Sabtu, 03 Desember 2011

Raja Soefa Leöe - Raja Amanuban

photo: Tropenmuseum Royal Tropical Institute

Sewaktu tamat dari SMP Negeri 2 Kupang, perjalanan membawa saya bersekolah di SMU Negeri 1 SoE Kabupaten Timor Tengah Selatan. Setelah mengikuti tes masuk dan mendapat peringkat 18, maka saya ditempatkan di kelas I.1 (saat ini sama dengan posisi kelas 10). Bermukim di Kota SoE kurang lebih tiga tahun hingga menyelesaikan SMU dan kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Makassar. Ketika berdomisili di SoE, saya tidak tinggal dalam wilayah Kecamatan Kota SoE, namun berada di wilayah Desa Mnelalete Kecamatan Amanuban Barat Kabupaten Timor Tengah Selatan 85551, sesuai dengan yang tertera di Kartu Tanda Penduduk Nasional yang saya miliki. Wilayah Amanuban dahulunya merupakan sebuah kerajaan (swapraja), yang kemudian bersama dengan Kerajaan Amanatun dan Kerajaan Molo membentuk Zuid Midden Timor atau saat ini lebih dikenal sebagai Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan Ibu Kota SoE.

Sedikit saya surfing mencari informasi sejarah Amanuban, dan akhirnya menemukan potret salah satu Raja Amanuban yang sangat terkenal ia adalah adalah Raja Sufa Leu yang kemudian lebih dikenal dengan nama Raja Bill Nope. Beliau adalah raja ke-12 dari Kerajaan Amanuban. Dibawah kepemimpinannya Kerajaan Amanuban kuat dan bebas dari pengaruh dan tekanan kolonial. Rakyat Amanuban begitu takut, tunduk dan patuh kepadanya, bila mana akan datang bertemu raja maka rakyat akan merangkak atau dengan tubuh merayap. Bahkan setiap rakyat Amanuban yang menghadap kepadanya tidak berani memandang wajah raja, kalaupun mengangkat wajah dihadapan raja maka harus memejamkan mata. Berikut adalah potret yang diambil tahun 1906 di Niki-Niki, memperlihatkan Raja Bil Nope sedang duduk diatas kursi roda di depan sonafnya dan dikelilinggi oleh hamba-hambanya. Terlihat juga rakyat Amanuban yang sepertinya sedang memikul persembahan hasil-hasil panen kepada raja.

Pusat kekuasaannya berada di Niki-Niki (27 Km dari Kota Soe) yang telah menjadi pusat kerajaan Amanuban sejak tahun 1808. Karena siasat Belanda, Raja Bil Nope akhirnya menandatangani Korte Verklaring pada tanggal 1 Juli 1908, sebagai pengakuan terhadap kekuasaan Belanda. Perjanjian tersebut sangat merugikan rakyat Amanuban karena diharuskan membayar pajak yang tinggi kepada pemerintah kolonial, menyerahkan hasil bumi serta melakukan kerja rodi pembangunan jalan dari Kota Niki-Niki hingga Kota Kefamenanu. Raja Bil Nope geram dan sejak tahun 1909 memutuskan perang dengan Belanda. Perang membuat Raja Bil Nope terdesak dan akhirnya lebih memilih mati menguburkan diri daripada menyerah kepada Belanda. Kematiannya tragis, yang mana ia beserta keluarganya memasuki lubang perlindungan dan meminta pengawalnya membakar lubang tersebut. Beliau menjadi raja sejak tahun 1870 dan mangkat pada Bulan Oktober 1910. Salah satu cucunya bernama Kusa Nope menjadi Raja Amanuban ke-16 dan kemudian menjadi Bupati Timor Tengah Selatan yang pertama. 

Dalam hati sebuah kebanggaan pernah tinggal di wilayah pedalaman Pulau Timor, Pulau yang sering menjadi bahan diskusi meja konsorseum perusahaan-perusahaan Belanda yang tergabung dalam VOC pada abad ke-17 hingga 18, mereka membahas tentang sumber utama perdagangan pulau ini, cendana.

Kupang, 03 Desember 2011
©daonlontar.blogspot.com
comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;