Minggu, 14 Oktober 2012

Mengunjungi Komunitas Bambu


Buku terbitan koleksi penerbit
Pada pertengahan bulan lalu, saya menyempatkan berkunjung ke Komunitas Bambu yang terletak di Depok, Jawa Barat. Komunitas Bambu yang kemudian disingkat menjadi KOBAM, telah dikenal sebagai sebuah lembaga penerbitan buku yang secara khusus menggarap buku-buku ilmu pengetahuan sejarah, budaya dan humaniora. Kehadiran penerbitan ini menambah khazanah keilmuan terkhusus bertemakan sejarah bangsa. Penerbit Kobam didukung dengan jaringan distribusi buku yang luas, sehingga memudahkan menemukan buku terbitan Kobam di berbagai toko buku, termasuk di Toko Buku Gramedia se-Indonesia dan jaringan toko buku online.
  
Sejak didirikan oleh JJ Rizal tahun 1998, Komunitas Bambu secara bertahap mengalami perkembangan dan pada tahun 2005, membentuk unit penerbitan Masup Jakarta yang khusus menerbitkan buku-buku sejarah dan sastra Jakarta, kemudian disusul dengan penerbitan Ka Bandung yang fokus pada penerbitan buku-buku bertema Jawa Barat, lalu penerbitan Mushaf untuk menerbitkan buku tema Islam dan kemudian penerbitan Ruas untuk tema umum lainnya. Beberapa unit penerbitan tersebut tergabung dalam Kelompok Penerbit Kobam (KPK). Kini sudah ratusan lebih buku yang telah diterbitkan Kobam melalui unit-unit penerbitannya dan prestasinya adalah ketika di tahun 2011 mendapatkan penghargaan Jakarta Book Awards IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) sebagai dedikasi “share knowledge and change lives through books”.

Suasana kantor Kobam
 
 
Tokoh dibalik kesuksesan Komunitas Bambu adalah sang pendiri JJ Rizal, seorang tokoh muda yang saat ini sering muncul sebagai nara sumber pada media televisi dan radio serta melalui tulisan-tulisannya di berbagai media cetak. Kapasitasnya sebagai sejarahwan muda tak diragukan karena ia menguasai tema-tema sejarah baik dalam tataran lokal hingga nasional, dari hal-hal sepele yang terabaikan hingga hal-hal serius dalam sejarah. Ia adalah tokoh yang mampu membawa tulisan sejarah menjadi hal yang menarik, tidak kaku seperti tulisan sejarah pada buku-buku pelajaran sekolahan, yang cendrung lebih sebagai materi hapalan dibandingkan mendorong untuk berpikir dan berpikir lebih kritis. Karena bagaimanapun sejarah masa lalu dapat terbawa menyentuh ke konteks kehidupan kekinian dan sekaligus  gaya hidup, sehingga sejarah dapat menyentuh ke ranah yang lebih popular. Selain itu Ia menekankan akan kesadaran historis, karena sejarah seringkali didistorsi untuk kepentingan tertentu.


Buku yang diborong

Dalam kesempatan kunjungan tersebut saya mendaftar nama di buku tamu dan kemudian memborong beberapa buku. Buku ditawarkan dengan diskon yang lumayan besar jika langsung berkunjung ke Penerbit Kobam. Kini sudah puluhan buku Kobam yang menjadi koleksi saya, sebuah wujud dari kecintaan akan buku. (*)


Kupang, 14 Oktober 2012
©daonlontar.blogspot.com


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang pasti akan menuliskan apa ada yang ada di pikiran dan perasaannya.. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;