Senin, 08 Oktober 2012

Name is Nama



Picture: http://john.ellingsworth.org/

“Apalah arti sebuah nama?, Apa yang kita sebut mawar dengan kata apapun, keharumannya akan sama saja...” (William Shakespeare, dalam Romeo dan Juliet)

Kalimat milik pujangga Shakespeare yang dilantunkan oleh Juliet, sepertinya telah menjadi trade mark di abad modern ini, entah dengan nada sinis atau bukan. Sentilan ini setidaknya memacu kita untuk mengerti dan memahami sejauh mana arti sebuah nama. Nama secara kontekstual adalah identitas non fisik pertama yang diterima manusia setelah dilahirkan, selain identitas fisik seperti ras, jenis kelamin dan ciri-ciri fisik lainnya. Tak berlebihan jika seorang bayi yang dilahirkan dengan nama yang telah dipersiapkan dan diberikan adalah sosok manusia yang didoakan dan dinantikan kehadirannya dalam keluarga. Sedangkan di sekitar kita masih banyak bayi yang tidak pernah diharapkan kehadirannya, yang tentu namanya tak akan pernah diberikan. Nama adalah doa orang tua, demikianlah pembelaan terbaik dari sindiran Shakespeare.

Begitu penting arti sebuah nama, sehingga Tuhan pun perlu untuk memperkenalkan diri dengan nama-Nya melalui agama-agama samawi (langit), sebagai rasa bentuk cinta-Nya kepada umat manusia. Jika seandainya Tuhan tidak memperkenalkan nama-Nya, maka umat manusia akan diliputi kekalutan tentang kehidupan ini, hal ini juga dikarenakan pemikiran filsafat hanya sampai pada konsep causa prima, tanpa mengetahui siapa sesungguhnya causa prima tersebut. Dengan adanya nama Tuhan, kian mempertegas keberadaan antara pencipta dan ciptaan serta kelak akan ke mana seluruh kehidupan alam raya ini.

picture: http://www.psdgraphics.com
Nama juga adalah problema penunjukan yang dialamatkan kepada benda baik yang berwujud maupun abstrak dan sesuatu yang hidup (manusia, hewan dan tumbuhan). Nama adalah spesial bagi manusia untuk membedakan antara seseorang dengan orang lain dan mampu membuat kita menoleh, ketika nama kita disebut. Penamaan adalah bagian awal dari peradaban, dari sebuah budaya sederhana hingga kompleks, menggunakan nama sebagai perantaraan pemahaman. Nama selain menjadi indikator sosialogis dalam tatanan nilai di masyarakat, nama kini telah menjadi indikator ekonomis. Salah satu indikator ekonomis yang kuat terhadap nama adalah penggunaannya sebagai pencitraan yang dikonstruksi dari sebuah image yang saat ini lebih dikenal sebagai merek atau label. Tercatat ada beberapa merek yang telah merajai pasar diantaranya Microsoft, Nokia, CocaCola, Mc Donald dan lain-lain. Bahkan merek mereka akan jauh lebih berharga dibandingkan dengan seluruh aset dan jaringan yang dimiliki.

Dalam budaya masyarakat saat ini, nama merek menjadi pilihan yang absolut walau dalam mekanisme yang apriori. Apa lagi gencarnya iklan-iklan yang diekspos berbagai media, turut mempengaruhi kita untuk memutuskan melakukan pilihan dan pembelian. Alternatif pilihan itu semakin banyak dan dimenangkan oleh merek-merek mapan yang disain iklannya mampu terpatri dalam pikiran kita. Begitu terobsesi dengan merek, kita akan selalu berusaha untuk mendapatkannya, walaupun merek tersebut telah dimanfaatkan pihak lain dengan dipalsukan. Merek seakan telah memberikan garansi kualitas bagi pemiliknya, tak heran bila busana yang dikenakan, kendaraan yang kita miliki, perangkat elektronik dan perabotan rumah tangga kita terdiri dari merek-merek kelas dunia. Hebatnya merek sehingga kematian bunuh diri seorang musisi besar Kurt Cobain, tampak merek-merek produk disekitarnya ditonjolkan seperti mengenakan Celana Levis, Sepatu Converse, setelah menonton Mtv, merokok Camel Lights dan meminum Roof Beer merek Braq’s.


picture: http://kokoamag.com

Mungkin di satu sisi kita perlu sepakat dengan Shakespeare. Bahwa merek seperti BMW, Rolex, Armani, dan Vertu dalam pandangan Shakespeare tetaplah sebuah mobil, jam, gaun, dan telepon seluler, tidak lebih dari itu, karena masing-masing memiliki fungsi yang sama dengan barang sejenisnya, yang membedakan hanyalah nama. Adalah lebih baik tidak perlu membeli satu buah Mobil BMW, kalau dapat membeli sepuluh mobil sejenis. Dengan membebaskan cara berpikir dapat menghindari kita terjebak oleh persaingan merek sehingga yang terpenting bukanlah merek atau label, melainkan esensi dari barang itu sendiri. Sungguh pemikiran seorang pujangga di abad ke-16, sangat relevan dengan kehidupan di abad ke-21 ini.

