Rabu, 18 Januari 2012

Globalisasi dan Konsumsi

Globalisasi adalah kata yang begitu akrab dalam kehidupan kita, ditandai dengan berbagai proses modernisasi kehidupan ke arah kemajuan yang sangat signifikan. Hal ini membawa pada prinsip kosmopolitan yaitu seseorang tidak lagi terbatasi oleh sekat teritorial, tapi telah menjadi warga dunia. Dengan demikian setidaknya membawa perubahan prilaku menyeluruh bagi manusia yang hidup di zaman modern ini, namun timbul pertanyaan haruskah demikian.


photo: http://1.bp.blogspot.com/


Tanpa kita sadari bahwa globalisasi yang merupakan motor dari kapitalisme dunia barat telah masuk dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Globalisasi menciptakan kesatuan budaya (monokultur) dalam setiap aspek kehidupan manusia modern. Di sini kita seolah dipaksakan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang sama, model berpakaian yang sama, tontonan yang sama, prilaku yang sama dan sebagainya. Contoh sederhana adalah, produk minuman Coca Cola yang berasal dari negeri Paman Sam, telah menjadi ikon globalisasi, sehingga anda tidak susah payah mendapatkannya, karena hampir di setiap negeri dan sampai polosok desa pun, anda dapat menikmati coca cola. Hal ini ditunjang dengan strategi pemasaran korporat yang mendunia serta mengusung slogan “di mana saja minum coca cola”. Untuk produk makanan telah menjamur berbagai macam makanan cepat saji (fast food), yang turut meramaikan pasar Indonesia. Herannya di negara asal makanan tersebut menyebutnya sebagai makanan sampah (junk food), karena over kalori dan berpotensi menyebabkan beberapa penyakit, toh sangat diminati masyarakat Indonesia. Walhasil kedudukan kapitalisme semakin mantap. Globalisasi membawa perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat yang semula tradisional produktif ke modern konsumtif. Konsumtivistik ini membawa sebuah tata nilai matrealistik yang mempengaruhi pola pikir, sikap dan tingkah laku manusia.

Konsumsi adalah salah satu kegiatan ekonomi selain produksi dan distribusi. Sebagai akhir dari rangkaian proses tersebut, konsumsi dapat diartikan sebagai kegiatan menggunakan barang atau jasa untuk kebutuhan hidup, sedangkan konsumtif lebih diarahkan pada prilaku yang ditunjukkan oleh pemakai, dalam hal ini konsumen. Tanpa disadari setiap harinya kita melakukan konsumsi. Dari pemenuhan kebutuhan pokok sampai pelengkap, yaitu kebutuhan primer (pangan, sandang dan papan), sekunder (barang elektronik, parabotan rumah tangga, kebutuhan sehari-hari) dan kebutuhan tersier (pendidikan, kesehatan, transportasi, wisata, asuransi dan lain-lain).

photo: http://www.toonpool.com/
Dalam mengkonsumsi suatu barang dapat ditinjau dari prespektif keinginan atau kebutuhan. Faktor keinginan inilah yang sering mempengaruhi pola tingkah laku kita. Keinginan tidak mesti dipenuhi, karena tidak menghilangkan eksistensi kita sebagai manusia. Sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang sangat diperlukan dan mendesak, serta apabila tidak terpenuhi, maka identitas kita sebagai manusia akan hilang. Jika kita disodorkan selembar kertas dan menuliskan semua keinginan kita, maka sampai pada urutan keseratus pun, keinginan lain tetap akan ada. Pertanyaannya mengapa keinginan yang selama ini ada dapat menjadi kebutuhan, hal ini dikarenakan kemampuan pihak-pihak lain, dalam memanipulasi keinginan menjadi kebutuhan yang harus dituntaskan dengan melakukan tindakan konsumsi. Ketika keinginan telah diarahkan menjadi kebutuhan mutlak, maka apabila tidak dipenuhi seolah identitas sebagai manusia akan hilang, yang dapat disamakan dengan kebutuhan akan makan dan minum. Hal ini dapat dibantah, dengan menganggap bahwa kebutuhan yang sebelumnya adalah keinginan sesuai dengan tuntutan zaman yang modern. Namun jika dipikir-pikir kita telah dikendalikan oleh sistem besar kapitalisme yang menguras semua pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income) kita, wajar logika kita hilang dengan adanya berbagai tawaran untuk melakukan konsumsi, dan setelah itu kita sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan yang dimanipulasi oleh kepentingan pihak kapitalisme. Selain itu alasan bahwa tata nilai sosial yang berlaku di masyarakat, yang mana seseorang dipandang dari sisi material yang dimiliki atau yang dikenakan, dan disitulah nilai prestise seseorang dihormati.

