Selasa, 06 Desember 2011

Eksotika Larantuka

photo: http://yohanesbernard.multiply.com/

Pekan lalu saya bersama tim dari Bappeda Provinsi NTT berkesempatan menjalankan tugas pendampingan penyusunan Renstra SKPD di Flores Timur. Untuk pertama kalinya saya dapat berkunjung ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ini adalah ibu kota kabupaten keenam yang telah saya kunjungi di Pulau Flores, minus ibukota Ruteng (Manggarai) dan Borong (Manggarai Timur) yang belum pernah dijejaki sama sekali. Perjalanan diawali dengan penerbangan Kupang-Maumere menggunakan Wings Air milik maskapai penerbangan Lion Air, dan dari Maumere melanjutkan perjalanan darat  arah timur sejauh 137 Kilometer yang ditempuh dalam waktu tiga jam menuju Kota Larantuka. Di Larantuka kami menginap di Hotel Asa, sebuah hotel yang terbilang akomodatif dan juga tepat berada di tepian Pantai Weri yang cukup memesona karena berhadapan langsung dengan Pulau Adonara.

Kota Larantuka adalah kota pesisir pantai yang bertengger di kaki Gunung Ile Mandiri. Letaknya yang berada di lereng gunung tentu beresiko, sehingga dalam RTRW Provinsi ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana longsor. Gunung Ile Mandiri dapat terlihat jelas di belakang kota, tampak juga bahwa pengembangan kota ke arah utara menuju Bandara Gewayantana. Di wilayah Nusa Tenggara Timur, kota ini telah menjadi kota wisata alam, wisata budaya dan wisata religi. Menarik adalah keberadaan pekuburan dari para misionaris, yang berada dalam area lingkaran di tengah-tengah kompleks pemakaman Larantuka, tentunya berbeda karena bernisan salib berlingkar yang terkesan dengan nuansa gothic. Namun saya tidak sempat menggunjunginya.

Salah satu wisata religi yang dikenal adalah pelaksanaan Prosesi Semana Santa (Pekan Suci), merupakan tradisi yang diwariskan pastor Portugis yang datang ke Larantuka pada abad ke-16 atau telah berusia lima abad. Konon di Portugis, negara asal prosesi ini, sudah lama ditinggalkan, selebihnya masih diadakan di Filipina dan Syanyol, sedangkan di Indonesia hanya dilakukan di Larantuka. Hal ini yang membuat warga NTT di perantauan selalu mengusahakan ke Larantuka atau semacam mudik saat Paskah, demikian juga kegiatan ini telah menarik perhatian umat Katholik dari berbagai daerah dan mancanegara datang ke Larantuka sebagai peziarah, uniknya lagi tradisi Paskah ini pada Jumat Agung dilakukan juga di laut. Kota Larantuka yang memiliki banyak kapel ini selain dikenal sebagai Kota Santa Maria, yang merupakan tempat pertama dan tertua dalam sejarah misionaris katholik di Indonesia. Di kenal juga sebagai Kota Reinha yaitu sebagai kota pusat Kerajaan Katolik. Dikisahkan sejak Raja Larantuka di baptis ia menyerahkan tampuk kekuasaan kepada anaknya yang kemudian juga dibaptis. Setelah itu ia menyerahkan tampuk kekuasaan kepada Bunda Maria yang ditandai dengan penyerahan mahkota, tongkat dan rosario sehingga Kota Larantuka menjadi Kota Reinha dan saat ini menjadi kota wisata religi.
 
photo: Elvis Naimuti

Satu kesan dari perjalanan ini, saat kembali ke Kupang adalah untuk pertama kali menggunakan jasa pesawat milik maskapai penerbangan berjadwal dan charter Susi Air. Nama maskapai yang diambil dari nama pemiliknya, Susi Pudjiastuti yang berkedudukan sebagai CEO Susi Air. Naik pesawat berjenis Cessna C208B Grand Caravan, tentu sensasi yang diperoleh berbeda jika dibandingkan menaiki pesawat jenis ATR, Fokker, Boing atau Airbus. Salah satunya bisa melihat langsung aktivitas pilot di kokpit. Seolah berada di pesawat tempur zaman Perang Dunia II, no pramugari, no seat number, no cabin, no standing, no magazine dan tentunya no toilet. Seorang teman sempat gemetaran, ketika pesawat kecil ini turbelensi menembus kumpulan awan cummulus. Memang beberapa teman sempat meragukan safety dari pesawat berjenis ini dan diantaranya baru kali pertama menggunakan pesawat ini, apalagi berat badan perlu ditimbang untuk menaiki pesawat. Pesawat hanya dapat memuat 12 penumpang dengan dua orang pilot dan kopilot bule, mengingat 98 persen pilot maskapai ini berkewargaanegaraan asing. Saat ini Susi Air melayani penerbangan dari dan ke, Kupang (Bandar Udara El Tari), Atambua (Bandar Udara Haliwen), Larantuka (Bandar Udara Gewayantana), Lewoleba (Bandar Udara Wunopito) dan Sabu (Bandar Udara Tardamu). Kami tiba dengan selamat, Larantuka-Kupang di tempuh dalam waktu 50 menit.

Larantuka, End November 2011

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;