Selasa, 10 Januari 2012

Penerbit Ledalero, Suluh dari Timur

Logo Penerbit Ledalero (PL)
Nusa Tenggara Timur acap kali dinilai sebagai wilayah yang terbelakang dalam pembangunan. Ini dapat dilihat pada beberapa indikator pembangunan daerah yang belum dapat mencapai angka yang memuaskan. Lemahnya pembangunan disebabkan oleh keterbatasaan sumber daya alam dan sumber daya manusia, yang sebenarnya masih belum dikembangkan secara maksimal. Namun fokus masih diarahkan pada kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dituding sebagai penyebab lambatnya pembangunan di tanah Flobamora ini, hal ini terlihat dari rendahnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang menempatkan Provinsi NTT di peringkat 31 dari 33 provinsi. Namun dibalik itu ada secercah harapan dari segi pembangunan pendidikan di Nusa Tenggara Timur, salah satunya melalui Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero atau yang biasa disingkat dengan STFK Ledalero yang berada di Flores.

Embrio sekolah tinggi ini telah ada sejak tahun 1937, dengan tujuan membina dan mendidik para calon imam Katolik dengan membekali melalui mata kuliah filsafat, teologi, Kitab Suci dan Iimu-ilmu humaniora. Dalam perkembangannya muncul jurusan Filsafat Agama dan Program Studi S1  Filsafat Agama Katolik (Ilmu Teologi), sehingga STFK Ledalero mulai menyelenggarakan pendidikan yang terbuka juga bagi para mahasiswa-mahasiswi bukan calon imam. Kini nama STFK Ledalero Maumere telah dikenal di mana-mana bersanding dengan STFK Suryagung Bumi Bandung, Driyarkara Jakarta dan Widya Sasana Malang.

Buku-buku terbitan Ledalero koleksi Perpustakaan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur I

Bermula dari pertambahan tenaga pendidik dan peningkatan minat pengetahuan maka penulisan karya ilmiah menjadi sebuah keharusan. Untuk itu STFK Ledalero membidani lahirnya Jurnal Ilmiah Ledalero sebagai wadah diskursus intelektualitas. Ledalero dalam bahasa setempat berarti “tempat sandar matahari”, dianggap mewakili ekspresi gagasan dasar penerbitan jurnal yaitu untuk meningkatkan kesadaran akan persentuhan iman dengan kebudayaan, nilai-nilai religius, permasalahan sosial dan politik. Bersamaan dengan maksud di atas maka di tahun 2002, diresmikan pula Penerbit Ledalero untuk menerbitkan Jurnal Ledalero dan juga menerbitkan karya-karya dari berbagai bidang sesuai pertimbangan kelayakan dari para penanggung jawab penerbitan.

Buku-buku terbitan Ledalero koleksi Perpustakaan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur II

Penerbit dengan slogan books that matter ini telah menerbitkan buku-buku karya ilmiah para dosen atau mahasiswa, hasil-hasil penelitian, buku editorial dan buku-buku terjemahan yang bertemakan filsafat, teologi, antropologi, psikologi dan umum. Sudah seratusan lebih buku yang diterbitkan oleh penerbit Ledalero diiantaranya ditulis oleh penulis lokal yang mumpuni seperti Paulus Budi Kleden, Eben Nuban Timo, Georg Kirchberger, Bernardus Boli Ujan, Philipus Tule dan Otto Gusti Madung.

Walau sudah berusia satu dekade namun Penerbit Ledalero perlu belajar dari pendirian Penerbitan Gramedia di sekitar tahun 60-an. Gramedia sebagai penerbitan yang tumbuh di masa itu yang ingin mewujudkan visi berperan serta mengembangkan intelektualitas masyarakat Indonesia, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih baik. Hal yang dilakukan adalah mendorong minat baca masyarakat Indonesia, agar kehidupan mereka dapat berubah melalui kekuatan pengetahuan. Dengan misi ikut serta dalam upaya mencerdaskan bangsa melalui penyebarluasan pengetahuan, keilmuan dan informasi. Kini Kelompok Kompas Gramedia (KKG) sebagai induk penerbitan telah berkembang dengan pesat karena memiliki jaringan toko buku terbesar di Indonesia. Dengan melihat peluang itu maka visi penerbitan Ledalero tak berbeda jauh dalam upaya dan tekad untuk menjadi salah satu penerbit dari wilayah Indonesia Timur yang turut melemparkan gagasan-gagasan ilmiah bagi masyarakat akademis dan sekaligus memperkaya wacana keilmuan masyarakat pada umumnya.

Buku-buku terbitan Ledalero koleksi Perpustakaan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur III

Berangkat dari senerai diatas maka tidak berlebihan jika dikatakan Penerbit Ledalero akan menjadi suluh perkembangan pengetahuan dari timur. Saat ini juga tak dapat dipungkiri bahwa Penerbit Ledalero adalah lembaga penerbitan lokal yang paling eksis di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jika penerbit Ledalero konsisten terhadap penerbitan buku bermutu maka kelak akan menyamai lembaga penerbitan nasional seperti Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Bhuana Ilmu Populer, Bentang Pustaka, Bentara Budaya, Elex Media, Kanisius, Pustaka Pelajar dan Penerbit Mizan.

Penerbit Ledalero beralamat di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere 86152 Flores, NTT atau juga dapat dikunjungi melalui Penerbit Ledalero. Ketika berada di Kota Maumere pada Oktober 2011, lalu,  saya menyempatkan diri berkunjung ke Gramedia Book Store Maumere. Di toko tersebut terdapat tiga rak yang menyediakan buku-buku khusus terbitan Ledalero, saya sempat memilah beberapa buka dan akhirnya membeli sebuah buku terbitan Ledalero sebagai kenang-kenangan. (*)

Kupang, 10 Januari 2012

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;