan Padang bertebaran di kota-kota utama hingga kecamatan dan juga dapat dilihat bahwa kedudukan rumah makan sangat strategis. Saya sempat bertanya ke salah seorang empunya rumah makan Padang, bagaimana hingga ia bisa mendapatkan tempat strategis. Jawabannya sederhana ia akan mencari siapa yang punya kuasa yang lebih tinggi di wilayah tersebut dan selanjutnya ada deal yang saling menguntungkan.

Ada beberapa rumah makan Padang besar yang staf pelayannya adalah orang yang didatangkan jauh dari Padang, namun ada juga staf pelayan yang adalah orang lokal. Cerita lucu datang dari seorang kenalan yang pada setiap rumah makan Padang yang ia kunjungi, selalu memanggil salah seorang pelayan dengan nama “Sipri”, dan seolah-olah akrab. Anggapanya bahwa di setiap rumah makan Padang pasti ada yang bernama Sipri, walau belakangan itu hanya guyonan belaka. Cerita menarik juga datang dari bus-bus antar kota yang merupakan transportasi darat masal lintas Timor. Dengan perjalanan yang agak panjang seperti tujuan Kefamenanu, Atambua, Betun atau Besikama maka bus akan singgah istirahat makan di Niki-Niki (137 kilometer dari Kota Kupang). Namun herannya bus akan selalu singgah di rumah makan Padang. Kemudian baru diketahui bahwa antara pemilik rumah makan dan supir bus telah menjalin semacam Memorandum of Understanding (MOU), bahwa supir bus harus menurunkan penumpang di rumah makannya dan sebagai balasan, supir bus dan kondektur di berikan tempat khusus terpisah dari para penumpang, dan tentunya dilayani makan gratis dan sepuasnya. Bukan hanya itu setiap bulannya para supir akan diberikan bagi hasil dari prosentase berapa banyak penumpang yang telah makan di rumah makan tersebut. Lumayan bukan, kerjasama yang saling menguntungkan!

photo: http://commons.wikimedia.org

Terlepas dari penilaian bahwa masakan Padang akan lebih terasa nikmat jika telah dipanaskan beberapa kali, namun masakan Padang telah menjadi bagian dari kuliner nusantara. Kini masing-masing kita punya referensi rumah makan Padang favorit, salah satu yang terbaik menurut saya ada di bilangan Jalan Sudirman Kuanino, dan salah satu sajian terbaik adalah sambal cabai hijau. Dan hampir di setiap perjalanan luar kota bersama teman-teman, rumah makan Padang selalu menjadi pilihan utama entah kebetulan atau tidak bahwa masakan Padang telah menjadi selera bersama. Selain itu masakan Padang telah menjadi menu andalan di kantor. Dalam beberapa kegiatan kecil, bagian keuangan selalu mendatangkan puluhan nasi kotak Padang bertulis Persada. Sebagai penutup seraya bertanya “what you're lunch today?”.


Kupang, 07 Desember 2011
©daonlontar.blogspot.com
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;