Sebagaimana globalisasi menyentuh seluruh kehidupan manusia, maka keluarga sebagai entitas terkecil dari masyarakat dunia pun turut mengambil bagian, yang dimaksudkan di sini adalah keluarga yang terdiri individu-individu yang melakukan konsumsi atas kebutuhan dan keinginannya. Seperti diketahui prilaku konsumtif tidak mengenal batas-batas usia, strata sosial dan sekat-sekat wilayah. Dengan demikian dari manula (manusia lanjut usia) sampai janin yang masih dalam kandunganpun, telah menjadi pasar tersendiri bagi produsen. Karena kita dalam kesatuan budaya sehingga media yang dihadirkan baik itu televisi, majalah dan media promosi lainnya, telah sampai pada setiap rumah tangga keluarga. Sehingga telah mempengaruhi tingkah laku keluarga dalam mengkonsumsi sesuatu. Tak jarang kebutuhan itu hadir, setelah kita menonton tv atau membaca majalah.

Hal yang lain adalah keluarga telah dikonstruk untuk melakukan tindakan semisal hobi berbelanja (shopaholic). Shopping itu sendiri merupakan gaya hidup (life style) masyarakat modern, yang didukung dengan bertebarannya pusat-pusat perbelanjaan di mana-mana, serta hadirnya budaya gesek dengan menggunakan kartu kredit, untuk mempermudah transaksi dan memanjakan penggunanya hanya sekedar untuk berbelanja hingga melintasi negara dan benua. Untuk yang terakhir ini menjadi lahan bagi perbankan untuk mendapatkan benefit, toh akhirnya banyak yang terjebak dan tak mampu membayar tagihan yang menggunung. Dapat dikatakan shopping sebagai ajang rekreasi yang tidak murah. Shopping tak selamanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi untuk keinginan dan kesenangan, dengan merasakan kenikmatan hanya pada saat membeli. Kadangkala produk yang telah dibeli, setelah dibawa pulang ke rumah, dirasa kurang pas, cocok dan penilaian-penilaian lain, yang akhirnya ada penyesalan. Toh barang yang sudah dibeli tak dapat dikembalikan. Sindrom shopping ini banyak menggejala pada anak-anak dan remaja dan tidak menutup kemungkinan ibu-ibu. Dikarenakan anak-anak remaja telah menjadi potensi pasar yang besar, di mana emosi mereka masih labil dan mudah untuk diarahkan. Sehingga rasionalitas untuk melihat sesuatu itu tertutupi hanya untuk kepentingan sesaat. Gaya hidup (life style) telah mengendalikan keinginan sepenuhnya menjadi kebutuhan. Kadang barang yang dibeli, nilai instrisiknya jauh lebih kecil dari nilai nominal uang yang kita keluarkan. Jumlah rupiah yang kita peroleh dengan susah payah ataupun dengan cara yang “mudah” yang dapat diperoleh secara permanen dalam jangka waktu tertentu, dapat segera habis hanya dalam hitungan hari bahkan jam.


photo: http://www.seathos.org/
Nah, kenapa kita perlu menyinggung keluarga, hal ini dikarenakan konsumsi yang dilakukan rumah tangga keluarga merupakan variabel yang sangat menentukan keseimbangan sistem ekonomi secara makro, selain sektor industri dan pemerintah. Konsumsi keluarga secara keseluruhan merupakan kelompok yang terdiri dari individu-individu yang melakukan tindakan konsumsi dalam suatu negara, yang untuk ukuran Indonesia dapat mencapai puluhan juta rumah tangga keluarga. Prilaku konsumtif rumah tangga keluarga di Indonesia, telah menjadi perhatian oleh negara produsen baik dari regional Asia, Eropa hingga Amerika. Selain karena Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar (keempat terbesar di dunia) dan menjadi potensi pasar di Asia Tenggara, diketahui juga tipikal masyarakat Indonesia yang boros bila berbelanja dengan menghambur-hamburkan devisa di luar negeri. Sementara kontras dengan masyarakat Indonesia lain yang bekerja sebagai buruh di luar negeri untuk menghasilkan devisa.

