![]() |
Picture: http://john.ellingsworth.org/
|
“Apalah
arti sebuah nama?, Apa yang kita sebut mawar dengan kata apapun, keharumannya
akan sama saja...” (William Shakespeare, dalam Romeo dan Juliet)
Kalimat milik pujangga Shakespeare yang
dilantunkan oleh Juliet, sepertinya telah menjadi trade mark di abad modern ini, entah dengan nada sinis atau bukan.
Sentilan ini setidaknya memacu kita untuk mengerti dan memahami sejauh mana arti sebuah nama. Nama
secara kontekstual adalah identitas non fisik pertama yang diterima manusia
setelah dilahirkan, selain identitas fisik seperti ras, jenis kelamin dan
ciri-ciri fisik lainnya. Tak berlebihan jika seorang bayi yang dilahirkan
dengan nama yang telah dipersiapkan dan diberikan adalah sosok manusia yang
didoakan dan dinantikan kehadirannya dalam keluarga. Sedangkan
di sekitar kita masih banyak bayi yang tidak pernah diharapkan kehadirannya,
yang tentu namanya tak akan pernah
diberikan. Nama adalah doa orang tua, demikianlah pembelaan terbaik dari
sindiran Shakespeare.
Begitu penting arti sebuah nama, sehingga Tuhan pun perlu
untuk memperkenalkan diri dengan nama-Nya melalui agama-agama samawi (langit),
sebagai rasa bentuk cinta-Nya kepada umat manusia. Jika seandainya Tuhan tidak memperkenalkan
nama-Nya, maka umat manusia akan diliputi kekalutan tentang kehidupan ini, hal
ini juga dikarenakan pemikiran filsafat hanya sampai pada konsep causa prima, tanpa mengetahui siapa
sesungguhnya causa prima tersebut.
Dengan adanya nama Tuhan, kian mempertegas keberadaan antara pencipta dan
ciptaan serta kelak akan ke mana seluruh kehidupan alam raya ini.
![]() |
picture: http://www.psdgraphics.com |
Nama juga adalah
problema penunjukan yang dialamatkan kepada benda baik yang berwujud maupun
abstrak dan sesuatu yang hidup (manusia, hewan dan tumbuhan). Nama adalah
spesial bagi manusia untuk membedakan antara seseorang dengan orang lain dan
mampu membuat kita menoleh, ketika nama kita disebut. Penamaan adalah bagian
awal dari peradaban, dari sebuah budaya sederhana hingga kompleks, menggunakan
nama sebagai perantaraan pemahaman. Nama selain menjadi indikator sosialogis
dalam tatanan nilai di masyarakat, nama kini telah menjadi indikator ekonomis.
Salah satu indikator ekonomis yang kuat terhadap nama adalah penggunaannya
sebagai pencitraan yang dikonstruksi dari sebuah image yang saat ini lebih dikenal
sebagai merek atau label. Tercatat ada beberapa merek yang telah merajai pasar
diantaranya Microsoft, Nokia, CocaCola,
Mc Donald dan lain-lain. Bahkan merek mereka akan jauh lebih berharga dibandingkan
dengan seluruh aset dan jaringan yang dimiliki.
Dalam budaya masyarakat saat ini, nama merek menjadi
pilihan yang absolut walau dalam mekanisme yang apriori. Apa lagi gencarnya
iklan-iklan yang diekspos berbagai media, turut mempengaruhi kita untuk
memutuskan melakukan pilihan dan pembelian. Alternatif pilihan itu semakin
banyak dan dimenangkan oleh merek-merek mapan yang disain iklannya mampu
terpatri dalam pikiran kita. Begitu terobsesi dengan merek, kita akan selalu
berusaha untuk mendapatkannya, walaupun merek tersebut telah dimanfaatkan pihak
lain dengan dipalsukan. Merek seakan telah memberikan garansi kualitas bagi
pemiliknya, tak heran bila busana yang dikenakan, kendaraan yang kita miliki,
perangkat elektronik dan perabotan rumah tangga kita terdiri dari merek-merek
kelas dunia. Hebatnya merek sehingga kematian bunuh diri seorang musisi besar
Kurt Cobain, tampak merek-merek produk disekitarnya ditonjolkan seperti
mengenakan Celana Levis, Sepatu Converse, setelah menonton Mtv, merokok Camel Lights dan meminum Roof
Beer merek Braq’s.
![]() |
picture: http://kokoamag.com |
Mungkin di satu sisi kita perlu sepakat dengan Shakespeare. Bahwa merek seperti BMW, Rolex, Armani, dan Vertu dalam pandangan Shakespeare tetaplah sebuah mobil, jam, gaun, dan telepon seluler, tidak lebih dari itu, karena masing-masing memiliki fungsi yang sama dengan barang sejenisnya, yang membedakan hanyalah nama. Adalah lebih baik tidak perlu membeli satu buah Mobil BMW, kalau dapat membeli sepuluh mobil sejenis. Dengan membebaskan cara berpikir dapat menghindari kita terjebak oleh persaingan merek sehingga yang terpenting bukanlah merek atau label, melainkan esensi dari barang itu sendiri. Sungguh pemikiran seorang pujangga di abad ke-16, sangat relevan dengan kehidupan di abad ke-21 ini.
Nama adalah anugerah, begitulah kira-kira pernyataan yang
tepat kepada orang-orang yang namanya lebih abadi dari pada jasad mereka yang
pupus. Mereka itu adalah orang-orang yang telah melakukan hal besar terhadap
dunia seperti nabi, pemikir, penemu, pahlawan dan penyair. Namun sayang nama
mereka hanya berkutat dalam sejarah dan mulai dilupakan generasi sekarang.
Diantaranya nama-nama seperti Gandhi, Malcolm-X, Bunda Theresia, yang telah
melakukan perjuangan kemanusiaan kalah tenar dibandingkan dengan Madonna, Hugh
Hefner dan Versace dengan corak kehidupan glamor.
Nama selain sebagai identitas juga sebagai ikon, entah
ikon produk ekonomis, politik, sosial atau budaya. Bahkan saat ini orang
cenderung mengganti namanya agar terbilang komersial di pasaran dan tak jarang
telah ada yang mematenkannya. Semuanya ingin membentuk raputasi untuk bisa
mencapai atau sampai lebih dahulu pada popularitas. Bagaimana jika nama sebagai
ikon politik, bagi Kim Il Sung mantan penguasa Korea Utara yang dikenal sebagai
negara satalinis, nama itu penting untuk pengkultusan diri. Kim melakukan
kampanye yang unik, yaitu semua permasalahaan yang ada di Korea, harus selalu
menyangkutkan namanya. Dalam sebuah koran terbitan Pyongyang, terdapat lebih
dari 240 kali nama Kim tertulis, rata-rata 40 kali untuk setiap halaman. Inipun
berlaku pada koran yang lain, sehingga mau tak mau orang Korea harus membaca
kebesaran nama Kim.
Nama juga sanggup memusingkan negara seperti Tiongkok,
karena hampir ratusan juta penduduknya memiliki nama marga yang sama, sehingga
surat nyasar dan paket salah kirim adalah hal biasa di Tiongkok. Nama
seharusnya menjadi pembeda seseorang dengan orang lain, namun yang terjadi di
Tiongkok justru penyeragaman nama. Jika kita melihat konteks dunia, entah
berapa banyak nama yang ada, nama sendiri adalah perwakilan dari gender, ras,
bahasa, budaya dan sejarah, sehingga nama memberikan karakter bagi
penyandangnya sebagai kemajuan peradaban masa lalu dan ekspetasi peradaban masa
depan, dengan demikian nama butuh kajian antropologis yang lebih mendalam.
diproduksi kembali dari tulisan yang pernah dibuat tahun
2007
dengan pengeditan seperlunya oleh penulis