Minggu, 29 Januari 2012

Ada Teman Menikah!

Siang  tadi saya pergi kondangan teman kerja yang menikah. Uniknya Ia akan menikah untuk yang kedua kalinya, setelah isterinya yang pertama berpulang ke rahmatullah sekitar dua tahun yang lalu. Semula saya mengira Ia akan berlama-lama kembali menikmati masa lajangnya untuk yang kedua kalinya, namun tidak demikian karena Ia telah menikah. Memang niat baik seharusnya dipercepat dan bukan ditunda-tunda lagi. Ia menjadi angka pembagi dan sekaligus pengurang sedangkan saya adalah bilangan pengali dan sekaligus menambah, padahal harapannya bahwa di kantor ini bujang-bujang semakin berkurang dan duda-duda semakin menyusut.


Ia selama ini terbilang selalu menyemangatiku untuk segera menikah, dalam berbagai kesempatan Ia menghadirkan guyonan yang seperti mengamanatkan diktum bahwa Ia dua langkah akan lebih maju dari saya atau dua langkah lebih baik dari saya. Sementara dalam status sekarang  saya sebagai bujang dan Ia sebagai duda, walau saat itu implikasinya hampir sama dan setara, namun rekomendasinya itu memberi warning bagi saya bahwa kelak Ia akan mengungguli saya. Dan benar saja Ia telah menikah dan telah melampaui saya. Saya menghargai usahanya untuk setidaknya mengajak segera mengikuti sunnah Rasul, namun ada narasi besar dalam setiap orang yang belum tertulis sempurna dan menunggu kapan kepastian narasi itu disempurnakan.

Saya sebenarnya harus iri dengan teman yang satu ini, di usianya yang masih muda atau ke-36 tahun sudah dua kali menikah, dan saya belum sama sekali. Kadang saya berpikir untuk melebihi rekornya, namun tidak bermaksud menikah sampai tiga kali atau menikahi dua, tiga atau empat, hehehe. Tapi yah sudah lah biarkan hidup ini mengalir, bukankah air memiliki liquid yang tinggi…., akan terbawa pada alur-alur yang terbentuk atau dengan sedikit gerak bumi akan membentuk alur-alurnya sendiri dan itulah hidup. Hidup bukan dalam arti menunggu namun menunggu itulah yang sesungguhnya hidup, yang akan dinikmati, diresapi dan membawa kita pada kebijaksanaan tertinggi, mungkin dengan atau tanpa, tetapi saya berharap dengan!!!

Seraya mengucapkan “selamat menempuh kehidupan yang baru untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah dalam lindungan Allah SWT, amien….”

Sore, 29 Januari 2012


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kolam Inspirasi

 
;