photo: whatjesusdid.org
Dahulu
sewaktu masih bersekolah dasar di Kota Kupang, saya sering mendengar istilah telinga swasta. Telinga swasta diartikan sebagai kemampuan
mendengar yang kurang. Jika ada teman
yang butuh
hingga dua kali atau lebih mengulang omongan yang kita sampaikan, maka cap memiliki telinga swasta, sudah kita berikan
kepadanya. Dalam bahasa baku, kita tidak akan menemukan kosakata demikian,
karena hanya menjadi guyonan kita di masa tersebut yang hingga kini masih dipakai
dalam kosa kata bahasa Kupang. Mungkin karena di masa tersebut yang dinamakan dengan
sekolah
dan instansi swasta masih kalah jauh dengan sekolah dan instansi negeri yang lebih maju, sehingga sebutan swasta menjadi label kelas dua. Namun kini telah berubah jauh, di mana-mana kecenderungan sekolah swasta
dan perusahaan swasta jauh lebih baik dibandingkan negeri.














- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact