Rabu, 25 Januari 2012

Adaptasi dan Darwinisme Sosial

“Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, demikian peribahasa yang sering kali digunakan untuk menggambarkan perbedaan corak dan keanekaragaman. Namun banyak yang tidak menyadari bahwa proses yang terjadi adalah proses adaptasi yang telah berlangsung lama. Jenis belalang atau ikan baik itu dari warna dan ukuran sangat tergantung dari proses adaptasinya terhadap lingkungan, berdasarkan jenis tanah, rumput maupun suhu. Mengapa adaptasi menarik untuk diperbincangkan, karena seluruh mahluk hidup, mau tidak mau harus beradaptasi dengan alam atau lingkungan di mana ia berada.

photo: http://images.picturesdepot.com/photo/d/dinosaurs_wallpaper-29125.jpg
Adaptasi berasal dari kata adaptation, yang berarti penyesuaian. Sering kali digunakan dalam ilmu biologi, yang secara keseluruhan menggambarkan dunia alami. Sedangkan istilah lainnya yaitu adjustment, yang sering kali dipergunakan dalam ilmu akuntasi dan secara keseluruhan dapat menggambarkan dunia sosial. Sebagaimana alam adalah di luar kendali manusia, maka adaptasi yang dilakukan sepenuhnya tergantung dari kondisi alam. Sedangkan dalam ilmu sosial, segala sesuatu dapat dikendalikan dan diarahkan. Dengan demikian adjustment yang dilakukan akan terus mempengaruhi kondisi sosial yang terjadi. Untuk memudahkan pembahasan selanjutnya digunakan istilah adaptasi.

Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup (survive). Ditandai dengan berbagai kemampuan, antara lain memperoleh makanan (air, udara, nutrisi), mengatasi kondisi fisik lingkungan sekitar (temperatur, cahaya, panas), mempertahankan hidup dari musuh alami, bereproduksi dan merespon perubahan yang terjadi disekitarnya. Bagi yang mampu beradaptasi, maka organisme tersebut bertahan hidup dan bilamana tidak mampu maka organisme tersebut mengalami kepunahan atau kelangkaan jenis.

Momentum adaptasi terbesar dalam sejarah, dimulai pada 65 juta tahun yang lalu. Kala itu disebut sebagai zaman Dinosaurus, hewan besar yang jasadnya telah berjasa terhadap kemajuan pertumbuhan ekonomi manusia selama dua abad terakhir ini. Pada waktu itu, hewan-hewan raksasa inilah yang mengendalikan kehidupan di dunia, namun tidak untuk selamanya, karena ternyata dinosaurus tidak memiliki kemampuan beradaptasi dengan adanya perubahan yang cepat dan mengakibatkan kepunahan untuk selama-lamanya. Teori besar tentang kepunahan dinosaurus berawal dari hujan asteroid yang membentur permukaan bumi dan juga pengaruh meletusnya beberapa gunung api. Sehingga dalam tempo singkat lingkungan mengalami perubahan drastis pada iklim dan biosfer. Dengan demikian secara ekologi biologis dinosaurus tidak dapat bertahan. Bukan hanya secara biologis, penemuan mutakhir mengatakan bahwa secara psikologis juga turut mempengaruhi, di mana perubahan iklim dingin ke pemanasan bumi, sebagai akibat letusan gunung berapi menimbulkan efek stres pada hewan-hewan tersebut dan akhirnya membunuh mereka. Kini sisa-sisa kejayaan dinosaurus hanya dapat disaksikan di museum purbakala dunia atau yang telah difilmkan secara animasi. Sungguh sebuah takdir yang tak dapat dielakkan. Setelah itu kehidupan tidak serta merta berakhir, mulailah bermunculan hewan-hewan kecil mamalia (menyusui), mengambil alih kekuasaan hewan-hewan besar. Kehidupan terus berlanjut dan kini manusia sebagai salah satu jenis mamalia, yang telah menduduki bumi dan menjadi salah satu entitas penting.

Adaptasi memaksa manusia untuk berpikir. Semula manusia dikendalikan oleh alam mitos, lalu kini beralih ke alam logos. Lambat laun manusia mampu beradaptasi dengan lingkungan kehidupan, yang terlihat dari perubahan pola hidup sejak ratusan ribu tahun silam. Perubahan revolusioner dari zaman batu yang identik dengan kapak batu dan tulang ke zaman modern dengan mesin kerja. Bukan hanya dalam perkakas, tapi telah mencakup alat-alat transporatasi, komunikasi, rumah, sistem produksi, busana sampai pada penemuan mutkahir semisal komputer yang memudahkan segala urusan manusia.