Nama adalah anugerah, begitulah kira-kira pernyataan yang tepat kepada orang-orang yang namanya lebih abadi dari pada jasad mereka yang pupus. Mereka itu adalah orang-orang yang telah melakukan hal besar terhadap dunia seperti nabi, pemikir, penemu, pahlawan dan penyair. Namun sayang nama mereka hanya berkutat dalam sejarah dan mulai dilupakan generasi sekarang. Diantaranya nama-nama seperti Gandhi, Malcolm-X, Bunda Theresia, yang telah melakukan perjuangan kemanusiaan kalah tenar dibandingkan dengan Madonna, Hugh Hefner dan Versace dengan corak kehidupan glamor.

Nama selain sebagai identitas juga sebagai ikon, entah ikon produk ekonomis, politik, sosial atau budaya. Bahkan saat ini orang cenderung mengganti namanya agar terbilang komersial di pasaran dan tak jarang telah ada yang mematenkannya. Semuanya ingin membentuk raputasi untuk bisa mencapai atau sampai lebih dahulu pada popularitas. Bagaimana jika nama sebagai ikon politik, bagi Kim Il Sung mantan penguasa Korea Utara yang dikenal sebagai negara satalinis, nama itu penting untuk pengkultusan diri. Kim melakukan kampanye yang unik, yaitu semua permasalahaan yang ada di Korea, harus selalu menyangkutkan namanya. Dalam sebuah koran terbitan Pyongyang, terdapat lebih dari 240 kali nama Kim tertulis, rata-rata 40 kali untuk setiap halaman. Inipun berlaku pada koran yang lain, sehingga mau tak mau orang Korea harus membaca kebesaran nama Kim.

Nama juga sanggup memusingkan negara seperti Tiongkok, karena hampir ratusan juta penduduknya memiliki nama marga yang sama, sehingga surat nyasar dan paket salah kirim adalah hal biasa di Tiongkok. Nama seharusnya menjadi pembeda seseorang dengan orang lain, namun yang terjadi di Tiongkok justru penyeragaman nama. Jika kita melihat konteks dunia, entah berapa banyak nama yang ada, nama sendiri adalah perwakilan dari gender, ras, bahasa, budaya dan sejarah, sehingga nama memberikan karakter bagi penyandangnya sebagai kemajuan peradaban masa lalu dan ekspetasi peradaban masa depan, dengan demikian nama butuh kajian antropologis yang lebih mendalam.

diproduksi kembali dari tulisan yang pernah dibuat tahun 2007
dengan pengeditan seperlunya oleh penulis


comments

Catatan....!!!

Menulis bukan bakat, tetapi kemauan. Dalam kisah setiap orang yang bersentuhan dengan pendidikan akan mengawali dengan belajar menuliskan namanya masing-masing untuk pertama kalinya. Guratan pertama mungkin bengkok, kaku bahkan menciptakan satu abjad baru. Secara perlahan menulis mengantarkan seseorang menuju pencerahan, karena menulis membuat orang membaca dan sebaliknya membaca membuat orang menulis. Menulis merupakan pembelajaran, dan tidak hanya sekumpulan kalimat tetapi merupakan sekumpulan nilai dan makna. Kini cara menulis tidak lagi menggunakan pahat dan batu, tongkat dan pasir atau dengan kemajuan teknologi tidak lagi dengan tinta dan kertas tetapi sudah beranjak pada keyboard dan screen. Banyak kisah dan sejarah masa lalu yang tidak terungkap, karena tak ada yang mencatatnya atau bahkan lupa untuk mencatatnya. Mengutip kalimat singkat milik Pramoedya Anantatoer, “hidup ini singkat, kita fana, maka aku akan selalu mencatatnya! Agar kelak abadi di kemudian hari…” Catatan adalah sebuah kesaksian dan kadang juga menjadi sebuah pembelaan diri. Seseorang pernah memberiku sebuah diary, dengan sebuah catatan yang terselip. Kelak aku akan mengembalikannya dalam keadaan kosong karena aku telah mencatatnya di sini….!!!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
;