Jika kita menggunakan asumsi Hukum Pareto, bisa dikatakan bahwa 20 persen penduduk Indonesia adalah kelas menengah ke atas dan membelanjakan total 80 persen kebutuhan konsumsi nasional untuk sektor rumah tangga dan sebaliknya 80 persen penduduk Indonesia adalah kelas menengah ke bawah, yang hanya membelanjakan total 20 persen kebutuhan konsumsi nasional untuk sektor rumah tangga. Melihat asumsi tersebut diketahui bahwa, jumlah rumah tangga keluarga kelas menengah ke atas yang jumlahnya sedikit mampu membelanjakan prosentase terbesar kebutuhan konsumsi nasional. Namun demikian prilaku konsumtif yang semula hanya di monopoli oleh kaum kelas menengah ke atas, lama-kelamaan telah menyebar ke kelas menengah ke bawah yang cenderung dipaksakan. Prilaku konsumtif mencakup seluruh lapisan masyarakat. Prilaku konsumtif tidak sepenuhnya berasal dari diri pribadi kita, namun juga dapat dimanipulasi oleh para marketer, sebutan bagi para tenaga profesional yang memasarkan produk atau jasa. Bahwasahnya semua produk yang ditawarkan punya alur hidup (life cycle) yang mulai dari produk itu diperkenalkan, akan tumbuh, matang dan usang dipasaran. Siklus inilah yang memaksa marketer untuk mempertahankan posisi guna menghindari kejenuhan pasar dengan menggunakan berbagai strategi. Strategi yang acap kali digunakan yaitu menghadirkan model-model terbaru, selain itu dengan berbagai tipe, ukuran, warna, kemasan, content, strategi discount, cuci gudang, limited production, limited edition dan masih banyak lagi. Dengan demikian konsumen tertipu dan akan melakukan pembelian secara berulang-ulang.

Jika dilihat dari konteks makro, konsumsi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun bahwa konsumsi yang berlebihan akan mengakibatkan rapuhnya pondasi ekonomi nasional. Di mana terjadi ketidakseimbangan neraca pembayaran, ditandai dengan impor lebih besar dari pada ekspor. Selain itu konsumsi akan mendorong pembangunan pusat perbelanjaan, yang akan menganggu basis ekonomi lokal dan secara non fisik menciptakan kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Konsumsi juga dapat menghambat pemupukan modal karena tingkat tabungan nasional yang rendah yang diakibatkan karena volume konsumsi yang sangat besar dan memacu permintaan akan utang, sehingga bukan hanya rendah tetapi sudah minus.

Dalam kehidupan keluarga, kita mengenal konsep “semuanya bisa diselesaikan di meja makan”. Oleh karenanya keluarga perlu berkumpul untuk bagaimana mengendalikan prilaku konsumtif yang disadari maupun tidak disadari, karena kita manusia biasa yang sering kali tergoda akan sesuatu. Menurut para pakar keuangan beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, melakukan prioritas untuk seluruh kebutuhan keluarga, baik jangka pendek maupun jangka panjang, mana yang mendesak dan mana yang bisa ditangguhkan. Kedua, membedakan mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan. Ketiga, melakukan ekspetasi kedepan dengan menabung, karena menabung untuk mengatasi ketidakpastian di masa depan, misalnya alokasikan pada pendidikan dan kesehatan. Keempat, melakukan konsumsi sesuai kemampuan, untuk menghindari besar pasak dari pada tiang. Karena berutang bukan menyelesaikan masalah. Kelima, membiasakan hidup hemat sedari dini. Ada baiknya keluarga bertindak secara bijak mengatur pengeluaran, karena kecukupan adalah lebih baik dari pada kelebihan.

diproduksi kembali dari tulisan yang pernah dimuat Pos Kupang
 edisi Rabu, 11 Oktober 2006 dengan pengeditan seperlunya oleh penulis

comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;