Sebagaimana manusia beradaptasi secara biologis, maka manusia dituntut pula untuk beradaptasi secara sosialogis. Ini dikarenakan manusia bukan hanya sebagai mahluk biologis tetapi juga sebagai mahluk sosial. Adaptasi sosial yaitu kemampuan merespon perubahan lingkungan sosial berupa ekonomi, politik, budaya, teknologi dan ilmu pengetahuan yang sering kali terjadi di sekitar kita. Perubahan suhu dapat mengakibatkan metabolisme tubuh beradaptasi dengan berkeringat saat panas atau penuhnya kandung kemih saat dingin. Sedangkan perubahan pada kondisi sosial, mengakibatkan perubahan prilaku beradaptasi, dapat berupa berkerja untuk mempertahankan hidup, melestarikan ritual kebudayaan, mematuhi keputusan hasil musyawarah, belajar tentang sesuatu dan sebagainya.

Lingkungan sosial yang kita diami, dapat berupa organisasi, lembaga pendidikan, masyarakat, perusahaan dan lain-lain. Adalah tempat ideal untuk beradaptasi, bila mana budaya, nilai dan norma yang berlaku pada institusi tersebut sama dengan sikap dan pribadi kita, maka proses adaptasi akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Sebaliknya jika budaya, nilai dan norma itu bertentangan dengan sikap dan pribadi kita, maka proses adaptasi akan berakhir pada konflik dan akan mempengaruhi kondisi psikologis. Jalan yang ditempuh bila mana tidak dimungkinkan adanya penyesuaian nilai, maka pilihan mencari habitat lain adalah solusi.

Kadang manusia memiliki daya resistensi yang tinggi terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Sebagai contoh, negeri Belanda secara geografis adalah negara yang berada di bawah permukaan air laut, jarang terdapat dataran tinggi. Hal ini memaksa Bangsa Belanda untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ada. Beberapa usaha dilakukan, antara lain menimbun gundukan tanah, memompa air keluar dengan kincir anginnya dan membangun bendungan penahan, ini dilakukan secara terus-menerus dan memberikan keahlian tersendiri bagi Bangsa Belanda. Jika ditanya, siapa ahli bendungan nomor satu dunia, maka Bangsa Belanda adalah jawabannya.


http://www.old-picture.com/indians/pictures/Eskimo-Family.jpg
Bangsa Kuba demikian pula, di bawah tekanan embargo ekonomi total oleh Amerika yang telah berlangsung selama setengah abad, mengakibatkan standar hidup masyarakat menurun, keterbatasan pangan dan bahan bakar minyak. Namun Bangsa Kuba tetap eksis dengan sistem pemerintah kontra kapitalisnya. Masyarakat Kuba pun loyal dengan pemimpinnya, tak heran bila kemampuan Kuba beradaptasi, membawa pengaruh pada sektor pendidikan dan kesehatan, menjadi yang terbaik di Amerika Latin. Tak beda halnya dengan suku Inuit (eskimo, pemakan daging mentah) adalah suku yang mampu hidup di daerah kutub sub-artika dari lahir sampai meninggal, dengan memakai pakaian yang sangat tebal. Bukan hanya bangsa-bangsa di atas yang bisa memiliki daya resistansi yang tinggi, secara individu pun demikian, kita sering mendengar berita tentang seseorang yang tersesat di tengah hutan belantara, gurun, padang pasir sampai lautan luas, tetap mampu bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama dengan berbagai usaha perjuangan untuk hidup (survival).

Dalam bidang pengetahuan dan teknologi, manusia memiliki keterbatasan untuk hidup di luar biosfer bumi. Manusia berusaha keluar dari keterbatasan tersebut dengan adanya kemajuan teknologi yang memungkinkan penjelajahan ke luar angkasa, yang sebelumnya hanyalah ego dalam perang dingin yang mendorong manusia untuk melakukan hal tersebut. Adaptasi terjadi pula dalam bidang komunikasi, dilihat dari adanya huruf latin yang telah dipergunakan secara umum, bahasa Inggris yang diterapkan sebagai bahasa internasional sampai pada keyboard model Qwerty yang telah dipergunakan secara luas, belum lagi hadirnya komputer yang membantu manusia dalam berbagai urusan. Dengan demikian efek dominan yang mempengaruhi seseorang untuk beradaptasi dan memiliki kemampuan menggunakannya (melek).

Adaptasi oleh dunia usaha lumayan berat, lingkungan makro dipengaruhi oleh inflasi, pertumbuhan ekonomi, tingkat pengganguran, kemajuan perbankan, pemanfaatan teknologi, dan lain-lain. Sedangkan untuk skala mikro, dilihat dari banyaknya produk yang gagal dalam masa perkenalan, hanya karena tidak mampu beradaptasi dengan selera konsumen. Beberapa perusahaan sangat peka terhadap selera konsumen dan berusaha untuk beradaptasi. Mc Donald misalnya, yang untuk pemasarannya di Indonesia menyediakan paket nasi, menjawab tipikal perut masyarakat Indonesia yang tidak kenyang kalau bukan dengan nasi. Sama halnya dengan seragam militer yang berkamuflase sesuai dengan warna topografi wilayah masing-masing.

Kemajuan manusia dalam beradaptasi secara biologis dan sosial patut dipertanyakan saat ini. Sampai kapankah manusia dapat bertahan dengan berbagai kondisi dan realitas kekinian!. Diramalkan dalam kurun waktu tidak lama lagi, Indonesia akan menjadi pengimpor bersih (net imported) minyak bumi, karena cadangan minyak bumi dalam negeri akan habis. Dan dalam beberapa dekade mendatang minyak dunia (dari fosil) akan habis pula. Kemajuan dari ketergantungan minyak bumi, membawa kehidupan manusia berjalan mundur, tanda-tanda itu sudah ada. Misalkan ketika listrik padam, semua kegiatan manusia akan terhenti dan hanya dibantu penerangan pelita (lilin). Krisis bahan bakar minyak mengakibatkan aktivitas sosial ekonomi akan terhambat atau mungkin dapat berhenti. Walau ke depan dikembangkan berbagai energi alternatif seperti tenaga nuklir, tenaga air, angin, energi surya, panas bumi, biomassa dan lain-lain, tidak akan serta merta mampu menggantikan posisi minyak bumi, yang mana manusia sudah sangat tergantung dua abad terakhir ini. Selain itu minyak bumi saat ini dipergunakan 80 persen untuk roda kehidupan manusia di muka bumi. 

Kebutuhan akan makanan menjadi perhatian di masa mendatang. Teori Malthus mungkin ada benarnya, bahwa pertumbuhan umat manusia akan jauh melampaui pertumbuhan jumlah makanan. Kekuatiran itu terjawab dengan diterapkan revolusi hijau melalui peningkatan hasil panen. Namun kekuatiran baru muncul, apakah revolusi hijau mampu menyediakan kebutuhan makanan bagi umat manusia yang telah mencapai angka 7 milyar orang dan tentunya akan terus bertambah. Hal ini terlihat dari penyempitan lahan pertanian yang terdesak oleh kepentingan sektor industrial, pembangunan perumahan dan perluasan kota yang masif, tingkat pencemaran lingkungan yang tinggi oleh limbah buangan, perubahan iklim akibat peningkatan suhu bumi dari tahun ke tahun sebagai efek rumah kaca, penggunaan pestisida pada pertanian yang membunuh spesies lain yang menganggu keseimbangan ekosistem dan terjadinya kegagalan panen akibat bencana dan masih banyak lagi. Melihat berbagai keadaan di atas, pertanyaannya mampukah revolusi hijau menyediakan makanan bagi umat manusia.

http://abel.jerome.free.fr/img/loi-du-liberalisme-darwinisme-social.jpg
Dalam adaptasi dikenal pula teori evolusi yang digagas oleh Charles Darwin, melalui bukunya yang diterbitkan tahun 1859, dengan judul “on the origin of species by means of natural selection”, menekankan aspek seleksi alam sebagai penyebab terjadinya evolusi. Bahwa mahluk hidup yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya secara gradual akan punah, yang tertinggal hanyalah mereka yang mampu beradaptasi dengan melakukan persaingan dengan mahluk hidup lain untuk mempertahankan hidup, pemikiran ini selanjutnya dikenal sebagai Darwinisme Sosial. Adanya keterbatasan sumber daya alam dan jumlah makanan, perubahan lingkungan sosial, bermunculan musuh atau lawan yang saling mencurigai, ego akan eksistensi, terhambatnya daya bereproduksi dan sebagainya akan menciptakan kekacauan (chaos). Perang masa silam baik antar suku maupun antar kerajaan sampai pada perang modern negara bangsa (nation state), serta peperangan yang terus berlangsung dan tak berkesudahan merupakan bukti dari kebenaran Darwinisme Sosial.

Persaingan untuk hidup, memaksa manusia untuk melakukan penaklukan, perampasan, pengrusakan, pembunuhan, dan saling mencurigai demi keberlangsungan eksistensi hidupnya. Persaingan tidak hanya terlembagakan dalam struktural tetapi juga secara kultural yang merata di berbagai aspek kehidupan, baik itu ekonomi, sosial, politik dan budaya. Ini bukanlah pemikiran apriori apalagi pesimisme, tetapi merupakan gambaran kehidupan manusia kelak. Mungkin akhir kehidupan manusia sama seperti zaman dinosaurus yang tidak mampu beradaptasi terhadap tekanan alam serta menimbulkan beban stres yang tinggi dalam lingkungan sosial dan akan membawa umat manusia hapus di muka bumi ini. Kelak kehidupan akan terus berlanjut dengan hadirnya hewan-hewan kecil reptil yang menggantikan dominasi kehidupan manusia, seperti Iguana Merah yang hidup di Kepulauan Kalapagos yang konon kabarnya mampu bereproduksi dengan bertelur di puncak kawah gunung berapi yang sangat panas itu.

diproduksi kembali dari tulisan yang pernah dibuat tahun 2006
dengan pengeditan seperlunya oleh penulis


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;